Renungan Harian, Kamis: 16 Maret 2017, Luk 16:19-31

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

LUK 16:19 “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.

Luk 16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,

Luk 16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.

Luk 16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.

Luk 16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

Luk 16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

Luk 16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

Luk 16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.

Luk 16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,

Luk 16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

Luk 16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

Luk 16:30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.

Luk 16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

Renungan

Si Kaya punya segala–galanya untuk meringankan penderitaan Lazarus, namun tidak melakukan sesuatu apa pun. Ia tidak menyadari seirusnya kesempatan sekarang ini untuk mempersiapkan hidup kekal di masa mendatang. Jadi bukan kekayaan yang menjauhkannya dari pangkuan Abraham, melainkan pengelolaan hartanya yang tidak baik. Kita diingatkan bahwa hidup sejati diukur bukan dari melimpahnya harta, status sosial atau kekuasaan, tetapi seberapa pedulinya kita untuk berbagi dengan sesama.

Perumpamaan ini diceritakan Yesus untuk menegur orang Farisi yang mengadalkan kekayaan pengetahuan dan kekuatannya sendiri untuk mencapai surga. Kematian dan kebangkitan Yesus pun tidak bisa mengubah mereka yang sudah menutup hati bagi maksud Sabda Allah. Kegagalan kita dalam mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah akan membawa kerugian besar bagi hidup sekarang ini dan nanti.

 

Ya Tuhan, bantulah aku untuk selalu mengandalkan Dikau sehingga aku tidak berhenti menghasilkan buah yang manis bagi-Mu dan sesama. Amin.

 

Sumber: Ziarah Batin 2017

Kredit Foto: Lazarus dan Orang Kaya/WordPress.com

 

 

 

 

Share.

About Author

Comments are closed.