HarianJendela Alkitab

Jagalah Kesucian Bait Suci Dari Godaan Setan Dan Kerakusan Kita (Siraman Rohani, 9/11/2016)

Jagalah Kesucian Bait Suci Dari Godaan Setan Dan Kerakusan Kita

(Yohanes 2: 13 – 22)

Saudara-saudari…. Hari ini kita merayakan pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran. Bulan Juli 2012 saya mengunjungi Basilika Lateran. Suasana dalam Gereja ini sungguh –sungguh sangat agung. Di dalamnya Gereja ini kita temukan semua foto dari Paus Pertama yaitu Santu Petrus sampai Paus yang sekarang. Di sana kita betul melihat kesinambungan pemimpin Gereja kita dari abad ke abad. Di dalam Gereja ini secara spontan saya berdoa: “Terima Kasih Tuhan karena Engkau memperkenankan saya masuk ke dalam Basilika ini. Dari Sejarah Gereja saya mempelajari bahwa Basilika ini adalah Basilika Agung yang pertama didirikan di Roma, yang melambangkan kemerdekaan dan perdamaian dalam Gereja sesudah abad ketiga. Ku-mohon berkatMu untuk kami semua anggota Gereja Kristus, semoga kami selalu alami kemerdekaan dan perdamaian dalam hati kami. Amin”

Basilika ini didirikan oleh Kaisar Konstantinus Agung, Putera Santa Helena pada tahun 324. Dalam konteks sejarah Gereja Kristen, Basilica ini merupakan Basilica Agung yang pertama yang melambangkan kemerdekaan dan perdamaian di dalam Gereja setelah tiga abad lebih berada di dalam kanca penghambatan dan penganiayaan oleh kaisar-kaisar Romawi yang kafir. Pemberkataannya yang kita peringati pada hari ini merupakan peringatan akan kemerdekaan dan perdamaian.

Pada pesta peringatan pemberkatan Basilika ini, mungkin baik kalau kita juga bertanya diri: Apakah kita, yang adalah anggota Gereja Kristus, selalu alami kemerdekaan dan perdamaian dari segala ancaman setan dan kerakusan kita? Apakah iman kita selalu kokoh dan kuat?

Pesta pemberkatan Gereja Basilika Lateran hari ini menyadarkan kita akan persekutuan hidup iman kita yang didasarkan pada Yesus Kristus. Setiap kita adalah Bait Allah karena Roh Allah bersemayam dalam diri kita masing-masing. Gereja yang sebenarnya tidak dibangun dari batu dan kayu yang mati, melainkan dari pribadi-pribadi yang hidup. Kita adalah pribadi-pribadi hidup yang membentuk Rumah Allah itu. Pertanyaan untuk kita: Apakah kepribadian kita selalu suci dari kekotoran duniawi? Apakah kita selalu melekat erat pada Kristus yang merupakan dasar kehidupan kita?

Saudara-saudara…  Hari ini kita mendengar lewat Injil Yohanes bahwa Yesus Kristus mengusir mereka yang menjual lembu, kambing, domba, merpati dan penukar-penukar uang dari Bait Suci. Dengan marah Yesus katakan kepada para pedagang dan penukar uang: “Jangan kamu membuat Rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.”  Menyaksikan apa yang dibuat Yesus, para muridNya berkata: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”

Ada dua hal penting yang perlu kita ingat dari apa yang dibuat Yesus di Bait Suci. 1) Dia sangat menghormati dan mencintai Gedung Gereja, tempat kudus di mana Allah tinggal. Dalam gedung Gereja itu umat Allah berkumpul mendengarkan FirmanNya dan menerima Tubuh dan Darah Kristus. Tempat kudus ini harus dijaga kesuciaan dan kebersihannya. Jadi rasa hormat, berpakaian sopan selalu harus diperhatikan. 2) Yesus Kristus sangat mencinta setiap pribadi yang sudah mengimani Dia. Dia merasa sangat sedih kalau tubuh kita dicemari oleh hal-hal duniawi, menjadikan tubuh kita, yang seharusnya suci, tempat penjualan.

Marilah saudara-saudari…  Jagalah selalu kesucian Bait Suci dari kerakusan kita. Biarkanlah Tuhan bersemayam dalam hati kita yang bersih dan suci. Kalau ada yang kotor berilah diri kita kepada Kristus biarkanlah Ia mencucinya kembali agar Bait Suci kita kembali suci dan bersih.

Kita berdoa semoga Tuhan selalu menguatkan iman kita agar kita selalu sanggup menjaga kesucian Bait Suci-Nya dari godaan-godaan Setan dan kerakusan kita.

Kita meminta Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen!

Kredit Foto: Parrocchia dell’Assunta o Ad Nives

Tags

Pastor Fredy Jehadin SVD

Misionaris SVD yang berkarya di Papua New Guinea. Bertugas sebagai pembina para frater SVD dan mengajar di Catholic Theological Institute di Bomana Port Moresby dan mengajar di Xavier Institute untuk para suster dan bruder yang mau menyiapkan diri untuk mengikrarkan kaul-kaul kekal, dan membantu mereka yang bekerja di lembaga pembinaan para religious di Papua New Guinea.

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close