OPINI

Mau Ziarah? Raptim Pilihan Tepat

Bersama Raptim, mengunjungi tempat-tempat kudus di Eropa merupakan perjalanan rohani. Tour Leader tidak semata memandu secara teknis, tetapi juga mengomunikasikan imannya. Meski demikian, Raptim tidak mengabaikan pentingnya akomodasi dan makanan.

PASANGAN suami isteri (Pasutri) Julian Mulia – Sienny Sentosa memendam asa untuk memperdalam khazanah Gereja, dengan mengunjungi tempat-tempat suci bersejarah. Julian sekaligus ingin mengajak mamanya – Tjhi Ai Lin (71) untuk jalanjalan. Ai Lin belum menerima Baptis. Bagi Julian, tidak ada kebetulan. Panggilan Tuhan semakin kuat mengundangnya pada Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi. “Waktu, 11-24 April 2016, cocok dan tidak terlalu banyak pindah kota. Apalagi, Mama sudah 71 tahun. Biaya juga sudah mencakup semuanya,” kata Julian. “Tiap kota tidak hanya semalam,” Sienny menandaskan. Bagaimana kenyataannya? Mama Ai Lin mengungkapkan, “Perjalanan tidak berat, karena tidak setiap kali pindah hotel.” Julian menilai, Raptim mengatur perjalanan dengan baik. “Semua hotel dan makanan yang dipilih Raptim, dari awal hingga akhir, semuanya memuaskan. Harganya juga tidak lebih mahal dari yang lain,” Sienny menegaskan.

Sharing senada disampaikan Georgius Fadjar N. Wikanta (60). Ia berziarah bersama istrinya Bernadet Wahjuningsih Juwono, putranya Georgius Andre P. Wikanta, dan menantunya Liliosa Visa Melisa. “Kami ingin menyaksikan apa yang sudah kami dengar dari temanteman. Kami sudah mulai lanjut usia. Mumpung masih ada kesempatan dan kesehatan, mengapa tidak pergi?” Keinginanan Fadjar untuk berziarah sudah lama. Tetapi, selalu saja ada kendala, karena semua anggota keluarga ingin berangkat bersama. “Jadwal yang ditawarkan Raptim pas sekali. Anak-anak pas bisa cuti. Mereka berdua bekerja di perusahaan yang tidak setiap saat bisa cuti. Kebetulan, hari-hari ulang tahun saya dan isteri, ada dalam jadwal itu. Dana kami pas-pasan, kami sedikit nekat. Uang bisa dicari. Ini kesempatan baik, apalagi bertepatan dengan dibukanya Pintu Suci di Vatikan,” cerita Fadjar. Selain jadwal pas, Fadjar memilih Raptim karena ia mendengar bahwa pelayanan Raptim memang baik. “Harga tidak mahal… Memang harga berbeda-beda menurut pandangan orang. Tapi, Raptim cukup terbuka tentang harga, terlebih Raptim selalu menyertakan harga dalam iklannya,” kata Fadjar. “So far so good,” ujar peziarah lain, Lioe Kirana Longtama. Ia berziarah bersama isterinya – Tjen Susanna, dan kedua putrinya – Agnes Florencia dan Felia Florencia. Agnes mengungkapkan, “Pada dasarnya semua sudah baik. Bisa dimaklumi, tempat ziarah yang dikunjungi begitu luas, sehingga penjelasan kurang lengkap. Tetapi, kami bisa menatap tempat-tempat ziarah dengan kagum dan takjub.” Joseph Saul, GM Branch Office Balikpapan – Garuda Indonesia, sudah beberapa kali berziarah bersama Raptim.

Selama bekerja di Garuda Indonesia, lebih dari 13 tahun ia ditugaskan di luar negeri: Amsterdam-Belanda, Darwin-Australia, AucklandSelandia Baru, dan London-Inggris. “Saya, sangat terkesan tidak saja pada Ziarah Eropa Barat kali ini tetapi juga Mesir, Israel dan Jordania beberapa waktu lalu. Perjalanan tidak melelahkan karena selalu bersyukur kepada Tuhan dengan menyanyi di bis, dari satu kota ke kota lain. Tidak kalah penting, akomodasi dan makanan sangat baik dan tidak mengecewakan.”

Tour Leader dan Gembala

Motivasi para peziarah, bagaimanapun beragam. Di sinilah tour leader dan pembimbing rohani sungguh-sungguh mempersiapkan diri, agar semua memetik buah rohani yang melimpah. Tour leader bukan sekadar mengurus soal teknis. Ia adalah bagian dari peziarah yang mengomunikasikan imannya. Pembimbing rohani memberi layanan baik sakramental, pengajaran, juga keteladanan selama peziarahan. Dengan demikian, umat peziarah bisa mencecap kasih pengampunan Tuhan yang terbuka lebar di Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi. Di mata Fadjar, Piet Tarappa sangat menguasai pengetahuan Kekatolikan. Ia tidak hanya memberi penjelasan tentang tempat, tetapi juga memberikan renungan dan kesaksian saat dalam perjalanan di bus. “Ia sabar, tenang, rendah hati, meskipun beliau Presiden Direktur Raptim. Saya berpikir, yah… Raptim milik KWI, pasti lebih mementingkan pelayanan buat peziarah, dengan cinta kasih,” ungkapnya.

Meski demikian, jelas Fadjar, peran Piet tidak tumpang tindih dengan penggembalaan pembimbing rohani peziarahan ini, yakni Mgr Nicolaus Adi Seputra MSC. “Bapak uskup sangat… sangat memberi perhatian kepada semua, rendah hati, ringan tangan membantu kami yang kerepotan. Bahkan, beliau tidak canggung mengangkatkan kopor. Sungguh tidak seperti yang saya pikirkan sebelumnya bahwa kami akan sungkan, takut, khawatir.” Di tempat terpisah, Sienny mengatakan, “Om Piet tidak pernah marah, sekalipun.” Sienny menjadi saksi dan melihat keteladanan bagaimana Piet Tarappa menyapa setiap orang dengan kasih, juga terhadap supir dan pegawai toko. Tentang Mgr Nico, ia bercerita, “Saat makan, beliau memilih tempat secara random, tampak ingin menyapa umat satu per satu. Tanpa ragu, beliau membantu mengambil foto untuk keluarga-keluarga, bahkan sampai mengangkat kopor. Ini, sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya bahwa akan dilakukan Bapa Uskup.” Lebih jauh, Sienny mengungkapkan, “Om Piet, sebagai tour leader, bekerja keras mengkoordinasi driver, restoran, hotel, tempat Misa, mengumpulkan peserta, menjadi time keeper, dsb. Beliau sangat sibuk. Dan, kami pun melihat Mgr Nico dengan indahnya melengkapi tugas Om Piet ini. Mgr Nico menjadi gembala pemersatu. Beliau mencairkan suasana antarpeserta dengan perkenalan, penunjukan ‘malaikat pelindung’, pembagian tugas liturgi, sharing pengalaman iman.” Sienny merefleksikan, perjalanan ziarahnya tidak sekadar jalan-jalan dan berdoa. Ia merasa diperkaya oleh pengalaman iman saudara-saudara sepeziarahan, juga khotbah Mgr Nico yang menyentuh hati. “Apalagi saat di Paris, saya mendapat kabar Mama saya di Surabaya terkena stroke ringan. Tak putus-putus Mgr Nico membawa Mama dalam intensi Misa dan doa-doa. Saya begitu terharu dan mendapat penghiburan,” ungkapnya. Tidak bisa dilupakan, kata Sienny, Dominica – istri Piet Tarappa yang dengan setia mendaraskan Doa Kerahiman Ilahi pada saat ‘super ngantuk’. Doa-doa Dominica memperkuat suasana perjalanan spiritual. “Sejak sebelum berangkat, ia mendoakan peziarahan ini. Ini suatu yang dahsyat, menurut saya,” kata Mgr Nico. Dan, bagi Fadjar Wikanta, suka cita itu hadir secara nyata dalam kebersamaan. “Sebelum berangkat, kami membayangkan kebahagiaan merayakan ulang tahun saya dan isteri. Dan betul, kami sungguh merasakan kasih Tuhan, tidak hanya bersama keluarga, tetapi juga teman-teman seperjalanan. Kebahagiaan itu semakin nyata dengan hadirnya kejutan kue ulang tahun dari Raptim, pelukan kasih dan persaudaraan dari teman-teman seperjalanan, serta bunga dari anak-anak,” kisah Fadjar.

Mukjizat

Fadjar bersyukur, Visa – menantunya – mengirim pesan dari Melbourne, Australia, usai ziarah ini. Visa yang sempat berpikir untuk membatalkan berangkat ziarah karena kakinya sakit, menceritakan kakinya sudah sembuh total. Ia merasakan hidup bersama Tuhan, tidak hanya bersama Andre – suaminya.

Kisah lain, Tjhi Ai Lin, yang sebenarnya hanya diajak jalanjalan oleh putranya, mengungkapkan ingin dibaptis. “Perjalanan ini membuat saya kenal Kristus. Saya ikut Misa, sehingga semakin mengerti. Senang sekali, perjalanan indah!” ungkapnya. Ai Lin menyampaikan keinginanan kepada Mgr Nico untuk dibaptis, di Lourdes. Tetapi, Mgr Nico dengan bijak meminta Ai Lin untuk mempersiapkan diri dengan menjadi katekumen di parokinya. Pasutri Julian-Sienny bersuka cita. “Saya dibaptis saat SMA, dan Julian dibaptis pada usia 30 tahun, setahun sebelum kami menikah. Kami menganggap diri Katolik abal-abal, jarang ke gereja dan tidak aktif di lingkungan. Tetapi, Julian menjadi berapi-api setelah ikut Kursus Evangelisasi. Tahun lalu, ia dipilih menjadi Ketua Lingkungan Maria Asumpta, Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Keuskupan Bogor. Padahal, kami baru dua tahun pindah ke lingkungan ini. Julian makin ingin memperdalam pengetahuan Kekatolikan. Semoga nanti, kita bisa melihat Mama dibaptis,” ungkap Sienny.

Tuhan yang Memimpin

Bersama Raptim, para peziarah mengunjungi tempat-tempat suci, jejak Sejarah Keselamatan. Di Roma, Italia, sejumlah tempat mereka kunjungi, utamanya Basilika St Yohanes Lateran di mana Takhta Paus ditempatkan, dan Basilika St Maria Maggiore. Basilika St Maria ini adalah yang terbesar, di bawah altar utama gereja ini ditempatkan relikui palungan tempat Yesus dibaringkan di Bethlehem. Tempat penting lain adalah Perancis. Di negera ini, mereka berziarah ke Lourdes, Nevers, dan Paris. Lourdes adalah tempat yang paling banyak dikunjungi peziarah. Di Lourdes, Bunda Maria menampakkan diri kepada Bernadette Soubirous.

Di Nevers, tepatnya di Biara St Gildard, mereka menatap langsung jenasah St Bernadette yang masih utuh dan disemayamkan di peti kaca. Di Paris, mereka berziarah ke Kapel Medali Wasiat di Rue du Bac, tempat Bunda Maria menampakkan diri kepada St Katarina Laboure. “Saya melihat peziarahan ini sebagai saat rahmat bagi semua peziarah. Dari awal, saya mempersiapkan tim agar menyediakan waktu pertemuan sebelum berangkat. Ini sangat penting. Pertemuan diawali dengan Ekaristi, supaya masing-masing mengalami, merasakan, bahwa Tuhan yang memimpin. Kita semua menyiapkan, Tuhan yang memberi anugerah ini. Ini harus disadari dari awal. Selanjutnya, dibangun suasana persatuan, dengan saling mengenal. Ini modal untuk saling mencintai dan mendukung. Maka, harus bersama disadari bahwa perjalanan ini, pertama-tama adalah ziarah. Hati terbuka, suasana rohani dikembangkan, agar pintu rahmat di tempat-tempat ziarah terbuka lebih lebar,” jelas Mgr Nico. Di tempat-tempat ziarah, mereka menerima sentuhan rahmat. Mgr Nico merefleksikan, “Mereka rindu, ingin berlamalama melihat, menikmati suasana rohani. Mula-mula kagum secara manusiawi. Biarlah roh mereka berkontak, sesuai daya tangkap dan pengertian masing-masing. Biarlah suasana batin itu menggelora, menggebu, dan tumbuh. Sentuhan rahmat itu berbeda-beda bagi setiap orang. Ini tidak bisa dinilai dengan angka.”

Lioe Kirana mengungkapkan, “Saya bersyukur dan takjub, melihat, memegang dan berdoa di Holy Door. Berdoa kepada Bunda Maria di Lourdes, mandi air Lourdes sungguh anugerah yang Tuhan berikan kepada kami. Puji Tuhan! Kami merasakan kebersamaan dalam ziarah ini.” “Kehidupan kami tidak luput dari dosa dan kesalahan. Saya merasakan kelegaan di dalam batin,” demikian kesaksian Fadjar, setelah melewati Pintu Suci di Vatikan. Fadjar, bisnis rumah makan Soto Kudus Blok M, di Kelapa Gading Permai. Ia adalah anggota Dewan Paroki Harian Paroki St Yakobus Kepala Gading, Jakarta Utara, periode 2013 – 2016. Fadjar hobi photografi. Sejak menikah, ini mengoleksi foto dan video keluarga. Memotret isterinya di tempat di mana dulu Bernadette Soubirous berlutut adalah momen yang ia nantikan. Maka, pagi-pagi buta, pukul 05.30 bersama isterinya, ia menuju tempat itu. Suasana sepi, sehingga ia bisa memotret tanpa mengganggu peziarah. Kisah kasih yang menggetarkan. “Saya menyentuh tempat di mana St Bernadette mendapat penampakan. Hati saya bergelora,” kata Bernadet. Bagi Pasutri Julian-Sienny, peziarahan ini merupakan perjalanan spiritual menyadari kasih Tuhan. “Selama berjalan melalui Pintu Suci, Patung Maria di Grotto, Jalan Salib, saya merasakan dosa-dosaku adalah kejatuhan Yesus, air mata Bunda Maria yang menetes,” tulis Sienny, sembari menemani Bundanya berobat. Sepulang dari Eropa, ia langsung mengantar Bundanya berobat ke Singapura. “Aku seperti diuji, sanggupkah aku bersyukur dan memuji Tuhan? Ziarah belum selesai. Seluruh hidup kita adalah ziarah, sampai menghadap Bapa.” Julian menambahkan, “Kami tidak atau belum memahami kehendak Tuhan. Tetapi, saya yakin, kita ini hanya satu mozaik kecil dari rencana Tuhan yang besar.”

penulis: Benediktus W. 

Tags

Kevin Sanly Putera

Jurnalis lepas, videografer, trainer, Tim Komsos KWI

Related Articles

Close