Panggilan Mewarta di Dunia Maya

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

 

MIRIFICA.NEWS, FAKFAK – Di kala peserta berkonsentrasi menghasilkan karya tulis, Agung Nugroho -fasilitator pelatihan jurnalistik bagi OMK TPW Fakfak-Kaimana- mengajak seluruh peserta untuk menyadari panggilan mewarta di dunia maya.

“Kita harus memahami media sosial sebagai sarana. Pertama kali internet muncul dan Gereja menanggapinya melalui Paus Benediktus XVI,” kata Agung. “Yang mau saya katakan, Gereja terbuka dengan alat-alat seperti ini. Kita bisa memanfaatkan apa yang baik dari Gereja untuk umat,” ujarnya.

Mengingat Gereja peziarah yang bersifat misioner, pewartaan menjadi unsur hakiki dari Gereja. Yesus Kristus sendiri mengatakan tugas pewartaan pada Matius 28:19-20. “Kalau kesadaran ini tidak diaktualisasikan, betapa celakanya kita!” tegas pemimpin redaksi Majalah HIDUP tersebut.

“Mewartakan tidak hanya ngomong, tapi juga nulis. Kalau yang senang foto, bisa foto,” tukasnya.

Belajar dari mimpi Paulus untuk mewarta ke ‘dunia baru’; dari Palestina dan Asia Kecil ke Yunani dan Eropa. “Media sosial adalah dunia baru sebagai lahan misi,” tegas Agung kepada para peserta pelatihan jurnalistik.

Ia melanjutkan, “Kita bersikap layaknya Gereja bersikap. Gereja memandang dunia internet sebagai dunia baru yang harus disambut. Sehingga kita juga harus menanggapi dunia ini. Persoalannya, bukan alat komunikasi apa yang harus kita pakai, tapi cara komunikasi apa yang harus kita pakai agar pewartaan bisa sampai kepada umat dengan maksimal.”

Gereja tidak mempersoalkan alat yang kita pakai, tetapi yang digarisbawahi adalah cara komunikasi kita. “Apakah kita mau pasang status yang provokatif? Atau dengan kata bijak yang mengejutkan banyak orang?”

“Selesai Anda pelatihan ini, Anda pun adalah agen komsos, titik! Tidak bisa ditawar lagi; menjadi agen kabar baik,” tegas Agung.

Share.

About Author

Kevin Sanly Putera

Jurnalis lepas, videografer, trainer, Tim Komsos KWI

Comments are closed.