PEKAN KOMSOS

Gua Kaliori, Spirit Bunda Maria di Tlatah Purwokerto

TIDAK jauh dari Gereja Katedral Kristus Raja, Purwokerto, kurang lebih 20 km dari Kota Purwokerto, Jawa Tengah tepatnya di Kaliori terdapat tempat ziarah yang tak hanya kerap dikunjungi umat Katolik Keuskupan Purwokerto melainkan juga umat dari keuskupan lain. Gua Maria Kaliori sebutannya. Di tempat ini, Ketua Komisi Komsos KWI Mgr Hilarion Datus Lega dan para romo dari komisi komsos berbagai keuskupan di Indonesia bertandang di sela kegiatan Pekan Komsos Nasional ke-51, Selasa, (24/5/2017).

Ketua Komisi Komsos Keuskupan Purwokerto mengenalkan salah satu karya keuskupan yang cukup dikenal masyarakat luas selain dari Keuskupan Purwokerto sendiri. Gua ini dibangun di atas bukit kecil yang sebelumnya tandus dan kemudian diubah menjadi bukit yang hijau dan segar, yang menawarkan pemandangan alam yang segar bagi lingkungan sekitarnya. Gua Maria Kaliori mulai dibangun tepat pada Hai Penutupan Tahun Maria 1988, yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Mgr. P. S Hardjasoemarta, MSC.

Patung Bunda Maria yang ada di Kaliori diberkati oleh Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II ketika merayakan Misa Agung di Yogyakarta pada tanggal 10 Oktober 1989. Gua ini terletak di komplek peziarahan seluas 5,6 hektar dan dilengkapi dengan sejumlah fasilitas doa.

Inisiatif Tokoh Awam
Didirikan atas inisiatif tokoh-tokoh awam Katolik yang mengikuti Retret Awal Hidup Baru di Ngadireso, Tumpang, Malang, Gua Maria ini muncul karena dorongan kuat dari dalam batin para tokoh awam ini yang tersentuh dan dibaharui hidupnya sehingga mau berbuat sesuatu untuk Gereja dan masyarakat. Semangat makantar-makantar atau menggebu ini diawali dengan ziarah ke Gua Maria Sendangsono dan Gua Maria Kerep, Ambarawa.

 

Dari sini timbul niat dari dalam batin mereka untuk membangun gua Maria sendiri, khusus untuk umat Stasi dan Paroki St. Yosef, Purwokerto. Syukur, Gereja memberi tanggapan positif. Bahkan oleh Romo Patrick MacAnnally OMI, Pastor Paroki saat itu, pengadaan Gua Maria ini dijadikan sebagai rencana kerja Paroki. Setelah disampaikan dalam rapat BPK PKK (Badan Pembina Karismatik Keuskupan), akhirnya disetujui dan dijadikan proyek Keuskupan Purwokerto. Tujuannya memberikan kesaksian bahwa gerakan Karismatik Katolik memiliki juga devosi yang besar pada Bunda Maria.

Rencana pembangunan Gua Maria ini kemudian diusulkan kepada Bapak Uskup Mgr. P.S. Hardjasoemarta, MSC untuk dimekarkan menjadi proyek Keuskupan. Rencana ini disetujui dan pada 31 Maret 1987 dibentuklah Panitia Pembangunan Gua Maria Kaliori.

Panitia lalu bekerja dengan mencari tanah di perbukitan Kaliori untuk dibeli. Berkat bantuan Romo Patrick MacAnally, OMI, Romo Carolus Patrick Burrows, OMI, dan partisipasi umat serta donatur, dibelilah tanah seluas 5,6 ha. Pada 15 Agustus 1988, tepat pada Hari Penutupan Tahun Maria, diselenggarakan upacara peletakan batu pertama oleh Mgr. P.S. Hardjasoemarta, MSC dan dimulailah pembangunan Gua Maria Kaliori.

Pada 08 Desember 1989, Gua Maria Kaliori diresmikan oleh Dirjen Bimas Katolik, Bapak Ign. Imam Kusenowihardja dan deberkati oleh Mgr. P.S. Hardjasoemarta, MSC. Hingga kini, sudah banyak tanah, bangunan yang berdiri dikompleks peziarahan Gua Maria Kaliori, termasuk Rumah Retret Santa Maria Immaculata.

Awalnya, tujuan pembangunan Gua Maria Kaliori untuk menyambut dan megisi Tahun Maria yang dicanangkan oleh Paus Yohanes Paulus II, menyediakan tempat ziarah yang dekat dan memadai bagi umat Keuskupan Purwokerto, menghijaukan dan melestarikan tanah-tanah di perbukitan Kaliori yang tandus dan gersang, membuka lapangan kerja bagi penduduk lokal yang prasejahtera.

Namun dalam perkembangannya, rumusan visi Gua Maria Kaliori disempurnakan menjadi “Kompleks Peziarahan Gua Maria Kaliori adalah tempat berdevosi kepada Bunda Maria dan pengembangan spiritualitas Kristiani dalam mewujudkan Kerajaan Allah yang berwawasan lingkungan dan sosial masyarakat.”

Sementara misi Kompleks Peziarahan Gua Maria Kaliori disempurnakan antara lain menjadikan kompleks ini sebagai tempat devosi kepada Bunda Maria dengan tiap bulan mengadakan Novena Bunda Maria yang khas, menjadikan kompleks ini sebagai tempat pertemuan tiap orang Katolik dan juga umat lain untuk meningkatkan imannya dalam semangat Kristiani, menjadikan kompleks ini tempat yang asri, lestari, aman, nyaman, dan menyenangkan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal di bidang sosial ekonomi.

Sejak berdirinya Gua Maria Kaliori hingga kini, ada beberapa bangunan/sarana dan prasarana yang terus ditambahkan, seperti Taman Rosario Hidup, Aula St.Yoseph, toko souvenir Gua Maria, pendopo, makam Uskup dan para Imam, jalan–jalan beraspal menuju Gua Maria, Sakristi, ruang Pengakuan Dosa, MCK, makam umum, lahan parkir, pos satpam, area Jalan Salib, perumahan karyawan, dan gereja.

Cukup banyak jumlah peziarah yang datang ke Gua Maria Kaliori sejak berdirinya, baik dari Keuskupan Purwokerto sendiri maupun dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan kota-kota kecil lainnya di Pulau Jawa. Pendopo dan area Jalan Salib sering pula digunakan untuk perayaan Natal dan Paskah bagi umat beragama Kristen.

Tags

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close