Renungan Harian, Kamis: 18 Mei 2017, Yoh. 15:9-11

0

erbedaan paham tentang sunat dan tidak sunat di kalangan jemaat pada masa Petrus hidup ternyata menjadi diskusi serius. Bahkan, ada yang mengadili orang yang tidak bersunat dengan mengatakan; “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat iastiadat yang diwariskan oleh musa, kamu tidak dapat diselamatkan” ( Yoh. 15; 1 ). Yang tidask bersunat adalah orang atau bangsa yang tidak mengenal hukum Musa. Sunat seolah-olah satu-satunya sarana yang membawa orang pada keselamatan. Petrus dan teman-teman justru membantah klaim seperti ini. Petrus bersaksi dengan mengatakan “…Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya” {Kis.15:7). Itu berarti Allah tidak pernah membeda-bedakan orang. Allah tidak bisa disederhanakan ke dalam rentetan aturan buatan manusia.

Kecenderungan saling mengklaim biasanya cukup subur hidup di tengah konteks beragam, apalagi kalau di antara keberagaman itu ada kelompok mayoritas. Dengan itu selalu ada kelompok orang yang dihakimi, malah bisa melakukan kekerasan terhadap orang atas Tuhan nama klaim itu. Akan lebih berbahaya apabila klaim seperti itu juga terjadi dalam iman. Seolah-olah Sang Pencipta itu hanya milik sekelompok orang. Dan kebenaran tentang Allah itu juga seakan menjadi milik mereka saja. Petrus menyadari adanya pertentangan seperti itu dan memberikan pendapat yang sangat menyejukan semua orang dari segala golongan. “Sebab itu aku  berpendapat bahwa tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah” (Kis. 15:19).

Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk dapat mencintai siapa saja tanpa memandang latar belakangnya. Jauhkan aku dari sikap menganggap diri paling benar dan meremehkan orang lain. Amin.

 

Sumber; Ziarah Batin 2017

Kredit Foto: Ilustrai (Ist)

Share.

About Author

Comments are closed.