HarianJendela Alkitab

Renungan Harian, Rabu: 14 Juni 2017, Mat. 5:17-19

AULUS membandingkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, hukum Taurat Musa dengan hukum Kristus. Hukum Taurat itu terukir di dalam loh-loh batu di Gunung Sinai, kaku, dan tidak hidup. Sebaliknya, Perjanjian Baru berasal dari Roh, terukir dalam hati manusia, menghidupkan dan menghasilkan keselamatan kekal.

Yesus mengatakan bahwa Dia datang bukan untuk menghilangkan hukum Taurat, tetapi untuk menyempurnakannya. Hukum Taurat itu baik isinya, tetapi hukum itu tidak boleh dilakukan demi hukum itu sendiri (legalisme) sehingga orang merasa terbeban, terbelenggu dan berdosa jika tidak melaksanakannya. Yesus mau kita melaksanakan hukum Tuhan dengan semangat baru. Mentaati hukum Allah karena cinta kepada-Nya, bukan karena takut berdosa sehingga tidak ada beban. St. Agustinus berkata, “ama et fac quod vis” – cintailah, lalu lakukanlah apa yang kamu kehendaki.

Memang, dalam cinta tak ada rasa takut lagi, sebab segala aturan kita lakukan dengan gembira dan tanpa rasa salah. Itulah hukum yang membebaskan. Yesus ingin kita menaati hukum Tuhan seperti itu. Untuk itu, Yesus memberikan Roh Kudus, Roh yang membarui semangat kita. Roh Kudus itu penting dalam hidup kita, agar kita tidak jatuh dalam legalisme dan sikap mudah mengendalikan orang lain berdosa. Dalam Yesus ada sukacita dan bukan ketakutan. Santa Teresa dari Kalkuta meneguhkan kita, “Kasih yang sejati tidak pernah menuntut, tetapi ia hanya dapat memberi.”

Ya Tuhan, semoga aku menjalankan perintah-perintah-Mu bukan karena takut berdosa, tetapi karena cinta kepada-Mu. Amin.

 

Sumber: Ziarah Batin 2017

Kredit Foto: Kitab Taurat

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close