Seminar Literasi Media: Dari Membaca dan Menulis, Daya Pengaruh Gadget Hingga Kualitas Literasi

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

“Jangan pernah berhenti membaca, sekalipun engkau merasa jenuh” (NN)

MIRIFICA.News, Cilacap – Sebab dengan membaca, kemampuan literasi seseorang dapat ditingkatkan. Identifikasi kebutuhan akan informasi justru dimulai dari sana.

Pendapat itu disampaikan narasumber  Budi Sutedjo saat tampil sebagai pembicara pertama pada Seminar Nasional Literasi Media Bagi Mahasiswa-mahasiswi Akademi Maritim Nasional (AMN), Rabu, 24 April 2017, Cilacap.

Ketika menjelaskan materi seputar membaca dan menulis, ia mengawalinya dengan bertanya tentang apa itu literasi media dan bagaimana membaca dan menulis dapat meningkatkan literasi membaca.

Dosen IT dari Universitas Krsiten Duta Wacana Yogyakarta itu mengatakan, literasi media tidak lain merupakan kemampuan pembaca dalam  mengidentifikasi kebutuhan akan informasi.

Ia mengungkapan saat ini di media-media atau koran, sering dikatakan  literasi pembaca itu rendah, itu artinya kemampuan pembaca mengetahui informasi itu masih rendah.

Selain itu, ia menambahkan, literasi media juga berkaitan dengan kemampuan pembaca menelusuri dan mengkritisi informasi, serta menulis kembali informasi.

“Kalau literasi pembaca rendah,  amat mudah bagi pembaca dibohongi dengan berita hoax, berita atau informasi yang dibuat seolah-olah benar, seolah-olah meyakinkan,” ujarnya

 Kembalikan Fungsi Gadget

Narasumber lain, Errol Jonathans menyoroti soal bagaimana  berkomunikasi di era digital.

“Kita di Indonesia masih menjadikan gadget sebagai alat status sosial, ini  beda dengan di Eropa. Di sana gadget murni untuk berkomunikasi.

Errol mengatakan, fakta seperti itu sebetulnya memperlihatkan adanya gagap teknologi. Akibatnya, daya teknologi komunikasi pun menurun.

“Harusnya kita diberdayakan dengan kehadiran teknologi komunikasi, bukan diperdaya oleh media,” katanya.

Direktur Radio Suara Surabaya itu lalu menyebut jika  banyak  kegaduhan terjadi di Indonesia salah satunya dikarenakan orang salah menggunakan gadget.

Mengutip kembali pernyataan Menkopolhukam, Luhut Pandjaitan, Errol mengatakan, kalau  media sosial di Indonesia bisa libur satu satu minggu saja Indonesia pasti aman.

Untuk mengatasi gagap teknologi itu, Ia berpesan supaya orang-orang muda di AMN jangan tinggal dalam keluh kesah saja, jangan hanya bertanya kenapa media sosial malah jadi anti-sosial, mengapa media sosial malah menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.

“Perilaku digital saat ini cenderung membuat semua orang serba searching, mencari, serba sharing, berbagi, tetapi yang paling istimewa orang Indonesia  narsis, alias suka pamer.

“Kita semua berada dalam budaya digital ini, diperlukan daya untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi itu.”

Jangan Underestimate

Hampir senada dengan Errol Jonathans, pakar Informasi dan Teknologi Richardus Eko Indrajit punya pendapat soal  tulisan negatif di media sosial. Ia mengatakan satu-satunya cara untuk menghapus tulisan bernada negatif adalah dengan menulis sebanyak mungkin hal positif di dalam diri, menulis keunggulan yang dimiliki.

Richardus menilai, diselenggarakannya Seminar Literasi Media saat ini merupakan kesempatan bagi para mahasiswa-mahasiswi untuk menilai diri terkait bagaimana menggunakan gadget.

Untuk itu, ia meminta agar para mahasiswa perlu menaikan literasi media dengan membuat personal website, pakai blogspot, cari situs gratis dan buat blog, biasakan posting diinstagram dan beri kata-kata inspiring, gunakanlah link sebagai sosial media yang dianggap serius, pakai google tes.

“Foto, tulis dan posting sebanyak-banyaknya di internet, Karena yang anda berikan adalah benih-benih yang baik,”ujarnya.

DI sesi tanya jawab, Hidayat, mahasiswa  AMN jurusan komputer dan jaringan bertanya kepada Richardus tentang bagaimana menganggapi komentar-komentar pedas di mesia sosial.

“Jangan langsung membalas, itu jauh lebih baik. Biasanya kita itu tidak terkontrol waktu nulis, kita dijelek-jelekin malah balik dijelek-jelekin juga. Kalau langsung membalas seperti itu maka dalam waktu singkat kita membuat report negatif lebih banyak,” Ia menjawab.

Satu lagi jawaban dari Richardus.

“Bahkan kalau perlu pray before you clik, berdoa terlebih dahulu sebelum anda mengklik,”  itu kebiasaan saya, pungkasnya.

Seminar Literasi Media di AMN  dimoderatori Sekretaris Komisi Komunikasi Sosial, Romo Kamilus Pantus, dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Komunikasi Sosial Sedunia Ke-51, yang jatuh pada tanggal 28 Mei nanti.

 

 

Share.

About Author

John L. Wujon

Staf Komisi KOMSOS KWI

Comments are closed.