Patung Tanpa Wajah Diam dalam Kesunyian

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

RINTIK hujan tak menghalangi langkah kami menuju Lembaga Pendidikan Teknik Katolik (LPTK) yang berada di bawah Pusat Bina Iman St. Antonius, Mela tempat kami menjalani pelatihan, Kamis (11/8) sore itu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.20 WIB. “Pasti sepi, karyawan sudah pulang. Dan Bruder Martinian sudah tidak di lokasi seperti biasanya,”batin saya.

Meski begitu, kami tak surut langkah. Tugas mengumpulkan informasi tentang LPTK dari AA Kunto A yang melatih kami menulis produktif harus dijalankan. Kami harus mendapat data apa pun.

Patung tanpa wajah menghadap dinding / Foto : Sr. Dominika Nababan OSF

Tepat seperti dugaan kami, tempat itu lengang sesampainya kami di sana. Bruder Martinian OFMCap sang kepala bengkel tidak ada di lokasi. Biasanya jam segini dia sedang menyiapkan ibadat sore. Di tempat kerja yang besar seukuran lapangan basket itu kami lihat potongan-potongan batu alam persegi empat, mesin-mesin pemotong batu dan sebuah tempat khusus pemotongan batu. Dua ruangan terkunci. Bisa jadi, peralatan-peralatan pertukangan tersimpan di situ.

Tak sengaja, mataku tertuju pada sebuah patung. Kelihatannya patung Bunda Maria. Kurang lebih satu meter tingginya. Catnya mengusam. Anehnya, patung diletakkan menghadap dinding. Cekrek, saya foto patung yang berdiri membelakangi. Saya pikir itu biasa saja. Maklum, sudah bertahun-tahun, bengkel ini menjadi rumah produksi altar, tabernakel, tempat lilin dan berbagai peralatan rohani lain dari batu alam. Bahkan, beberapa altar gereja dan kapel di Keuskupan Sibolga dibuat di tempat ini. Karya Bruder Martinian dan kawan-kawannya ada di mana-mana, termasuk altar Gereja Katedral Sibolga dan Kapel suster-suster OSF San Damiano, serta Gereja St. Yosef Pandan. Saya pun berlalu begitu saja usai mengambil gambar patung bercat putih itu.

“Suster, mari sini! Patungnya seram sekali,”ujar salah satu kawan yang tak sengaja melihat muka patung yang baru saja dipotret. Penasaran, kami bertiga bergegas mendekatinya. Padahal tadi sudah hendak meninggalkannya. Dan, rasa kaget diiringi teriakan kecil membuat bengkel sunyi itu jadi ramai sejenak. Ternyata patung itu tidak berwajah. Mukanya dikikis. Dugaan kami, patung ini sudah rusak parah di bagian muka. Karena hendak diperbaiki, muka patung itu lalu dipotong. Spontan, cekrek. Kami pun memotret patung itu lagi dengan gawai yang selalu ada di tangan.

Masih dalam keadaan terpana dengan patung itu, kami pulang ke aula tempat semula berkumpul bersama 20 teman lain yang datang dari berbagai paroki termasuk dari Nias. Laporan kepada AA Kunto A tidak membuatnya puas. Justru yang aneh dia malah mengajak kami berefleksi atas patung tanpa wajah itu. Bisakah patung tanpa wajah itu dijadikan alat ‘cermin’ yang menggambarkan LPTK saat ini? Pertanyaan itu membuat kami tersentak.

Padahal awalnya kami mengira tidak mendapat informasi apa-apa yang unik dan menarik seperti yang diminta. Namun rupanya patung tanpa wajah itu justru membuat kami merenung lebih dalam. LPTK ini sudah tak lagi sejaya dulu ketika Bruder Heinrich asal Jerman tinggal dan mengelola bengkel ini. waktu itu, banyak siswa belajar di tempat ini. Mereka menjadi terampil dan berwirausaha menghasilkan lemari, meja, kursi, tempat tidur, tempat lilin dan lonceng seperti yang dibuat di tempat ini juga.

Kini, bengkel ini tak lagi menampung siswa. Sekolah pertukangan tinggal gedung kosong. Siswa sama sekali tak ada. Banyak orang tua tak lagi berminat menyekolahkan anaknya ke bengkel ini. Salah satunya mungkin karena sekolah ini tak mengeluarkan ijazah, melainkan hanya sertifikat. Mungkin.

Biaya operasional yang tinggi membuat keuskupan tak lagi sanggup menggaji karyawan yang saat itu berjumlah 72 orang. Perlahan, karyawan tinggal 7 orang. Mereka bekerja saat ada pesanan saja entah bangku gereja, perlengkapan komunitas biara seperti tempat tidur, lemari, meja, kursi atau yang lainnya.

Apakah LPTK ini sedang seperti patung yang kelihatannya sedang diperbaiki? Diam dalam sunyi dan akankah kembali seperti semula? Mungkin, sekali lagi kami hanya bisa menduga.

Penulis : Sr. Dominika Nababan, OSF

Share.

About Author

Comments are closed.