KOMSOS KWI

Seperti Apa Pelayanan Kesehatan di Pelosok Papua?

Keelokan panorama Papua yang hijau membentang dan sangat kaya dengan sumber daya alamnya selalu dipuja oleh banyak mata. Namun, hal itu tidak sejalan dengan perkembangan fasilitas masyarakatnya. Jika membandingkan pembangunan fasilitas tersebut sekarang dan beberapa tahun lalu, memang fasilitas pelayanan masyarakat sudah membaik. 16 tahun lalu, fasilitas pelayanan bagi masyarakat di Manokwari masih dirasakan sangat kurang dan pendidikan serta pengetahuan masyarakat pedalaman masih sangat minim. Misalkan saja masyarakat yang sakit masih mengandalkan pengobatan tradisional atau bahkan hal-hal mitos. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi Gereja yang sejatinya adalah pewarta dan kasih.

Pada tanggal 22 Januari 2001, melalui Mgr. F.X. Hadisumarto O. Carm, Tuhan mengundang para suster dari Tarekat Santa Perawan Maria (SPM) untuk melayani indahnya bagian Timur Indonesia. Semboyan “KebaikanMu kuwartakan” menjadi penguat mereka dalam pelayanan. Menggunakan kapal mereka tiba di Pelabuhan Manokwari pada tanggal 28 Januari 2001 dan mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat Prafi SP 4. Perutusan Suster SPM melayani dalam bidang Pendidikan dan Pembinaan, Kesehatan, dan Pastoral.

Pelayanan suster SPM di bidang kesehatan dibuktikan dengan adanya Balai pengobatan St. Maria, Prafi. Balai pengobatan ini terletak di Jalan Poros Jalur 8 Satuan Pemukiman (SP) 4, Manokwari, Papua Barat. Asal nama BP Santa Maria berasal dari nama tarekat pendirinya. Berdiri dan berkembangnya Balai pengobatan St. Maria dimulai oleh Sr. Francis Sudewo, SPM. Suster yang lahir di Malang, 25 Maret 1941 merupakan seorang dokter yang lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, 36 tahun yang lalu.

Sr. Francis sapaan akrabnya, mengatakan bahwa pelayanan kesehatan bagi masyarakat Prafi telah dimulai pada tahun kedatangan mereka di Manokwari. Dilaksanakan disebuah ruang kecil dalam lokasi yang kini telah menjadi komplek Paroki St. Kristoforus Prafi. Tahun 2005 Balai Pengobatan mulai dibangun di luar lokasi Gereja dan pada tanggal 23 Juli 2006 diresmikan oleh Bupati Manokwari. Awalnya Sr. Francis melayani masyarakat bersama seorang perawat yang disapa Mbak Rianti. Adapun kesulitan yang dialami pada awal berdirinya, yaitu kesusahan memperoleh obat-obatan, tenaga kerja yang kurang, tempat yang kurang memadai, kesulitan menghadapi sikap pasien dan kesulitan mendapatkan air.

Visi dari BP Santa Maria adalah dengan semangat kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah, terwujud pelayanan kesehatan SPM yang penuh kasih dan lebih berpihak kepada yang miskin demi optimalisasi derajat kesehatan masyarakat. Jam kerja dari pukul 08.00-12.00 WIT dan dapat melayani pasien sekitar 20-100 orang per hari dengan bantuan Sr. Hendrika, SPM, seorang bidan, seorang perawat dan seorang lagi dari masyarakat setempat. Penyakit yang sering ditangani di Balai Pengobatan St. Maria Prafi adalah malaria, diare, dan ISPA.

Ketika kita menolong dengan sungguh-sungguh maka semua orang akan menjadi baik. “ Asal Tuhan Mau Pasti Semua Terjadi” ujar suster cantik yang rambutnya kian memutih. Dia berharap kedepannya Balai Pengobatan St. Maria Prafi akan semakin berkembang dan melayani dengan bersungguh-sungguh. Dia juga berharap agar nantinya akan ada yang merawat dan mengembangkan Balai Pengobatan St.Maria meneruskan pelayanannya.

 

Karya: Kelompok 1

Tulisan ini adalah karya peserta pelatihan jurnalistik TPW Manokwari dan Bintuni 14-15 Mei 2016

Tags

Kevin Sanly Putera

Jurnalis lepas, videografer, trainer, Tim Komsos KWI

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close