KOMSOS KWI

Misa Audio Visual Menutup Semiloka Story Telling

UNTUK menutup rangkaian semiloka story telling Katekis Generasi Muda Keuskupan Agung Medan (KAM), para katekis merayakan Ekaristi Kaum Muda (EKM) atau biasa disebut misa audio visual.

Romo Teguh Budiarto, Pr., fasilitator semiloka, membagi para peserta menjadi beberapa kelompok. Mereka diminta untuk menginterpretasi bagian Ekaristi sesuai dengan yang didapat: pembukaan – tobat, bacaan, communio, dan perutusan.

Setiap kelompok akan diberi teks: umumnya perikop Kitab Suci, merefleksikan ide dari teks itu, kemudian mengolah dan mengekspresikan dalam alternatif seperti story telling, drama, lagu, dll.

Misalnya untuk tobat, teks yang diberi adalah kutipan Injil mengenai perempuan yang berzinah (bdk. Yoh 8:1-11). Kelompok diberi kebebasan untuk menggali buah rohani dari bacaan tersebut secara pribadi atau kelompok, dan dielaborasi dalam bentuk sekreatif mungkin.

“Perayaan Ekaristi menjadi lebih menyentuh karena umat merenungkannya sesuai pengalaman pribadi, tidak dipandang sebagai rumusan liturgi formal saja,” ungkap Romo Teguh.

Sudah tiga tahun Romo Teguh memperkenalkan EKM model ini ke berbagai OMK. “Biasanya EKM kreatif diawali dengan retret audio visual. Mulai dari suster, guru, pengurus yayasan, mengatakan bahwa misa seperti ini adalah sesuatu yang lain, mereka lebih bisa mengekspresikan penyesalannya dalam tobat, tidak hanya ikut bernyanyi,” tambahnya.

Tantangannya adalah bagi umat yang tidak mengikuti acara pendahulu EKM ini. “Mereka tidak akan paham mengapa dan bagaimana terjadi misa yang demikian,” kata Romo Teguh.

Kevin Sanly Putera

Jurnalis lepas, videografer, trainer, Tim Komsos KWI

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close