Renungan Harian, Sabtu: 15 Juli 2017, Mat. 10: 24-33

0

EKHAWATIRAN saudara-saudara Yusuf yang dulu telah membuang dia tidak beralasan. Yusuf justru menyampaikan sebuah kebijaksanaan ilahi, bahwa kejahatan yang direka oleh saudara-saudaranya itu telah direka oleh Allah untuk suatu kebaikan, yakni memelihara hidup bangsa yang besar (bdk. Kej. 50:20). Hal yang senada dipesankan Yesus kepada kedua belas murid yang diutus-Nya, agar tidak takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa. Para murid disebut-Nya lebih berharga daripada banyak burung pipit yang seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapa (bdk. Mat. 10: 29-31). Kekhawatiran terhadap para penganiaya tidak boleh membuat surut semangat untuk bersaksi dengan terus terang. Kesaksian akan Kristus mesti disampaikan para pengikut-Nya dengan apa adanya, sebab pada saat itu juga Kristus akan mengakui mereka di depan Bapa-Nya yang di surga.

Tekanan dan intimidasi atas para pengikut Kristus di dunia yang semakin sekuler ini terus menerus terjadi. Bagi yang mudah berkecil hati, kenyataan itu bisa mengurungkan niat yang sudah tumbuh di dalam hati. Itu sebabnya di antara umat Kristiani mesti ada dukungan dan apresiasi yang terbuka satu terhadap yang lain. Yang juga diperlukan ialah kesaksian sebagia komunitas, dan bukan hanya kesaksian sebagai pribadi.

Yesus, Engkau telah menegaskan bahwa Bapa melindungi semua orang yang berani bersaksi tentang karya-Mu. Semoga aku dengan keyakinan meluaskan kesaksianku dalam kebersamaan dengan saudara seiman yang lain. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2017

Kredit Foto: Ilustrasi (Ist)

Share.

About Author

Leave A Reply