Mewartakan Injil Lewat Jurnalisme

0

RATUSAN peserta Training Jurnalistik sejak pagi hari memenuhi Aula Santa Maria, Gunung Sitoli Kamis (5/5/2016). Peserta yang terdiri atas mahasiswa STP Dian Mandala, Postulan Kapusin, para suster ini mendapat materi tentang dasar-dasar penulisan jurnalistik dari dua wartawan senior Albertus Margana, Direktur Majalah Hidup dan Gabriel Abdi Susanto, Redaktur Pelaksana Liputan6.com

Training Jurnalistik ini merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh KOMSOS Keuskupan Sibolga dan KOMSOS KWI sebagai bagian dari rangkaian kegiatan perayaan hari Komunikasi Sosial Nasional yang berlangsung di Keuskupan Sibolga 2-8 Mei 2016.

Sebagian besar peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini, terlihat saat Margana membuka pelatihan dengan pertanyaan “Siapakah yang ingin jadi penulis? Siapakah yang ingin jadi wartawan?” tanya A.Margana ketika mengawali pelatihan sesi pertama yang  disambut angkat tangan hampir semua peserta.

Dalam sesi pertama Margana mengenalkan apa itu jurnalistik, dan bagaimana membuat sebuah berita serta hal-hal apa saja yang harus ada dalam sebuah berita.

“Seni mencari, mengumpulkan, mengolah dan menyiarkan berita itulah yang disebut karya jurnalistik. Kempat hal  ini harus dilakukan sebelum menulis berita. Jika satu hal tidak dilakukan maka tidak bisa disebut sebagai karya jurnalistik.”jelas Margana.

Membuat berita namun tidak dimuat di media massa, atau tidak disiarkan di televisi dan radio, maka karya tersebut tidak bisa disebut sebagai karya jurnalistik, lanjut Margana.

Di tengah perkembangan teknologi modern saat ini, siapa saja bisa menjadi seorang jurnlis.  Tak harus bergabung dengan salah satu media massa, atau menjadi jurnalis freelancer, atau koresponden. Tapi cukup berperan dalam citizen journalism (jurnalisme warga). Yaitu kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh orang yang bukan berprofesi sebagai seorang wartawan. Jurnalisme warga saat ini banyak digalakkan oleh hampir semua media massa, terutama media televisi, radio dan media online.

Ini karena jurnalisme dianggap sebagai sumber tercepat dari sebuah berita yang ada di suatu daerah. Dalam hitungan detik sebuah berita di pelosok tanah air dapat disiarkan di media nasional.

“Anda menjadi calon-calon citizen journalism. Hanya dengan modal ponsel Anda bisa mengirim berita, foto, dan hasil liputan di daerah anda dalam waktu cepat dari satu peristiwa.”ajak Margana.

Minat baca rendah

Di tengah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia sekarang ini, Margana mengajak 150  peserta pelatihan jurnalistik untuk belajar menulis. Menurut survey AC Nelson, sebagian besar (80%) waktu yang digunakan oleh orang Indonesia adalah menonton televisi dan sisanya digunakan untuk kegiatan lainnya, termasuk di dalamnya membaca.

Jadi, dalam hal ini kegiatan membaca di kalangan orang Katolik (khususnya Jakarta) sangat minim. Nomer tiga setelah Orang Islam dan Kristen Protestan.

Kepada peserta yang sebagian besar mahasiswa STP Dian Mandala, Postulan Kapusin, serta para suster, Margana menyampaikan bahwa dengan belajar  membaca dan menulis jurnalistik para calon pewarta kabar suka cita dapat menyampaikan pesan Allah kepada umat. Selanjutnya diharapkan terjadi perubahan tindakan, perilaku sesuai dengan yang diinginkan Allah.

“Anda sebagai imam, suster, katekis sebagai pewarta kabar sukacita harus bisa membangkitkan kembali minat baca insan katolik, minat baca alkitab, minat baca buku-buku rohani. Hal ini bisa dilakukan melalui tulisan”ajak mantan wartawan Tempo dan Kontan.

Share.

About Author

Retno Wulandari

Praktisi di bidang Public Relation, Tim Komsos KWI

Comments are closed.