Seberapa Dalam dan Kuat Iman Kita (Siraman Rohani 19/12/2016)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Seberapa Dalam Dan Kuatkah Iman Kita Kepada Tuhan?
(Lukas 1: 5-25)

Saudara-saudari…
Mungkin ada di antara kita yang sudah mendengar dan melihat satu video clip dari seorang Pembawa Firman, Dr. Agnes Maria – dari group Happy Family Center. Katanya kewat klip itu: setiap tahun umur kita bertambah usianya, itu yang tidak bisa kita hindari, kita menjadi tua. Tetapi walaupun setiap tahun usia kita bertambah, kita tetap bisa memilih untuk tetap tidak kehilangan semangat. 200 tahun lalu, seorang negarawan Romawi bernama Markus Porcius Carlo mempelajari Bahasa Yunani pada usia 80 tahun, dan berhasil. Harland David “Colonel” Sanders, orang Amerika, yang terkenal dengan Kentucky Fried Chicken (KFC), memulai usahanya dan berhasil pada saat dia berumur 69 tahun. Michael Angelo, orang Italia, dia melukis dan lukisannya ini sungguh2 sangat indah di sebuah Kapela di Sintine Roma Italia pada usia 71 tahun.

Pertanyaan kita: Apa kira-kira kunci keberhasilan dari orang yang kita sebutkan di atas? Kuncinya tidak lain dan tidak bukan, percaya diri, selalu berpikir positip, tekun menjalankan apa yang sudah dimulai dan tidak pernah putus asa.
Saudara-saudari…
Injil hari ini juga menceriterakan kepada kita akan keberhasilan dari Zakaharia dan Elisabet, yang keduanya sudah lanjut dalam usia. Karena ketekunan dan kesetiaan dalam berdoa dan selalu berharap pada Tuhan maka kerinduan mereka dikabulkan Tuhan.
Keluarga yang tidak punya anak kadang mendatangkan rasa sakit bagi keluarga. Menurut kepercayaan orang Yahudi, keluarga yang tidak punya anak dianggap sebagai satu kutukan Allah. Tetapi walaupun demikian, Zakharia dan Elisabeth tidak pernah putus asa. Mereka tetap percaya kepada Tuhan dan tetap berharap pada Tuhan. Mereka tetap rajin berdoa dan mengharapkan campur tangan Tuhan. Ketekunan mereka membuahkan hasil. Pada suatu hari, selagi Zakharia berdoa, datanglah Malikat menyampaikan warta gembira kepada-nya, katanya: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu.” Menanggapi pemberitahuan ini, Zakharia sepertinya bingung. Mungkin ia berpikir akan keadaan bilogis dari dirinya sendiri dan juga Elisabet. Karena itu dalam percakapannya dengan Malaikat, dia berkata: “Bagaimana aku tahu, bahwa hal itu akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” Menanggapi kebingungan Zakharia, Malaikat berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya.” Sejak waktu itu, Zakharia menjadi bisu. Kebisuan yang dialami oleh Zakharia sesungguhnya satu tanda bahwa apa yang dikatakan oleh Malaikat itu adalah benar. Selain itu, kebisuan itu juga bisa dilihat sebagai jawaban Allah akan permintaan Zakharia, yaitu Bagaimana aku tahu bahwa hal ini akan terjadi?” Inilah tandanya: “Engkau menjadi bisu!” Kebisuan baru terlepas kembali di saat pemenuhan janji Allah, yaitu sang Bayi lahir ke tengah keluarga Zakharia dan Elisabet. Pada saat pemberian nama, Zakharia menulis pada batu tulis: “Namanya adalah Yohanes. Di saat dia membaca apa yang ditulisnya: namanya Yohanes, pada saat yang sama terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu berkata-kata dan memuji Allah.”
Ketekunan dalam doa sudah mendatangkan hasil bagi Zakharia dan Elisabet. Kekuatan iman mereka sudah mendatangkan kebahagiaan bagi mereka. Umur mereka tidak menjadi masalah bagi Tuhan. Karena Tuhan adalah pencipta segala sesuatu, termasuk menciptakan manusia baru. Bagi Tuhan, segala sesuatu bisa terjadi.
Pertanyaan untuk kita: Seberapa dalam dan kuatkah iman kita kepada Tuhan? Apakah ketuaan fisik kita sudah menjadi penghalang bagi kita untuk tidak aktip lagi dalam kegiatan menggereja? Bagaimana dengan berdoa? Bagaimana dengan senyum? Senyum kita akan sangat membantu mereka yang alami kesulitan.
Kalau Markus Porcius Carlo berhasil mempelajari Bahasa Yunani pada waktu berumur 80, Harland David “Colonel” Sanders mulai dengan usahanya, yaitu Kentucky Fried Chicken pada waktu berumur 69, Maikael Angelo berhasil melukis satu lukisan yang sangat indah pada waktu berumur 70, dan Zakharias dan Elisabet mendapat berkat Tuhan dengan memberi mereka seorang anak di hari tuanya, maka kita pun pasti bisa. Kunci dari semuanya adalah percaya, bahwa Tuhan sudah memberi kemampuan dalam diri kita masing-masing dan manfaatkanlah kemampuan itu dengan sebaik-baiknya, tekunlah menjalankan apa yang sudah dimulai sampai menghasilkan sesuatu, selalu berpikir positip bahwa kita bisa, dan bekerja bersama Tuhan dan sesama kita.
Kita berdoa semoga Tuhan selalu menguatkan iman kita dan percaya, bahwa bagi Tuhan semuanya mungkin terjadi.
Kita memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen.

Share.

About Author

Pastor Fredy Jehadin SVD

Misionaris SVD yang berkarya di Papua New Guinea. Bertugas sebagai pembina para frater SVD dan mengajar di Catholic Theological Institute di Bomana Port Moresby dan mengajar di Xavier Institute untuk para suster dan bruder yang mau menyiapkan diri untuk mengikrarkan kaul-kaul kekal, dan membantu mereka yang bekerja di lembaga pembinaan para religious di Papua New Guinea.

Comments are closed.