Kesenian Kentongan Banyumasan Sambut Tim Komsos KWI

0

KESENIAN tradisional Banyumas Kentongan mengiringi dan menyambut Tim Komsos KWI dan Komsos dari beberapa Keuskupan lain yang diundang dalam Pekan Komunikasi Sosial Nasional ke-51 di sepanjang jalan Gatot Subroto hingga Jalan Gereja dan berakhir di depan Paschalis Hall Keuskupan Purwokerto, Senin (22/5/2017).

Grup Tari Pringgolaras dari Desa Beji, Kemranjen, Purwokerto khusus didatangkan untuk acara ini. Sebelumnya grup tari ini telah memenangkan lomba kesenian (sebagai juara satu) di seluruh Banyumas.

Asli Banyumas

Kentongan merupakan kesenian asli dari Banyumas. Asal Kata “kentongan” dari sebuah alat yang bernama kentong, alat komunikasi tradisional yang terbuat bambu atau kayu dan digunakan untuk memberi informasi kepada masyarakat dengan isyarat atau ketukan-ketukan tertentu.

Sekarang kentong masih bisa kita jumpai di daerah tertentu, biasanya ada di pos kampling atau pos ronda. Berkembangnya zaman membuat para pengrajin kentong Banyumasan kian kreatif. Mereka bereksperimen memadukan beberapa alat musik bambu buatan dengan kentong-kentong yang mereka buat sehingga menjadi kesenian tradisional yang dinamakan Kentongan.

Pada waktu itu, kentongan belum semodern seperti yang sekarang ini. Dulu tiap orang anggota grup kentongan memainkan satu unit kentong maupun alat musik dari bambu dengan ketukan yang berbeda-beda sehingga membuat kenthong terdengar ramai dan berirama.

Perlombaan kentongan mulai diadakan di Banyumas disekitar tahun 90-an. Tidak seperti yang sekarang ini. Dulu perlombaan kentongan diadakan di tingkat RT, RW, Kelurahan atau Desa-desa di Kabupaten Banyumas.

Memasuki tahun 2000-an mulai masuk alat musik bambu bertangga nada pentatonis kedalam kesenian kentongan, seperti calung dan angklung yang kian menambah warna musik kentongan Banyumasan.

Tidak hanya itu, beberapa komunitas pecinta seni Banyumas juga berani menambahkan unsur musik modern seperti keprak (mini drum), Ketipung (kendhang, biasanya terbuat dari ban bekas), bedug (bass drum yang besar terbuat dari drim yang ditutupi ban), kecrik (tamborin), dan seruling.

Semenjak itu, kentogan Banyumas berkembang dengan sangat pesat. Tidak hanya alat musiknya, aranesemen musik, lagu, pakaian atau seragam dan tarianpun ikut menjadi bagian dari kesenian kenthongan ini.

Dari situ lahirlah kesenian baru Banyumas yang kita kenal dengan nama Kentongan Banyumasan hingga kini.

Share.

About Author

Abdi Susanto

Pendiri Sesawi.Net dan Managing Editor di Liputan6.com

Comments are closed.