HarianJendela Alkitab

Renungan Harian Jumat, 23 Desember 2016 (Luk 1:57-66)

Siraman Rohani

Jumat 23 Desember 2016

Rm Fredy Jehadin SVD

Tema: Ketaatan Yang Membebaskan (Lukas 1: 57 – 66)

Saudara-saudari… Hari Sabtu 17 Desember 2016, dini hari, seorang sopir bus kota di Port Moresby mengalami nasib sial, dipukul oleh pihak keamanan karena melanggar peraturan lalu-lintas. Sewaktu ditegur dengan baik, bukannya menerima teguran itu dengan baik dan mengikutinya, tetapi dia malah melawan pihak keamanan. Selanjutnya mengarah kepada pertengkaran dan beradu tangan. Hasil akhirnya adalah sang Sopir harus menerima kematian. Ketidak-taatannya mendatangkan malapetaka. Seandainya dia taat mengikuti aturan lalu-lintas, pasti ia bebas dari malapetaka dan kematiaan itu.

Saudara-saudari… Hari ini kita mendengar kisah kehidupan Zakharia. Selama lebih dari 9 bulan ia mengalami kebisuan, tidak bisa berkata-kata, sejak mendapat pemberitahuan Malaikat, bahwa Elizabet akan mengandung dan melahirkan seorang anak dan dia akan menamai dia, Yohanes. Mengapa dia tidak bisa bicara? Karena ia tidak percaya akan berita gembira yang disampaikan oleh Malaikat itu. Kita ingat perkataan Zakharia menanggapi pemberitahuan Malaikat. Katanya kepada Malaikat: “Bagaimana aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” Dari perkataan Zakharia ini secara tidak langsung ia mau meminta tanda atau bukti, supaya dia tahu, bahwa hal itu sungguh akan terjadi. Menanggapi pertanyaannya itu, Malaikat menjawab, katanya: “Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari di mana semuanya ini terjadi, karena engkau TIDAK PERCAYA akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya.” Kebisuan Zakharia adalah akibat dari ketidak percayaannya kepada Malaikat. Sejak waktu itulah ia hidup dalam kebisuan. Tetapi yang menariknya, bahwa walaupun Zakharia mengalami kebisuan selama lebih dari 9 bulan, ia tidak putus asa dan kecewa kepada Tuhan. Pada hari ini, bukti kesetiaan Zakharia kepada Allah sungguh terbukti. Di saat anaknya mau disunat dan sanak saudara Zakharia hendak menamai dia, Zakharia menurut nama bapanya, tetapi Elizabet berkata: “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya: “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada Zakharia untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: “Namanya adalah Yohanes.” Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Tuhan. Inilah bukti kesetiaan Zakharia, bahwa ia tetap ingat apa yang sudah dipesankan oleh Malaikat pada saat kabar gembira itu disampaikan, dan tetap menamai anaknya, Yohanes. Dengan ini kita boleh katakan, bahwa Zakharia tetap setia dan taat akan perintah Tuhan. Apa yang sudah disampaikan Tuhan, itulah yang dilaksanakannya. Selain itu, Zakharia tetap rendah hati, ia tidak mau mengabadikan namanya kepada anaknya. Biarkanlah anaknya menggunakan nama yang sudah diberikan Tuhan untuknya. Biarkanlah kehendak Tuhan terjadi pada anaknya. Ketaatan Zakharia dalam mengikuti perintah Tuhan ini sudah mendatangkan kebebasan dan kebahagiaan bagi Zakharia. Di saat dia membaca, bahwa namanya adalah Yohanes, di saat itu juga lidahnya terlepas dan dia bisa berkata-kata. Sungguh

konsekwensi dari satu ketaatan. Ketaatan yang membebaskan. Kalau seandainya Zakharia memberi nama lain kepada anaknya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke atas Zakharia.

Selain itu, kita juga bisa melihat kekompakan antara Elizabet dan Zakharia. Keduanya sehati sejiwa. Mereka tidak dipengaruhi oleh tekanan sanak-saudara mereka akan nama yang harus diberikannya kepada anak mereka. Keduanya taat dan setia mengikuti perintah Tuhan. Namanya adalah Yohanes, yang artinya: Allah merahmati, tangan Tuhan menyertai dia.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga mengikuti sikap Zakharia, bahwa walaupun mengalami kesulitan – bisu – tetapi tetap setia kepada Tuhan dan mengikuti perintahnya? Atau kita cepat putus asa, merasa kecewa dan tidak mau kembali kepada Tuhan memohon bantuan-Nya lagi?

Marilah saudara-saudari… Percayalah selalu kepada Tuhan. Ketataatan kita akan mendatangkan kebebasan dan kebahagiaan bagi kita.

Kita berdoa semoga semangat hidup Zakharia dan Elizabet selalu menjadi inspirasi hidup kita. Kita memohon bantuan Zakharia, Elizabet dan Bunda Maria untuk selalu mendoakan kita. Amin!

Kevin Sanly Putera

Jurnalis lepas, videografer, trainer, Tim Komsos KWI

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close