KWI

Akar Munculnya Krisis Ekologi, Keserakahan

AKAR manusiawi terjadinya krisis ekologi adalah keserakahan, cara pandang yang salah terhadap buni dan alam. “Kultur dan sistem sosial ekonomi yang melahirkan neoliberalisme serta pasar bebas juga mendukung terjadinya krisis,”ujar Pendeta Penrad Siagian dari Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) dalam Festival “Climate Change” di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, 4 Februari 2016.

Karena itu, Penrad menyarankan agar dibangunlah eko-teologi dan etika lingkungan hidup dengan terus menanamkan dan menghayati paradigma konservasi dan bukannya konsumtivisme, kebutuhan dan bukan keserakahan, pemberdayaan kekuasaan dan bukan dominasi kekuasaan serta keutuhan ciptaan dan bukan eksploitasi alam.

“Revolusi spiritualitas harus menekankan beberapa hal, seperti pemaknaan kembali hubungan antara manusia dengan ciptaan (Kejadian 1: 10.12.18.21.25), menyadari bahwa alam adalah konteks spiritual, eko-spiritual dalam semangat mengasihi bumi (1Kor 13;2), edukasi untuk membangun kecerdasan ekologis dengan bahan-bahan ajar yang dibawakan di Sunday Shool (sekolah minggu),”tegas Penrad.

Gereja, menurut Penrad harus menjadi Sahabat Alam dengan paradgima 5S dan 4R. 5S maksudnya Solidarity, Save, Share,Shift, dan Sustainability. Sementara 4R adalah adalah Repent, Restraint, Respect, dan Responsible. Ini merupakan pengembangan dari Reuse, Reduce, Replace, dan Recycle, kata Penrad.

Selain Penrad, tampil para pembicara dari berbagai pakar lingkungan agama lain seperti Prof. Dr. Din Syamsuddin MA (Siaga Bumi), Dr. Sudjito, MBA (Walubi), PC. Siswantoko Pr (KWI), Wayan Suwisma (PHDI), KH. Dr. Mochamad Maksum (PBNU), dan Uung Sendana (Matakin).

Tags

Related Articles

error: Content is protected !!
Close