Sikap Orangtua pada Media Baru, Harus Bagaimana?

0

SAAT ini kita dihadapkan pada fakta bahwa terdapat 2 dunia, yakni dunia media mainstream seperti koran, radio dan televisi juga dunia new media yang meliputi media sosial, dan aplikasi.

Media sosial yang didukung teknologi internet kini tengah berkembang sangat cepat dan mampu membuat jarak yang sangat jauh menjadi mudah dijangkau berkat teknologi ini.

Tak ayal ini menciptakan apa yang disebut Global Village dan budaya baru yang disebut budaya digital yang ditandai dengan keinginan selalu berinteraksi, sharing (berbagi), searching (mencari) dan narsis.

“Tentu budaya baru ini bukan berarti tidak baik dan berbahaya. Akan berbahaya apabila, selama hidup dipakai untuk narsis”ujar Direktur Grup Suara Surabaya Errol Jonathans pada seminar bertajuk “Komunikasi dan Kerahiman : Perjumpaan yang Memerdekakan” di Aula Paroki Santa Maria Bunda Para Bangsa, Gunungsitoli, Nias, Sabtu (7/5/2016).

Pada Puncak Pekan Komunikasi Sosial Nasional Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN-KWI) 2016 ini, Errol menegaskan bahwa media sosial dengan segala perlengkapannya tidaklah membahayakan manakala kita dapat menyikapinya dengan baik. Menggunakan sebaik-baiknya untuk memberitakan kabar baik.

“Ada 2 hal yang mesti diwaspadai dalam berkomunikasi melalui media sosial yaitu tidak mudah percaya, cek dan ricek berita apa pun yang ada di medsos, dan jangan mudah menyebarkan atau broadcast berita-berita dari media sosial. Karena bisa saja berita yang kita sebarkan adalah berita kebohongan. Karena sumbernya tidak bisa dipertanggungjawabkan,”jelas Errol.

Dalam konteks komunikasi kerahiman, menurut Errol, hendaknya kita mengomunikasikan kabar baik bukan kabar yang berisi kebohongan.

Lalu, bagaimana sebagai orang tua harus menyikapi hal ini? Menurut Errol, langkah yang bijak adalah tidak antipati terhadap perkembangan new media ini melainkan mesti terjun dan terlibat. Orangtua jangan melarang. Ibaratnya, itu sama saja melarang anak menggunakan pisau.

“Orang tua harus mau belajar tentang new media ini, sehingga dapat mengikuti perkembangan media sosial. Dengan demikian orang tua dan anak dapat duduk bersama berselancar di dunia media baru ini,”terang Errol. Dengan belajar dan tahu, orangtua atau pendidik dapat mengendalikannya.

Satu hal yang tak kalah penting yang bisa dilakukan baik oleh gereja maupun sekolah adalah dengan Media Literasi. Gereja dalam hal ini komisi Komsos atau sekolah dalam hal ini sebagai dunia pendidik, sudah saatnya untuk memasukkannya dalam kurikulum pendidikan.

“Dengan demikian, umat atau anak-anak sekolah akan memperoleh pendidikan yang baik tentang media sosial” tutup Errol.

Share.

About Author

Retno Wulandari

Praktisi di bidang Public Relation, Tim Komsos KWI

Comments are closed.