Urbi

Jejak Perfilman Wregas, Pemenang Cannes

WREGAS Bhanuteja(23), pemenang utama Festival Film Internasional Cannes tahun ini, menjadi fasilitator workshop Festival Film Puskat, Yogyakarta, pagi ini (16/10).
Wregas membagikan jejak hidup perfilmannya sejak SMP. Pada 2006, ia pertama kali membuat film bersama teman sekelasnya dalam lomba 17-an membuat film pendek di sekolahnya.
“Di saat itu, saya yang jadi aktor. Namun, saya suka intervensi teman saya yang sutradara. Saya berpikir mungkin saya lebih cocok di belakang layar,” kisah Wregas.
Masuk SMA de Britto, ia masuk ekstrakurikuler sinematografi dan mulai rutin membuat film pendek bersama teman-temannya. “Waktu itu kami tidak takut hasilnya jelek, kami belum pakai teori film ini itu, hanya spontanitas,” kata Wregas.
Setelah bergumul dengan orangtuanya, ia diizinkan masuk Institut Kesenian Jakarta untuk mendalami dunia perfilman.
Satu tantangan yang Wregas hadapi saat kuliah adalah teknologi perfilman konvensional. Sebelum memory card, hasil rekaman kamera disimpan pada pita seluloid. “Satu kaleng pita 16 mm hanya bisa merekam 10 menit, harganya per roll Rp 1,5 juta. Kampus hanya memberi 2 roll, sedangkan durasi film kami 15 menit. Jadi saya hanya bisa melakukan 5 menit. Maka itu para aktor harus betul-betul siap, baru di-shooting,” jelasnya.
Kemudian secara tidak sengaja, ia bertemu Riri Riza, sutradara nasional. Wregas magang dan ambil bagian dalam pembuatan film “Sokolarimba” sebagai asisten sutradara tiga.
Ketika Gunung Kelud meletus, Wregas terpikir memanfaatkan keterbatasannya di rumah -tidak bisa kemana-mana-untuk merekam hasil hujan abu. Esoknya, ia minta seorang teman untuk berperan sebagai “Lembusura” (kepercayaan Jawa siluman penjaga Gunung Kelud). Menyatukan rekaman hujan abu dan tarian spontan Lembusura, Wregas masuk nominasi pemenang Festival Film Internasional Berlin.
Februari lalu, Wregas membuat “Prenjak: In The Year of Monkey”. Film inilah yang masuk Semaine de la Critique, Festival Film Cannes dan menang sebagai juara utama. Dengan alat dan budget yang sederhana, ia mengalahkan puluhan nominasi internasional lain dengan mengangkat kisah gadis penjual korek api dan isu pelecehan seksual.
Baru-baru ini, Wregas juga menjadi behind the scene director film layar lebar “Ada Apa Dengan Cinta? 2” bersama Miles Production.
Tags

Kevin Sanly Putera

Jurnalis lepas, videografer, trainer, Tim Komsos KWI

Related Articles

Close