HarianJendela Alkitab

Renungan Harian, Kamis: 27 Oktober 2016, Luk. 13:31-35

LUK 13:31 Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.”

Luk 13:32 Jawab Yesus kepada mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.

Luk 13:33 Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.

Luk 13:34 Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.

Luk 13:35 Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”

Renungan

Yesus diminta oleh  orang Farisi untuk meninggalkan Yerusalem karena Herodes berencana untuk membunuh-Nya, namun Yesus tidak takut. Ia mengatasi situasi yang harus dihadapi-Nya. Segala konsekuensi dari pengajaran dan perbutan-Nya  sudah diperhitungkan dan berani ditanggung-Nya. Sejak semula Yesus sudah sadar bahwa para nabi terdahulu menghadapi ajalnya di Yerusalem. Ia tahu bahwa Ia akan senasib dengan mereka.

Yesus bukan hanya berhadapan dengan orang-orang yang tidak menerima-Nya, namun yang lebih sulit lagi ialah Ia berhadapan dengan pola pikir, tabiat, dan karakter yang sudah terbentuk dan membatu. Cara pandang inilah yang menguasai alam pikiran mereka sehingga sangat sulit untuk diperbarui.

Kalau dengan bahasa Paulus, dia berkata:”Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara“ (Ef. 6:12).

Dengan bahasa sekarang, semua itu dikenal sebagai ‘mindset’ atau pola pikir . Pola pikir ini dibangun oleh pendidikan dan sejarah hidup yang membentuk karakter seseorang. Dengan demikian, diperlukan sebuah pertobatan yang total atau perombakan total untuk dapat mengubah karakter seseorang. Semua ini hanya dimungkinkan kalau orang itu mau dekat dan berpegang pada Allah.”Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat”(Ef.6;16).

Ya Allah, kekuatanku, bentuklah hidupku: hancurkanlah hatiku yang keras dan membatu agar dengan firman-Mu hidupku selalu dituntun pada jalan kebenaran-Mu. Amin.

============

Sumber: Ziarah Batin 2016

Kredit Foto:Ryan Mintaraga

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close