HarianJendela Alkitab

Renungan Harian │Minggu Pekan Prapaskah IV (U)│06 Maret 2016 St. Marsianus; St. Hesikios,│Yos. 5:9a.10-12, Luk.15:1-3.11-32│

Luk 15:1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.

Luk 15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

Luk 15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:

Luk 15:11 Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.

Luk 15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

Luk 15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

Luk 15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.

Luk 15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.

Luk 15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.

Luk 15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

Luk 15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,

Luk 15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Luk 15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Luk 15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.

Luk 15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.

Luk 15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.

Luk 15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.

Luk 15:25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.

Luk 15:26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.

Luk 15:27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.

Luk 15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.

Luk 15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.

Luk 15:30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.

Luk 15:31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.

Luk 15:32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Renungan

Kisah si bungsu adalah gambaran bahwa manusia bisa jatuh dalam dosa, bahkan dosa terberat. Terlena dengan kenikmatan duniawi dan merasa diri bebas menggunakan apa saja yang dimiliki, tanpa menyadari Sang Bapa sebagai pemilik segalanya, membuat si bungsu jauh dari Bapa dan jatuh melarat akibat dosanya. Untung saja ia segera menyadari keadaannya, lalu bangkit dan pergi ke rumah Bapanya. Ia mau masuk kembali dalam kelimpahan dan kesejahteraan keluarga asalnya, tak peduli menjadi orang upahan sekalipun. Pendek kata, ia bertobat. Dengan penuh kerahiman, Bapa menerimanya. Bahkan Bapa memestakannva dengan sukacita.

Demikian halnya akan terjadi pada kita jika kita mau bertobat. Allah Bapa  kita itu maharahim.Ia selalu membuka tangan-Nya kepada siapa saja yang mau bertobat. Kerahiman-Nya tercurah kepada setiap orang yang mau kembali kepada-Nya. Mari kita menyadari diri, apakah kita sudah jauh dari Tuhan? Semoga kita tergerak untuk kembali kepada-Nya dalam pertobatan sejati.

Ya Tuhan, tuntunlah aku menuju pertobatan agar aku bisa merasakan sukacita bersama-Mu. Amin.

====

Sumber: Ziarah Batin 2016

Kredit Foto: Perumpamaan tentang Anak yang hilang pulang kembali, www.aitc.sk.ca

Tags

Related Articles

Close