“Communio” di Balik Gerak dan Lagu dalam Budaya Suku-Suku di Indonesia

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

PERAYAAN Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 50 yang baru saja dilaksanakan di Telukdalam dan Gunungsitoli, Keuskupan Nias, 1 hingga 8 Mei lalu diwarnai dengan berbagai atraksi budaya masyarakat Nias.

Kepada peserta kelompok sanggar budaya dan umat yang hadir menyaksikan atraksi budaya di halaman Paroki Santa Maria Bintang Laut, Telukdalam,Selasa, (2/5/), Suster  Yustina Honi selaku Ketua Panitia Lomba Sanggar Budaya mengungkapkan, dengan atraksi budaya Nias seperti ini diharapkan kita semua dapat ikut melestarikan budaya Nias.

Adapun tujuan dari dilaksanakannya lomba sangggar budaya ini pertama-tama tentu bukan untuk meraih kemenangan tapi lebih dari itu untuk melestarikan dan mengembangkan budaya lokal.

“Semakin berbudaya semakin beradab”, ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Lokal Telukdalam, Bapak Sondyagawa dalam sambutannya mengatakan, kiranya melalui pagelaran budaya ini Gereja berupaya untuk bagaimana mengkomunikasikan pesan-pesan Injil, merenungkan bagaimana pesan-pesan Injil itu dapat disampaikan kepada seluruh anggota keluarga.

Semangat ini, menurut Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias Selatan ini, perlu dikembangkan sehingga nilai-nilai budaya yang sesuai dengan semangat Injil dapat hidup dan lestari.

Sementara itu, Sekretaris Komisi Komunikasi Sosial KWI, Romo Kamilus Pantus menegaskan atraksi budaya yang menyata dalam bentuk gerak tari dan nyanyian yang dibawakan selama Pekan Komunikasi Sosial Nasional di Telukdalam dan Gunungsitoli memang dirancang sesuai dengan semangat intermirifica.

“Itu sudah sesuai dengan semangat intermirifica”. Di balik gerak tdan lagu dari budaya kita, ada nilai yang mau disampaikan, ada pesan yang bisa kita tangkap dan mengerti, dapat merekatkan jalinan persaudaraan sebagai warga suku, warga Gereja dan Masyarakat. Hal ini setara dengan tujuan komunikasi yakni tercapainya communio, ujarnya.

Memahami semangat Konsili Vatikan II melalui dokumen Intermirifica, kata Romo Kamilus, tidak bisa dipisahkan dari bagaimana upaya-upaya komunikasi sosial dibangun dengan memperhatikan kekayaan budaya masyarakat setempat.

Selain atraksi budaya yang dibawakan oleh kelompok sanggar dari Paroki Roh Kudus Lohusa, Paroki Trinitas Sogawunasi, Kelompok Sanggar SMKN I Telukdalam, Paroki Santo Fidelis Pulau Tello, Paroki St. Matias Amandraya, Paroki Hati Kudus Yesus Telukdalam, Paroki Santa Maria Telukdalam, kelompok seni dan tari dari Keuskupan Agung Medan, atraksi budaya juga dilangsungkan desa Bawomataluo, Rabu (4/5) dan Kota Gunungsitoli, Nias, Sabtu (7/5/2016).

======

Kredit Foto: Acara budaya penerimaan tamu di desa Bawomataluo, Nias Selatan (Dok. Komsos KWI)

Share.

About Author

John L. Wujon

Staf Komisi KOMSOS KWI

Comments are closed.