Filosofi Akar dan Sabda yang Sedang Mencari Daging

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

APAKAH Gereja Katolik dalam hal ini Komisi Pengembangan Ekonomi Sosial (PSE) sebagai salah satu perangkat keuskupan bisa melakukan mujizat? Pertanyaan menggelitik ini disampaikan RD  Teguh Santoso kepada peserta seminar pada hari ketiga Pekan Komunikasi Sosial Nasional Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN KWI) 2016.

“Setiap orang yang mengasihi Allah tentu bisa melakukan mujizat. Lalu bagaimana seseorang itu dapat melakukan mujizat? Apakah PSE bisa melakukan mujizat? Apakah pastor, suster, frater, dan bapak ibu sekalian bisa melakukan mujizat?” tanya RD F.A. Teguh Santoso, Sekretaris PSE Konferensi Waligereja Indonesia, Rabu (3/5/2016) di Aula Santa Maria, Gunung Sitoli, Nias Sumatera Utara.

Pesta perkawinan di Kana menjadi mujizat pertama yang dilakukan Yesus. Sekalipun belum tiba waktunya bagi Yesus namun Maria yang ketika itu sedang berjalan-jalan di tengah pesta melihat pelayan dan pemilik rumah kebingungan karena kehabisan anggur. Maria tidak tinggal diam. Rasa kepedulian inilah yang menjadi awal terjadinya mujizat.

“Apa yang terjadi jika Bunda Maria tak memiliki rasa kepedulian? Mujizat itu pasti tak akan terjadi.”lanjut pastor dari Keuskupan Purwokerto ini.

Yang kedua, apa yang dilakukan oleh Maria setelah melihat kebingungan sang pelayan dan pemilik rumah, lalu Maria datang kepada putranya yang ia tahu memiliki kuasa. Keyakinan bahwa sang putra memiliki kuasa untuk melakukan mujizat, sekalipun Yesus berkata waktunya belum tiba, namun keyakinan dan daya juang yang tinggi yang dimiliki Maria membuat Yesus melakukannya.

“Kepedulian kepada sesama, keyakinan atau kepercayaan kepada Yesus yang adalah anak Allah, serta daya juang yang tinggi mampu membuat kita semua yang ada di sini dapat melakukan mujizat” terang Romo Teguh.

Faktor berikutnya adalah ketaatan. Yaitu bagaimana para pelayan mengikuti apa yang diperintahkan Yesus tanpa membantah. Melakukan apa yang difirmankan Yesus. Maka Mujizat pun terjadi hari itu.”lanjut romo Teguh.

Filosofi akar

Romo Teguh juga menegaskan beda PSE, LSM dan pemerintah. Pemerintah memiliki uang untuk membangun gedung atau pasar, LSM mendapat uang dari pihak lain untuk membantu orang lain. Yang hasilnya adalah bangunan secara fisik. Sedangkan Gereja dalam hal ini PSE yang dibangun dan dikembangkan adalah manusianya.

Dalam konteks komunikasi, Romo Teguh menjelaskan dari filosofi akar. Romo yang juga seorang insiyur pertanian ini membawa sebuah bibit cabai dalam media tanam (polybag). Lalu Romo menguraikan bagaiamana sebuah bibit cabai kecil itu dapat tumbuh.

Bibit ini dapat tumbuh karena ada kebersamaan atau komunikasi antara akar, tanah, air,serta unsur-unsur lainnya yang ada di dalam tanah ini. Mereka semua dalam kebersamaannya saling berkomunikasi untuk membuat sebuah kehidupan bagi si bibit cabai. Sama seperti Allah yang juga ingin berkomunikasi dengan manusia. Dalam diri Yesus, Allah menyatakan dirinya kepada manusia karena sungguh mencintai manusia.

“Jadi, Firman  telah menjadi daging dalam diri Yesus. Dan Sabda itu sedang mencari daging, yang artinya keselamatan itu nyata dalam kehidupan manusia,“tutup Romo Teguh.

Keterangan Foto : RD Teguh Santoso, sedang menyampaikan wawasan kepada para peserta seminar / Foto : Abdi Susanto

Share.

About Author

Retno Wulandari

Praktisi di bidang Public Relation, Tim Komsos KWI

Comments are closed.