HUT Imamat Mgr. Hilarion Dirayakan Bersama Umat TPW Fakfak

0

PESAWAT Wings ATR 72-600 membawa Mgr. Hilarion Datus Lega dan Pastor Jerry Andrew Rumlus, Pr dari bandar udara Domine Eduard Osok Sorong menuju bandar udara Torea Fakfak, kamis 15 Juni 2017. Kehadiran Uskup Manokwari Sorong kali ini untuk bersyukur bersama umat atas Hari Ulang Tahun Tahbisan Imam ke-33. Kendati umat sudah menunggu dari jam 09.00 WIT, namun kedatangan uskup pada pukul 13.45 WIT tidak menyulutkan semangat umat menerima gembala mereka dengan gembira. Dengan dikomandani Pastor Matheus Sukmawanto para rombongan penjemput menyambut sang jubilaris dan siap mengaraknya menuju gereja St. Yosep Fakfak.

Fredi Warpopor dan Yuliana Gredenggo memberikan pengalungan Bunga serta Topi Cenderawasih kepada uskup Datus

Diluar Bandara, rombongan disambut perwakilan Etnis Fakfak dari Suku Mbaham-Matta dengan pengalungan bunga serta topi Cenderawasih sebagai Ucapan “Selamat Datang di Jazirah Onim”. Rombongan bapa uskup dengan menumpang kendaraan roda empat berarak menuju gereja katolik Santo Yosep Fakfak bersama iring-iringan pengamanan dari Polres Fakfak diikuti para Pastor,  para Ketua Dewan Paroki dan Stasi, Pemuda Katolik (PK) Komisariat Cabang Fakfak, Orang Muda Katolik (OMK) dan ratusan Umat Katolik.

Memasuki halaman Sekretariat Gereja Katolik Santo Yosep Fakfak, Bapa Uskup disambut oleh Kelompok Etnis Kei dengan “Tarian Perang”. Tiba di halaman gereja,  Mgr.Hilarion dan  Pastor Jerry Andrew Rumlus, Pr diterima oleh Ketua TPW Fakfak, Pastor Jhon Tala, Pr dan Bapak Silvester Sia selaku Ketua Panitia Pelaksana Syukuran Imamat 33 Tahun Uskup Keuskupan Manokwari Sorong. Menutup sesi penyambutan, uskup mengajak para penari untuk foto bersma dengan latar Gereja Katolik Yosep Fakfak.

Mgr. Datus foto bersama dengan para penari.

Misa Syukur Imamat

Bertempat di Gereja Katolik Santo Yosep Fakfak, pukul 16.30 WIT berlangsung perarakan meriah  dengan tarian etnis Bajawa sebagai pembuka Perayaan Ekaristi. Hadir dalam Misa tersebut ribuan umat, para imam, biarawan-biarawati dan tokoh umat. Suasana Bhineka Tunggal Ika benar-benar terasa. Setiap etnis mengenakan kostum adat daerahnya. Lagu-lagu pujian dan syukur dilantunkan oleh berbagai kelompok paduan suara,   Santa Sesilia, Santa Maria Merapi, Gregorian Choir.

Mengawali kotbahnya, Ketua Komisi Komsos KWI menceritrakan perjalanan panggilannnya menuju tahbisan imam 33 tahun lalu. Ditahbiskan di Gereja Katedral Ruteng 15 Juli 1984. Ayahnya seorang putra Manggarai dan ibu dari Kupang, berdarah Portugis. Hilarion, demikian ia biasa disapa, lahir, hidup dan besar di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ayahnya terpilih sebagai Bupati di Kabupaten Manggarai pada saat Hilarion duduk di kelas 5 SD. “Hebat ka tidak, saya anak bupati?, canda uskup Datus. Dengan kompak umat yang memadati gereja St. Yosep menjawab: “Hebat”.

Meskipun ayahnya seorang Bupati yang menjabat selama 13 tahun, Uskup tidak merasa sebagai yang harus  diperlakukan khusus. Ia sudah masuk seminari pada saat itu berumur 12 Tahun dan masih kecil. Baginya, Pendidikan dan pendampingan anak-anak harus dengan keleluasan sekian sehingga orang bertumbuh sesuai dengan bakat-bakat, perkembangan dan kemapuan sendiri bukan karena embel-embel, status dan seterusnya, ajak uskup kepada umatnya.

Lebih lanjut Uskup Datus mengajak umat dalam misa itu,  “Saya rasa karena anak-anak itu bertumbuh sesuai dengan bakat dan kemapuan, ia juga dapat dibentuk. Peran dari guru-guru SD dan seminari yang luarbiasa dalam pengabdian yang besar dan berdedikasi tinggi selama beliau menempu pendidikan di seminari menengah. Oleh karena itu pembentukan anak-anak sadar atau tidak, amat dipengaruhi oleh guru-guru. Untuk itu Uskup mengharapkan, agar guru-guru di zaman yang maju ini harus juga lebih maju.

Uskup Datus menyampaikan kotbah di depan imam dan umat.

Ditahbiskan dengan motto yang diambil dari Mazmur 8, “ Betapa Mulia Nama-MU Ya Tuhan di seluruh Bumi”. Dengan motto ini, uskup Datus menyadari bahwa “imamat itu anugerah Tuhan bukan karena Jasa-jasa, kepandaian, turunan, status, tetapi karena Tuhan yang mau. Kalau Tuhan tidak memanggil, tidak mungkin seseorang dalam Gereja Katolik meraih, dijamah untuk menghayati Imamat. Pasti susah. Karena cara hidup imam dalam gereja katolik itu lain. Harus meninggalkan segala-galanya dan harus menyangkal dirinya. Menjadi imam itu adalah persembahan diri. Kita tidak melaksanakan ambisi sendiri, tetapi ada pimpinan, ada organisasi dan penugasan”, demikian refleksi mgr. Datus.

Kepada para imamnya, uskup Datus menyapa secara khusus, “jangan menjadi imam itu seperti memikul beban, seperti hal yang menjadi risau dan galau, tetapi sebaliknya karena kita mengambil bagian dalam pekerjaan-pekerjaan Tuhan dan pekerjaan-pekerjaan Tuhan itu selalu disebut Karya Keselamatan, Kabar Sukacita, maka hidup dan pembawaan dari pewarta-pewarta itu harus juga mencerminkan cita-cita itu. Karena, suka atau tidak, cara hidup lebih berbicara daripada pengajaran-pengajaran. Cara hidup lebih bergema daripada rumusan-rumusan,  sehingga sukacita itu mau tidak mau harus membawa orang kepada perasaan bersyukur, berterima kasih”.

Lebih lanjut uskup menyinggung pentingnya ucapan syukur dalam perjalanan imamat. “Saya tidak bisa membayangkan, imam-imam dengan sukacita imamatnya, tidak bersyukur atas rahmat imamat itu. Karena sebagaimana semua orang menghendaki, penghayatan untuk menjadi imam itu sepanjang umur hidup. Itu tidak pernah terikat kontrak.Tidak pernah ada masa jabatan. Oleh karena itu, syukur atas imamat tidak masalah melibatkan juga umat yang banyak, menyertakan juga pernak-pernik dan kegiatan-kegiatan yang mungkin membawa dan menghimpun sukacita dan kebersamaan itu baik dan tidak masalah. Supaya mudah-mudahan kita semua ingat, dan membawa kenang-kenangan masing-masing untuk menjadikan diri kita sendiri bermanfaat. Karena dalam keyakinan katolik, semua orang yang dibaptis itu juga mengambil bagian dalam Imamat dari Tuhan Yesus yakni Imamat Umum, boleh menjadi Imam, Nabi dan Raja.” Tegas Uskup.

Penyerahan potongan kue kepada para pastor, perwakilan suster, tokoh umat

Perayaan syukuran imamat uskup Datus dilanjutkan dengan ramahtamah bersama umat TPW Fakfak di halaman gereja St. Yosef Fakfak. Bapak Silveserter Sia selaku ketua panitia bersama para pastor yang berkarya di TPW Fakfak serta panitia telah menyiapkan acara resepsi yang meriah dengan tarian dan lagu yang dibawakan oleh etnis-etnis yang ada di wilayah tersebut.

Penulis Berita : Marthina Fifin Da Lopez (MFD), Komsos Paroki Santo Paulus Fakfak

Sumber Foto  : MFD, Bartolomeus Nauri dan Yudi  (Komsos, Paroki Santo Yosep Fakfak)

Editor: RD. Kamilus Pantus

 

Share.

About Author

RD. Kamilus Pantus

Imam diosesan (praja) Keuskupan Weetebula (Pulau Sumba, NTT); misiolog, lulusan Universitas Urbaniana Roma; sekarang berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI.

Comments are closed.