Unity: United in Diversity

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

PERSATUAN INDONESIA merupakan sila ketiga dalam Pancasila yang berisikan dua kata penuh makna, Persatuan & Indonesia. Semangat dan nilai ini yang ingin diangkat dalam seminar di Auditorium Yustinus (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya) pada 27 Mei 2017. Seminar yang dihadiri 150 orang muda dari perwakilan setiap unit PMKAJ (Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta) ini menghadirkan tiga narasumber yakni, Pendeta Raditya Oloan, Bapak Budhy Munawar Rachman beserta RD. Antonius Haryanto.

Para Narasumber dan Moderator Seminar (Doc. PMKAJ)

Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor III Universitas Atma Jaya, dr. Tommy N. Tanumihardja, Sp.An serta Romo Moderator Pastoral Atma Jaya, RD.B. Hardijantan Dermawan. Keduannya menekankan pentingnya kegiatan ini untuk semua kalangan khususnya orang muda untuk menumbuhkan semangat persatuan bangsa ini. Kegiatan ini merupakan rangkaian action plan PMKAJ yang diselenggarakan oleh unit Pastoran Atma Jaya.

Pendeta Raditya Oloan yang kini bergerak bersama Generasi Zeru, menekankan terkait hal-hal yang mempengaruhi kesatuan kita sebagai bangsa dari budaya/bahasa, visi/tujuan, hobi, kebutuhan/kepentingan & penderitaan. Juga membahas pentingnya generasi muda untuk mencari identitas diri & tantangan generasi muda. Bang Radit yang biasa disapa, menganjurkan kita agar

“sebagai  umat manusia milikilah cinta kasih, bahwa benci itu ada karena ketiadaan  dari yang namanya cinta kasih” – Pendeta Raditya Oloan–

Lalu pada sesi pembicara kedua, mengenai pemaparan dari seorang pemikir Islam progresif yang melihat Islam dari kacamata yang lebih terbuka, toleran, dan demokratis, yaitu Bapak Budhy Munawar Rachman, membahas persoalan demokrasi kita saat ini, perspektif toleransi & agama, serta bagaimana dunia pendidikan menjawab tantangan yang ada dan perlunya pemahaman atas isu yang ada. Serta beliau mengingatkan kita

“sebagai warga negara Indonesia jadilah rendah hati dan proaktif.”

Budhy Munawar Rachman-

Rendah hati dimaksudkan bagaimana kita menjadi warga masyarakat yang inklusif dengan sesama kita, tidak menganggap diri paling benar. Menjadi proaktif – jangan sampai hak hak kita sebagai warga negara dikorbankan bagi kepentingan-kepentingan mayoritas yang bukan dari hati kita.

Kemudian pada sesi ketiga, Romo Haryanto selaku Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI bercerita pengalaman keluarganya yang “Bhineka” (beragam) yang menjadi fondasi dalam kehidupannya. Kita perlu memahami konsep KPK (Kenali Diri, Perhatikan Sekitar, Kembangkan & Kisahkan) dalam hidup kita termasuk dalam pengalaman keberagaman.

Romo Haryanto, Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI (Doc. PMKAJ)

Beliau yang ikut menggagas forum Temu Kebangsaan yang memasuki tahun ke II mengatakan:

“Sebagai anak muda seringlah jalan-jalan, kenapa? Karena pikiran kita akan terbuka bertemu dengan banyak orang  dan kita bisa melihat keindahan yang ada”

– Romo Haryanto –

Ketiga pembicara dalam Seminar PMKAJ ini dalam sesinya juga menyinggung tentang dasar negara kita yaitu Pancasila dan mengapa Pancasila itu penting untuk dimaknai. Semua pembicara sepakat bahwa Pancasila merupakan perekat pemersatu bangsa Indonesia. Maka dari itu diharapkan anak muda sebagai generasi penerus bangsa, harus menjadi sosok yang aktif sebagai pelaku untuk mempertahankan persatuan & kesatuan Indonesia. Jangan pernah kehilangan harapan atas Indonesia. Selamat memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Salam Bhinneka Tunggal Ika. – PMKAJ –

UNDUH PDF & VIDEO PEMATERI di: http://tiny.cc/UNITYPMKAJ

Kunjungi juga:

Penulis berita: Sekretariat PMKAJ, ithumaspaj@gmail.com

Share.

About Author

RD. Kamilus Pantus

Imam diosesan (praja) Keuskupan Weetebula (Pulau Sumba, NTT); misiolog, lulusan Universitas Urbaniana Roma; sekarang berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI.

Comments are closed.