Mgr. Turang: Inti Komunikasi Sosial Adalah Manusia yang Memiliki Hati

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

SEJAK 1965, Gereja Katolik telah menyatukan tekadnya untuk memperhatikan alat-alat komunikasi yang pada masa itu telah dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Bentuk perhatian yang diberikan tidaklah pada wujud material melainkan spiritual. Karena itulah lahir yang disebut pastoral komunikasi sosial.

Demikian ungkap Uskup Keuskupan Agung Kupang, Mgr Petrus Turang, Pr dalam sambutannya sesaat sebelum menutup rangkaian kegiatan Pekan Komunikasi Sosial Nasional, Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN-KWI) di Aula Santa Maria Bunda Para Bangsa, Gunungsitoli, Nias, Minggu (8/5/2016).

“Inti komunikasi sosial bukan pada alat-alat komunikasi yang cangggih, melainkan pada manusia yang memiliki hati. Karena itu dalam mengupayakan pengembangan dunia dalam dunia komunikasi, baiklah itu dilakukan dari hati ke hati,”ujar mantan Ketua Komsos KWI ini.

Karena itu, kata Mgr. Turang, Sri Paus tahun ini mengajak umat katolik di seluruh dunia untuk membuat hatinya mengerti apa yang ada di sekitarnya. Komunikasi dan Kerahiman terkait pada hati manusia.

Hati manusia menjadi sumber kerahiman sebagai satu dasar komunikasi, untuk membangun relasi manusia, interaksi antara manusia dengan manusia lain. Kehadiran alat-alat komunikasi yang dihasilkan oleh akal budi manusia sebagai ciptaan Allah harus dianggap sebagai anugerah tertinggi.

Itulah mengapa Dekrit Intermifica pada Konsili Vatikan Kedua lahir dalam Gereja Katolik (1965). Intermirifica atau di antara hal-hal yang menakjubkan di dunia, yaitu alat-alat komunikasi khususnya sekarang ini berupa internet membuat orang-orang bisa berinteraksi lebih cepat di tempat yang jauh.

“Sri paus minta supaya kerahiman itu dibagikan kepada umat, pastor, frater suster, biarawan/biarawati, awam, bapak ibu pemimpin, keluarga, orang tua hingga anak-anak,”tegas Mgr. Turang.

Membangun Kerahiman Mulai dari Keluarga
“Membangun kerahiman memang tidak mudah. Harus dimulai dari keluarga. Supaya mengerti dan sama-sama berusaha untuk membangun kerahiman yang tidak mudah ini” tegas Mgr. Turang

Bagaimana hubungan antara suami istri, orangtua dengan anak, anak-anak dengan anak-anak dapat terus terbangun rasa silahturahim yang benar, sehingga masing-masing akan merasa merdeka dan merasa senang ketika bersama-sama dan bukan rasa terbelenggu apalagi tertindas.

“Jangan sampai ada anggota keluarga justru terbelenggu oleh pernyataan-pernyataan yang kurang baik. Anak-anak terbelenggu oleh orang tua dan terutama oleh alat-alat komunikasi,”tegas Monsinyur.

Yang mesti dilakukan orang tua khususnya untuk genarasi Y, Z yang sangat melek internet dan kemajuannya adalah tidak melarang. Semakin melarang generasi ini maka akan semakin membuat mereka melakukan tindakan seenaknya.

Lalu Mgr Turang pun memberikan pesan agar para orang tua meciptakan lingkungan yang bisa saling berbagi anugerah untuk dipergunakan sebaik-baiknya demi kepentingan bersama.

“Tetapi bagaimana menciptakan suatu lingkungan sehingga setiap orang yang hidup dalam lingkungan ini hidupnya gembira dengan berbagai anugerah. Anugerah-anugerah ini dapat dipergunakan sebagai karunia yang dapat dipergunakan sebaik-baiknya demi kebaikan bersama. Itu yang harus orang tua berikan untuk anak-anak demi kepentingan bersama.”

Seperti kata Bapa Paus, lanjut Mgr Turang, tiap-tiap orang yang disebut murid Kristus akan mendapat berbagai karunia yang berbeda-beda tapi bukan untuk kepentingan pribadi namun untuk kepentingan bersama,”ujar Bapa Uskup.

Didampingi Romo Vikjen Keuskupan Sibolga Pastor Dominikus Doni Ola, beserta Dekanus Dekanat Nias Pastor Ignatius Purwo dan Sekretaris Eksekutif Komisi KOMSOS KWI RD Kamilus Pantus, Mgr Petrus Turang bersama Walikota Gunungsitoli Lakhomizaro Zebua bersama-sama memukul gong 3x yang menandakan PKSN-KWI 2016 yang berlangsung di Keuskupan Sibolga resmi ditutup. Ya’ahowu!

Kredit foto: Mgr.-Petrus-Turang-saat-memberi-kata-sambutan-dalam-Penutupan-PKSN-KWI-2016-di-Gunungsitoli-(Dok.-Komsos-KWI).

Share.

About Author

Retno Wulandari

Praktisi di bidang Public Relation, Tim Komsos KWI

Comments are closed.