HarianJendela Alkitab

Membaharui Diri Menyambut Kedatangan Tuhan (Siraman Rohani, 14/2016)

 

Saudara-saudari…

HARI ini kita merayakan Pesta Peringatan Santo Yohanes dari Salib, Imam dan Pujangga Gereja. Ia lahir di Spanyol pada tahun 1542 dari keluarga miskin. Ia menjadi pelayan di rumah sakit Medina. Pada umur 21 tahun ia diterima sebagai anggota awam biara Karmelit. Di situ ia menata hidup rohaninya dengan tekun berdoa dan bermati raga. Pemimpin biara Karmelit kagum dengan cara hidupnya yang saleh dan kepintaran yang dimilikinya. Karena itu ia dikirim studi di Universitas Salamanca Spanyol. Setelah menyelesaikan studinya, Yohanes ditahbiskan imam pada tahun 1567 dalam usia 25 tahun. Ia bersahabat dengan Santa Theresia Avila yang tertarik pada acara hidup dan usahanya membarui Ordo Karmelit. Yohanes diangkat menjadi Prior pertama dari susteran Karmelit itu dan mengambil nama resmi: Yohanes dari Salib. Tetapi beberapa kawan biaranya tidak suka akan tindakannya. Ia dikenakan hukuman dan dimasukkan dalam Sel Biara. Yohanes menerima perlakuan yang semena-mena dari rekan-rekan seordo. Setelah 9 bulan meringkuk di dalam tahanan biara, Yohanes kemudian melarikan diri dari Biara. Usaha pembaruannya itu disalah-tafsirkan oleh rekan-rekan seordo. Sel Biara itu memberinya pengalaman akan salib penderitaan Yesus. Tetapi berkat pengalaman pahit di dalam Sel itu, ia justru mendapat pengalaman rohani yang mengagumkan: ia mengalami banyak peristiwa mistik, mampu menggubah kidung-kidung rohani, ia sering mengalami ekstase dan semakin memahami secara sungguh mendalam teologi dan ajaran-ajaran iman Kristen. Semua pengalaman itu dibukukannya.  Baginya salib merupakan tuntunan menuju kepada kebangkitan dan penyangkalan diri. Lewat Salib ia merasakan kedekatan dengan Kristus. Ia wafat pada tahun 1591 dan digelar sebagai Pujangga Gereja.

Saudara-saudari…

Kalau kita kaitkan kehidupan St. Yohanes dari Salib dengan pesan Injil hari ini, terlihat jelas ada beberapa pesan yang sama: Pesan pertama tentang pembaharuan cara hidup dalam biara Karmelit. Yohanes dari Salib sepertinya sudah diilhami oleh nilai-nilai Injil untuk merombak cara hidup dari tradisi yang kaku kepada cara baru yang lebih pada perwujudan nilai-nilai Injil dan spiritualitas serikat yang sesungguhnya, yaitu tentang hidup doa dan kesederhanaan hidup. Teori dan praktek harus seimbang, kata dan perbuatan harus diwujudkan dalam hidup harian. Yesus Kristus datang membawa pembaruan hidup ke tengah manusia, secara khusus tentang cinta. Cinta terbuka kepada siapa saja, bukan hanya terbatas pada orang sendiri, tetapi juga kepada orang lain, termasuk musuh kita. Ia merombak tembok pemisah antara kaya dan miskin; Ia merangkul orang sakit, secara khusus penderita kusta.

Pesan kedua adalah sikap mengampuni. Yohanes dari salib mengampuni teman-teman seordonya. Sepertinya dalam tahanan biara, Johanes semakin mendalami pesan Yesus Kristus tentang mengampuni sesama. Semakin banyak memberi ampun, maka rasa damai akan semakin bersemi di dalam hati. Memberi ampun adalah salah satu dari sifat-sifat Yesus Kristus. Ia memaafkan mereka yang menolak atau menyalibkan Dia. Kita ingat, bahwa selagi bergantung di kayu Salib, Dia meminta Bapa-Nya untuk mengampuni mereka yang menganiaya dan menyalibkan Dia.

Pertayaan untuk kita: Sebagai murid-murid Kristus, apakah kita juga memiliki sikap seperti itu?

Marilah saudara-saudari, dalam masa Advent ini, kita wujud-nyatakan pesan Injil dan contoh hidup dari St. Yohanes dari Salib yang kita dengar pada hari ini, yaitu promosikan nilai-nilai Injil lewat perbuatan yang sangat konkrit, yaitu dari kebiasaan lama yang mungkin bisa menghambat pertumbuhan kehidupan rohani kita kepada kesadaran untuk secara terbuka melayani sesama dan memberi ampun kepada orang yang bersalah kepada kita atau memohon ampun dari mereka yang pernah kita sakiti hatinya. Dengan membarui diri dan tingkahlaku, secara tidak langsung kita sudah mempersiapkan hati dan pikiran kita untuk menyambut Kristus yang datang pada hari Natal nanti.

Kita berdoa semoga Tuhan selalu membantu kita agar apa yang kita rencanakan dan kerjakan mendatangkan hasil yang membahagiakan jiwa kita.

Kita memohon St. Yohanes dari Salib dan Bunda Maria, Bunda Kristus untuk mendoakan kita. Amen.

=========

Kredit Foto: Conservapedia

 

Tags

Pastor Fredy Jehadin SVD

Misionaris SVD yang berkarya di Papua New Guinea. Bertugas sebagai pembina para frater SVD dan mengajar di Catholic Theological Institute di Bomana Port Moresby dan mengajar di Xavier Institute untuk para suster dan bruder yang mau menyiapkan diri untuk mengikrarkan kaul-kaul kekal, dan membantu mereka yang bekerja di lembaga pembinaan para religious di Papua New Guinea.

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close