Siraman Rohani, Jumat: 22 September 2017 – Setiap Anggota Gereja Kristus Harus Merasa Memiliki Dan Bertanggungjawab Menghidupkannya, Lukas 8:1-3

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Saudara-saudari…

Pada satu kesempatan saya mengunjungi satu Lingkungan. Saya diminta untuk merayakan Misa di sana. Lingkungan ini memiliki gedung Gereja yang megah. Pastor Parokinya tinggal jauh dari Lingkungan ini, tetapi dia rajin mengunjungi umat di sana. Yang sangat menarik dari Lingkungan ini adalah kerja sama antara anggota dan pastor parokinya. Semua anggota memiliki nomor hp dari sesama anggota. Kalau ada berita menyangkut Lingkungan, langsung saja diinfokan lewat hp dan semua datang ke Gereja. Semua anggota dilibatkan dalam urusan apa saja. Pastornya diberi makan oleh umat. Umat juga berlomba-lomba menyiapkan yang terbaik untuk pastornya. Kalau ada yang sakit, semua rame-rame mengunjungi yang sakit. Sesudah Misa pada hari Minggu, saya diundang mengunjungi anak cacat dari satu keluarga. Saya begitu terharu melihat begitu banyak orang di rumah anak cacat ini. Masing-masing membawa sumbangan untuk keluarga ini. Satu sikap yang patut dicontohi.

Saudara-saudari… Pengalaman yang saya alami ini sepertinya sama seperti yang kita dengar lewat Injil hari ini. Yesus berjalan keliling dari desa ke desa memberitakan Injil, menyembuhkan orang sakit. Yesus tidak pergi sendirian. Ia didampingi oleh para murid-Nya, baik laki-laki maupun wanita. Yesus selalu melibatkan siapa saja yang berkehendak baik untuk bekerja bersama Dia. Sudah dari awal karya-Nya di dunia ini Yesus sudah memanfaatkan para murid-Nya untuk bekerja bersama Dia. Yesus sadar bahwa kehadiran fisik-Nya di dunia ini sangat bersifat sementara. Karena itu dari sejak awal Ia sudah melibatkan para murid-Nya untuk bekerjasama dengan Dia dan mengajar mereka bagaimana menangkap manusia agar masuk menjadi anggota Gereja-Nya dan bersatu bersama Dia.

Hari ini kita dengar bahwa beberapa wanita yang sudah disembuhkan oleh Yesus Kristus ikut bersama Dia pergi mewartakan kabar Gembira dengan cara dan talenta mereka sendiri. Wanita ini melayani seluruh rombongan dengan harta kekayaan mereka. Dari segi adat istiadat Yahudi, wanita sesunggguhnya tidak boleh tampil di pablik. Tetapi Yesus membiarkan wanita itu tampil. Ia mengangkat harga diri wanita dan selalu percaya bahwa wanita juga bisa tampil dan bekerja dengan sangat baik dalam rangka menyukseskan karya keselamatan manusia. Yesus tidak membeda-bedakan. Yesus sadar bahwa semua manusia baik laki-laki maupun wanita sama di hadapan Allah dan mereka juga bisa dipercayakan untuk mengerjakan tugas misi-Nya.

Saudara-saudari… Kalau kita amati realitas kehidupan Gereja kita sekarang, begitu banyak kaum wanita yang sangat aktip dan terlibat dalam kegiatan apa saja dalam Gereja Kristus. Kita harus bangga dan sampaikan ucapan terima kasih kepada kaum wanita yang begitu setia dan sangat bertanggungjawab menghidupkan Gereja Kristus. Sewaktu ditanya, mengapa kaum wanita begitu setia menjaga dan menghidupkan Gereja kristus? Beberapa ibu menjawab: “Sebagai ibu, kami merasakan kedekatan kami dengan Kristus. Kalau Mama Maria selalu mendampingi Anaknya dengan sabar dan setia, kami pun punya perasaan yang sama. Kami merasa sangat bertanggungjawab untuk menghidupkan Gereja Kristus.” Jawaban ibu-ibu ini bisa menjadi satu inspirasi untuk bapa-bapa. Sebagai laki-laki, kita pun mengikuti teladan St. Yusuf yang begitu setia dan bekerja keras untuk menghidupi Yesus Kristus dan mendapingi Bunda Maria selama hidupnya.

Kita berdoa semoga kita semua, baik laki-laki maupun wanita selalu merasakan bahwa Gereja Kristus adalah milik kita dan kita semua bertanggungjawab untuk menghidupkannya. Kalau kita semua selalu bekerjasama bersama Kristus, pasti kepala Gereja kita, yaitu Yesus Kristus akan selalu merasa bahagia.

Kita memohon Bunda Maria untuk selalu mendoakan kita. Amin

Share.

About Author

Pastor Fredy Jehadin SVD

Misionaris SVD yang berkarya di Papua New Guinea. Bertugas sebagai pembina para frater SVD dan mengajar di Catholic Theological Institute di Bomana Port Moresby dan mengajar di Xavier Institute untuk para suster dan bruder yang mau menyiapkan diri untuk mengikrarkan kaul-kaul kekal, dan membantu mereka yang bekerja di lembaga pembinaan para religious di Papua New Guinea.

Comments are closed.