Bahaya Gombalisasi dari Alat Komunikasi

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

MANUSIA zaman sekarang, cenderung fokus pada alat. Kalau alat tidak ada, maka manusia kelimpungan. Konsili Vatikan II dalam Dekrit Inter Mirifica menyebutkan bahwa di antara hal-hal yang mengagumkan (perkembangan dan kemajuan teknologi), kemampuan manusia untuk memanfaatkan media cetak, audio visual, digital justru yang utama.

Demikian disampaikan Uskup Keuskupan Agung Kupang Mgr. Petrus Turang, di Aula Paroki Santa Maria, Gunung Sitoli, Nias, Sabtu (7/5/2016).

Pada Puncak Perayaan Pekan Komunikasi Sosial Nasional Konferensi Waligeraja Indonesia (PKSN-KWI) 2016 ini, Monsinyur Turang menyebutkan, manusia zaman sekarang sudah bisa menguasai dunia hanya lewat jari-jarinya (digitus : jari-jari) berkat majunya alat komunikasi. Namun, pada perayaan hari komunikasi sedunia ke-50 ini, Paus minta agar alat komunikasi itu bisa membawa kita mengungkapkan kerahiman ilahi kepada siapa saja.

“Komunikasi itu mengutamakan dan berpusat pada manusia. Karena itu semangat cinta kasihlah yang harus disampaikan. Kalau tahun lalu kita diminta untuk merenungkan tentang keluarga, sekarang kita diminta untuk berbelas kasih,”ujar mantan Ketua Komsos KWI ini.

Jangan sampai manusia, kata Mgr. Turang, terjebak sehingga terjadilah yang disebut gombalisasi (gombal : kali lap) alat komunikasi atau manusia menjadi korban. Sehingga kerukunan dan perdamaian tak lagi bisa dirasakan.

“Apa yang kita buat dengan alat komunikasi modern akan menentukan siapa diri kita. Untuk itu kita harus mengelola, mengaturnya sehingga berguna bagi kita, membangun sikap persaudaraan dan menularkan ke generasi masa depan,”tegas Mgr. Turang.

Keterangan Foto : Mgr. Petrus Turang (kedua dari kanan), alat komunikasi harus bisa membangun persaudaraan. Foto : Abdi Susanto

Share.

About Author

Abdi Susanto

Pendiri Sesawi.Net dan Managing Editor di Liputan6.com

Comments are closed.