Tak Usah Takut, Tapi Jadilah Orang Takwa!

0

Rekan-rekan yang baik!

DITEGASKAN dalam Mat 10:26-33 bahwa para rasul tak usah takut akan kesulitan, perlawanan, dan penderitaan dalam menjalankan tugas mereka. Malah mereka didorong agar berteguh mempersaksikan Yesus. Apa warta petikan yang dibacakan dalam Injil Minggu Biasa XII/A bagi kita pada zaman ini?

Injil hari ini mengajak pembaca mengenali sumber kekuatan para rasul. Kesadaran inilah yang bakal memperkaya pembaca. Petikan tadi ditulis untuk menjelaskan mengapa para rasul bisa tetap teguh dalam perutusan mereka kendati mereka kerap ditentang. Jadi baik disadari bahwa kata-kata yang diperdengarkan dalam Injil bukannya langsung dimaksud untuk menyemangati pembaca zaman ini.

Pemakaian Injil seperti itu akan mengobarkan perasaan yang cepat padam dan kurang menajamkan iman Injili yang bisa jadi pegangan kukuh. Dan cara mendalami seperti itu juga tercermin dalam bacaan pertama Yer 20:10-13 yang akan dibicarakan dalam tulisan ini.

Konsekuensi perutusan

Para rasul dipilih Yesus untuk ikut serta dalam karyanya dan, dalam pandangan generasi selanjutnya, mereka menjadi para pemimpin dalam komunitas para pengikut Yesus. Apa konsekuensi penugasan ini bagi kehidupan mereka? Dalam ay. 16-25 disebutkan bahwa mereka diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala dan hendaknya mereka cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Murid-murid akan dimusuhi, bahkan oleh orang-orang yang dekat, dengan alasan mereka itu menjadi murid Yesus. Bagaimanapun juga hendaknya mereka sadar bahwa Roh Bapa akan menyertai dan membela. Sekaligus mereka diharapkan agar juga tidak gegabah asal mau bertahan. Bila dianiaya di satu kota hendaklah pergi ke kota lain; urusan yang tidak bisa mereka jalankan sendiri sebaiknya diserahkan saja kepada Anak Manusia yang sudah datang (ay. 23).

Dengan menerima perutusan mereka, para rasul menjadi senasib dengan guru mereka. Ditolak, dimusuhi, diadili dan menghadapi risiko dibunuh pula. Senasib dengan guru mereka itu pahala dan konsekuensi menjadi utusannya. Tetapi mereka tidak ditinggalkan sendirian. Dalam arti apa? Ada kekuatan yang menyertai mereka dan menyelamatkan ketika sungguh terancam? Kiranya tidak sesederhana ini jawabannya.

Janganlah diharapkan akan ada kekuatan ilahi, roh dari langit yang menjadi bodyguard, pengawal pribadi yang siap menolong bila terancam. Angan-angan seperti ini tidak cocok dan malah akan merendahkan kuasa langit serta kemungkinan-kemungkinan manusia. Tidak diajarkan agar para murid melihat diri menjadi orang yang bisa membuat para pengejek kualat dan kena hukuman dari atas. Itu cara-cara kaum preman rohani, dan bukan yang diharapkan dari rasul-rasul Yesus. Para rasul diminta berani memakai sumber kemanusiaan mereka dalam menjalankan tugas luhur mereka. Mereka diharapkan dapat menilai keadaan – bijaksana. Dan tetap tulus – menjaga integritas diri mereka.

Jangan takut!

Petikan yang sedang diulas ini memiliki dua bagian, yang pertama ialah Mat 10:26-31 dan yang kedua Mat 10:31-32. Bagian pertama memuat ungkapan “Jangan takut!” sampai empat kali (ay. 26 28a 28b 31). Bagian kedua berbicara mengenai keberanian bersaksi dan baru dapat didalami atas dasar bagian yang pertama. Oleh karena itu marilah kita dalami bagian pertama terlebih dahulu.

GUS: Matt, kayaknya kata-kata yang kausampaikan dalam ay. 23-31 itu mirip dengan Luk 12:2-9. Apa saling kutip? Mark kok diam.

MATT: Ah, kan sudah tahu bahwa selain mengolah kembali tulisan Mark, aku dan Luc juga memakai catatan-catatan mengenai kata-kata Yesus yang baru beredar setelah Mark selesai menulis Injilnya.
GUS: Tapi kau agak berbeda dengan Luc yang langsung berkata (Luk 12:2) bahwa tak ada yang tertutup yang takkan dibuka. Engkau mulai dengan mengatakan jangan takut terhadap “mereka” – tentu maksudmu mereka yang memusuhi – dan baru sesudah itu pembicaraannya sejajar degan Luc.
MATT: Sengaja kutonjolkan ungkapan “jangan takut” agar jelas bahwa wartanya terbingkai oleh gagasan itu.
GUS: Tolong jelaskan lebih lanjut!
MATT: Tugas yang dimaksud ialah menjelaskan kepada orang banyak siapa Yesus itu. Tugas ini bisa menakutkan yang ditugasi. Bisa bikin waswas diri sendiri. Jangan-jangan pengalaman amat pribadi percaya dan berguru pada Yesus itu diketahui orang banyak dan mereka dimintai pertanggungjawaban. Kan para murid itu dulu sealiran dengan orang-orang yang kemudian mau mempertanyakan keyakinan mereka.
GUS: Kau bilang waswas. Bener kagak kalau dikatakan waswas itu tidak sehat. Waswas itu rasa takut yang disebarkan oleh mereka yang tak bermaksud baik. Kekhawatiran yang menggoda terus-menerus dan bisa melemahkan. Eh, tahu tidak bahwa “waswas” itu asalnya dari kata Arab dan artinya bisikan setan yang bikin bingung, membuat hilang kepercayaan. Jadi “jangan takut” yang kita bicarakan ini menyangkut rasa waswas seperti ini kan?
MATT: Ehm, prof filologi Semit! Tapi benar, yang dimaksud memang jangan membiarkan diri dihanyutkan rasa takut yang begitu itu, yang hanya bikin waswas terus, yang mengendurkan semangat.
GUS: Tanya lagi nih tentang hubungan dengan sumber kalian bersama tadi. Yesus mengatakan agar murid tidak takut, yakni tak usah waswas, akan mereka yang bisa membunuh tubuh, tapi tidak dapat mencelakakan jiwa. Yang hendaknya ditakuti itu Dia yang bisa membinasakan jiwa dan tubuh di dalam neraka. Luc (Luk 12:4-5) yang biasa berpikir Yunani itu tidak memakai pembedaan tubuh dan jiwa seperti Mat 10:28.

MATT: Maksudku memang untuk menajamkan perbedaan yang di luar dan yang di dalam hidup kita. Tubuh bisa dicincang, tapi jiwa itu milik Yang Mahakuasa. Takutilah Dia kalau kau memang mau mengerti rasa takut yang membawa kalian ke dekat Dia.
GUS: Jadi para rasul tak usah waswas akan mereka yang bisa mempersukar yang di luar, tetapi tak bisa mengubah keyakinan. Kemudian para rasul itu juga diperingatkan agar takwa kepada Dia! Begini, Matt, kata takwa itu kan dari Arab taqwa, artinya takut kepada kekuatan ilahi degan sikap menghormat, dan mengharapkan kekuatan darinya, bukan takut yang waswas tadi itu, yang membuat orang mau melarikan diri.
MATT: Menarik! Mestinya dulu aku nulis dalam bahasa Indonesia…!
GUS: Para rasul juga diminta agar tak lagi waswas karena mereka itu jauh lebih bernilai daripada burung pipit yang walaupun harganya cuma sepeser toh tidak dibiarkan jatuh ke bumi tanpa kemauan Bapa di surga.
MATT: Begitulah, yang seremeh itu saja diperhatikan, apalagi para rasul. Tentu saja mereka dilindungi Bapa. Maka tak usah waswas, begitulah kiranya cara berpikir yang hendak diajarkan Yesus kepada para utusannya.

Pembicaraan dengan Matt ini menerangkan mengapa dalam ay. 32 ditegaskan bahwa barangsiapa mengakui Yesus di depan manusia, maka Yesus pun akan mengakuinya di depan Bapanya. Mengakui Yesus tentunya menerima warta Yesus tanpa membiarkan diri diusik rasa waswas dan terpengaruh bisikan-bisikan jahat mengenai dirinya, melainkan menjalankan perutusan dengan sikap takwa kepada Dia yang mengutus Yesus sendiri, yakni Bapanya. Jadi, menyangkal ialah membiarkan diri terus menerus hidup dalam perasaan tak menentu, waswas akan kebenaran warta Yesus, dan dengan demikian menyangkal juga yang mengutusnya. Orang seperti ini sudah berkubu kepada pembisik rasa waswas tadi dan tidak takwa kepada Bapa.

Pembedaan waswas dengan takwa itu dapat membuat kita semakin mengenali rasa takut, kurang aman, gelisah yang memang menjadi bagian dalam hidup kita sebagai manusia. Bisa saja keduanya tercampur, tapi makin diperiksa, arah-arahnya akan makin terlihat.

Ajaran Kebijaksanaan

Dalam Mat 10 termuat perkataan Yesus yang kemudian menjadi bekal bagi para utusannya. Bukan bekal fisik, melainkan bekal kebijaksanaan. Yang dimaksud ialah kepintaran menilai keadaan. Mereka juga diberi tahu (ay. 11-15) agar tidak memaksa-maksakan “salam”. Mereka tidak disuruh menjadi pemertobat orang banyak dari pintu ke pintu, dari rumah ke rumah. Bila disambut baik, syukur, dan di situlah damai bisa diwartakan lebih jauh. Bila tidak diterima, pergi saja, dan tak usah memberi kesan pernah berjalan ke situ, ini arti mengebaskan debu.

Kebebasan orang yang menerima atau yang kurang menerima patut dihormati. Juga dalam keadaan dimusuhi atau berada di lingkungan yang kurang menguntungkan mereka dianjurkan agar bersikap bijaksana dan apa adanya, tulus (ay. 16). Bahkan bila mereka diperlakukan dengan buruk di satu tempat, tak usah ngotot bertahan seolah-olah mereka tugas pokok mereka itu mati sebagai martir. Yesus mengajarkan, dalam keadaan itu lebih baik pindah mewartakan ke kota lain (ay. 22). Kebijaksanaan ini membuat mereka sanggup bertahan.

Dalam nasihat-nasihat agar jangan takut para rasul diajar mengamati rasa takut, mana yang melemahkan, mana yang menguatkan. Bagi kita? Boleh jadi tidak semua dari kita perlu merasa diutus seperti para rasul dulu. Jelas tidak semua diberi tanggung jawab seperti mereka. Namun bekal bagi kita sama. Kebijaksanaan dan ketulusan. Dan juga baru berguna bila dipakai.

Mengenai Bacaan Pertama (Yer 20:10-13)

GUS: Pak Yer, tulisan Nabi Yeremia yang kita dengar ini isinya kok keluhan melulu ya?
YER: [ketus]Tauk! Tanyak ke sana sendiri!
GUS: [sadar salah pencet tombol, ambil strategi baru omong-omong]Nanti deh kalau ketemu. Bacaan kali ini kiranya tentang Nabi Yeremia yang barusan dibogem mentah imam Pasyhur bin Imer yang kemudian menjebloskan sang nabi ke dalam penjara (Yer 20:1-6) karena kritik pedasnya terhadap tipisnya iman di kalangan kaum beragama resmi di tempat ibadat Pasyhur tadi.
YER: [mulai tertarik]Memang, itu terbaca dalam Yer 19:, terutama ayat 15. Nabi yang kini meringkuk di penjara itu kemudian mendaraskan doa (Yer 20:7-9) yang memang kedengaran seperti keluh kesah.
GUS: Jadi bukan semata-mata meratapi keadaan diri?
YER: Far from it! Yang kedengaran seperti keluh kesah itu sebetulnya mawas diri, menyadari bahwa hati nurani dan kata-katanya menjadi jalan bagi Yang Maha Kuasa mengingatkan orang banyak akan keadaan mereka sendiri.
GUS: Menarik, Pak Yer, apa keadaan mereka itu bisa dikatakan seperti kurang mengindahkan Dia sendiri dan malah mengolok-olok dan menyakiti orang yang mau memperkenalkan-Nya dengan baik-baik?
YER: Begitulah, mengerti sendiri kan?
GUS: Dalam petikan yang dibacakan Nabi Yeremia merasa sendirian, ditinggalkan mereka yang dekat, dimusuhi tapi ia juga mengatakan bahwa Tuhan menyertai dia sehingga ia tak kehilangan semangat, tak gentar oleh bisikan-bisikan orang banyak yang berisi ancaman memperkarakannya. Dia akan dibuktikan benar oleh Dia sendiri (Yer 20:10-12).
YER: Lha iya, malah Nabi Yeremia berani berkata mereka yang melawannya akan kena malu sendiri karena mereka akan terbukti keliru. Maka ia malah makin percaya diri, bukan sambat-sambat melulu, tapi mengajak orang bergembira memuji Yang Maha Kuasa (Yer 20:13).

Kiranya Nabi Yeremia sadar akan risiko yang dihadapinya dan tidak undur melainkan berteguh dalam komitmennya untuk setia pada Tuhannya. Baginya yang membuatnya mengalami resik dan bahaya juga sekaligus sumber kekuatannya. Tapi jelas juga yang hendak disampaikan teks Yeremia bukanlah imbauan agar orang meniru melainkan ajakan untuk menemukan kepuasan dan keberanian, bukan ngotot bersaksi atau berkeyakinan dengan membabi buta.

Kredit Foto: iglesiaadventistadeportalesdf.blogspot.com

Share.

About Author

A. Gianto

Pastor Yesuit, anggota Serikat Yesus Provinsi Indonesia; profesor Filologi Semit dan Linguistik di Pontificum Institutum Biblicum, Roma.

Comments are closed.