HarianJendela Alkitab

Renungan harian, Kamis: 01 Juni 2017, Yoh. 17:20-26

da kalanya orang yang akan meninggal memberikan kata-kata perpisahan. Nasehat itu ditaati oleh orang yang masih hidup. Begitu pula dengan Yesus. Injil hari ini mengisahlkan sebagian dari sabda perpisahan Yesus. Dalam perjamuan malan terakhir, Yesus berdoa agar para murid-Nya bersatu. Ia tahu mereka akan mengalami tantangan berat, sebab dunia tidak mau menerima-Nya. Mereka akan ditangkap dan akan tercerai berai. Yesus berdoa agar mereka tetap bersatu, sama seperti Bapa bersatu dengan-Nya dan Dia bersatu dengan Bapa-Nya.

Kerisauan Yesus memang terjadi. Contohnya Paulus, Ia ditangkap, ditahan dan dihadapkan ke Mahkamah Agama di Yerusalem. Sebetulnya, jika Paulus mau dia bisa saja menyangkal Yesus untuk menyelamatkan dirinya. Tetapi, dia tidak berbuat demikian. Imannya teguh dan ia berani beraksi. Yesus menguatkannya juga dan mengatakan dia akan menjadi saksi-Nya  hingga ke Roma.  St. Yustinus martir dan pembela iman yang  kita peringati hari ini memberikan contoh juga. Ia berani menjadi saksi Kristus hingga mati. Ia berasal dari Palestina dan mewartakan Injil hingga ke Yunani. Mesir dan Italia. Dia dipenggal kepalanya tahun 165, karena tidak mau menyembah berhala. Bagaimana dengan kita? Bisa saja ada sikap ragu-ragu, mencoba cari selamat sendiri, atau menyembunyikan indentitas Katolik kita. Tidak mudah memang menjadi murid Yesus, apalagi menjadi kelompok minoritas. Dibutuhkan iman yang teguh.

Ya Tuhan, semoga kesatuanku dengan Engkau semakin hari semakin erat, sehingga imanku semakin kuat dan aku dapat menjadi saksi-Mu yang setia. Amin.

 

Kredit Foto: Para rasul Tuhan

 

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close