Renungan Harian, Rabu: 15 Maret 2017, Mat. 20:17-28

0

MAT 20:17 Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan:

Mat 20:18 “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.

Mat 20:19 Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Mat 20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.

Mat 20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

Mat 20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.”

Mat 20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”

Mat 20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.

Mat 20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

Mat 20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

Mat 20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

Mat 20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Renungan

Dalam tradisi Yahudi, Mesias indentik dengan  kemuliaan dan kekuasaan. Namun Yesus – yang diakui Mesias oleh para murid justru menubuatkan kematian-Nya. Seperti pengalaman Yeremia. Yesus tidak takut dan menyerah mewartakan sabda kasih Allah dan melakukan kehendak-Nya sekalipun harus mengalami penolakan, penderitaan dan kematian.

Para murid kaget, sedih dan bingung karena mengira bahwa kedudukan dalam Kerajaan Surga dapat diraih tanpa penderitaan. Kenyataan sebaliknya justru derita dan kematian Yesus merupakan puncak pelayanan kasih-Nya kepada kita. Ia memberikan nyawa bagi tebusan kita. Kematian-Nya menjadi bukti konkret kerendahan hati (diri) pemenuhan nubuat ‘Hamba Allah yang menderita‘ dan kebesaran Diri-Nya, agar kita mendapat pengampunan dan jaminan hidup kekal. Melalui ‘Jalan Salib-Nya’, Yesus mengajarkan dasar kepemimpinan Kristiani, yakni menjadi hamba yang setia melayani sesama. Maka tempat di sebelah kiri dan kanan-Nya pasti diberikan bagi kita yang mampu hidup seperti-Nya: penuh kasih, semangat melayani sesama, pengorbanan dan kerja keras tanpa pamrih bagi kebahagiaan orang banyak.

Ya Tuhan, sering kali aku malas melayani dan tidak mau berkorban, tetapi ingin mendapatkan posisi dan pelayanan maksimal dari sesama. Ampunilah dan baruilah pola hidupku agar lebih berani melayani Dikau dan sesama dengan tulus. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2017

Kredit Foto:  Seorang petani sedang istirahat selepas bekerja di kebun/Bacatulisan.com

 

 

 

 

 

 

Share.

About Author

Leave A Reply