Bertandang di Desa Adat Bawomataluo

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

MEMASUKI Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara Tim Komsos KWI dari Jakarta, Keuskupan Medan dan Sibolga yang menyertai Mgr. Ludovicus Simanulang OFMCap dan Sekretaris Eksekutif Komsos KWI mesti berolahraga sedikit dengan menaiki 137 anak tangga dari batu.

Mentari menyengat panas di kulit tak terasa saat beberapa ksatria menyambut para tamu mengiringi Kepala Suku Desa Adat alias Si’ulu. Rasa ingin tahu yang luar biasa pada sebagian besar tamu mengalahkan cuaca yang sangat terik Rabu (4/5/2016) pagi itu. Inilah hari ketiga Pekan Komunikasi Sosial Nasional Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN KWI) 2016.

Desa Adat Bawomataluo tak mungkin lepas begitu saja dari perhatian. Sejak datang ke Telukdalam di Nias Selatan, Tim Komsos KWI sudah disambut dengan tarian perang Fataele dan Mogaele yang lahir di desa yang berarti “Bukit Matahari” ini. Apalagi sejak 2009, Desa ini sudah didaftarkan di World Heritage di UNESCO sebagai warisan budaya dari Indonesia.

rumahadat1

Tari Perang Fataele, terasa lebih menggelegar / Foto : Abdi Susanto

Di gerbang desa, sejauh mata memandang, deretan rumah khas Nias Selatan tampak berjejer dengan atap yang sudah mengalami modernisasi beratap seng. “Dulunya beratap rumbia,”ujar Cornelius, salah satu warga desa. Satu rumah besar setinggi 40 meter tampak berdiri di tengah-tengah desa yang berbentuk cross alias salib. Omo Sebua sebutan untuk rumah kepala adat yang dibuat pada tahun 1835 ini berada di kepala salib. Di depan rumah besar yang dibangun tanpa paku kegiatan penyambutan berlangsung.

Upacara penyambutan dimulai. Tari perang yang disebut dengan Tari Fataele ditampilkan dengan seruan semangat yang lebih gagah, meriah dan membahana oleh ratusan prajurit dewasa. Pakaian pelindung dari berbagai bahan antara lain kulit kayu, ijug, dan buah oyong (gambas) yang dikeringkan serta kalung, pedang dan tombak besi memberi suasana perang sesungguhnya.

Ada empat sesi tarian utama. Sesi pertama, tarian latihan perang diiringi dengan seruan pembangkit semangat dari para prajurit penyemangat. Selanjutnya, sesi kedua, ratusan prajurit menjadi dua kelompok yang berhadapan satu sama lain sebagai musuh. Perang pun dimulai. Dan sesi ketiga dilanjut dengan lompat batu setinggi 2 meter lebih. Yang ketiga, para penari perempuan menyajikan tarian Mogaele memberikan kapur sirih dan pinang kepada para tamu.

pengalungan rompi

Kepala Suku Desa Adat Bawomataluo memasang rompi perang pada Sekretaris Eksekutif Komsos KWi RD Kamilus Pantus/ Foto : Abdi Susanto

Share.

About Author

Abdi Susanto

Pendiri Sesawi.Net dan Managing Editor di Liputan6.com

Comments are closed.