4 Keuskupan Kumpul Bahas Layanan Pastoral bagi Kaum Migran dan Perantau

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

44 PERWAKILAN dari empat keuskupan (Ende, Larantuka, Ruteng, dan Denpasar) yang bekerjasama membantu kaum migran dan perantau membahas karya pastoral migran dan perantau selama tiga hari (2-5 Oktober) di Kemah Tabor, Mataloko, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Tak hanya para Ketua dan Pengurus Komisi Migran Perantau hadir dalam acara ini. Melainkan juga para Romo Vikep (Ende, Bajawa), Direktur Pusat Pastoral (Keuskupan Agung Ende) dan Sekretaris Komisi (Denpasar).

Dalam sambutan pembuka, Vikep Bajawa keuskupan Agung Ende Rm. Daslan Moang Kabu, Pr menjelaskan, pertemuan ini merupakan ungkapan solider dan tanggung jawab gereja atas masalah yang dialami para perantau.

Karena itu, diharapkan pertemuan ini menghasilkan rekomendasi bagi karya pastoral di keuskupan-keuskupan yang menjadi asal, tempat transit dan tujuan migrasi.

“Kerja sama tripartit ini bertekad mencari dan menemukan reksa pastoral yang pas dan tindakan pelayanan pastoral yang tepat sasar bagi kehidupan iman dan keselamatan jiwa para migran dan perantau,”ujar Daslan di Mataloko, Senin (02/10/2017).

Lebih dari itu, Daslan menyebutkan, penanganan pastoral yang khusus sangat diperlukan mengingat kompleksnya masalah yang dialami masing-masing keuskupan.

“Memang mereka pergi tanpa meminta restu dari keuskupan asal. Mereka juga pergi tidak karena diundang oleh keuskupan tujuan mereka. Yang jelas, mereka orang Katolik. Mereka adalah umat kita. bagian dari Gereja yang butuh pertolongan dan bantuan,”ujar Daslan.

Tripartit

Ketua penyelenggara Rm. Edu Raja Para, Pr. menyebutkan pertemuan pastoral ini bagian dari kerja sama segitiga antara keuskupan asal (Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Larantuka, Ruteng, dan Denpasar), transit, dan keuskupan tujuan perantauan.

Tanjung Selor merupakan keuskupan transit yang tergabung dalam tripartit, sementara keuskupan-keuskupan yang menjadi tujuan migrasi meliputi Keuskupan Sandakan, Keningan, dan Kota Kinabalu. Semuanya ada di Malaysia.

Kerja sama tripartit migran dan perantau, lanjut Romo Edu, sudah berjalan lebih dari lima tahun. Selain membahas isu-isu migran dan perantau, kerja sama ini diwujudkan dengan mengutus imam dari keuskupan-keuskupan di Flores untuk memberi layanan pada Hari Raya Natal dan Paskah bagi para migran di Malaysia.

Kelima
Pertemuan di Mataloko merupakan kali kelima dalam kerja sama tripartit ini. Sebelumnya, pertemuan tripartit keempat dilaksanakan di Keuskupan Sandakan, Oktober 2015, yang membahas tentang Gereja tanpa batas, ibu untuk semua.

Pertemuan kelima di Mataloko kali ini mengangkat tema “Menjadi Gereja yang Semakin Peduli Terhadap Kaum Migran dan Perantau.” Tema ini, jelas romo Edu, diambil sejalan dengan seruan Paus yang mengajak umat untuk peduli pada sesama yang lemah.

“Dewasa ini semakin banyak orang yang tidak peduli dengan kehidupan sesama, terutama orang-orang yang terpinggirkan, orang-orang kecil, orang-orang lemah. Sejalan dengan seruan Paus Fransiskus, kita diminta agar menjadi gereja yang memar, gereja yang terluka. Maka kami memilih tema Menjadi Gereja yang Semakin Peduli Terhadap Kaum Migran dan Perantau,”kata Romo Edu.

 

Share.

About Author

Romo Heribertus (Erick) Ratu

Pastor Diosesan di Keuskupan Ruteng, Wakil Ketua Komisi Komsos Keuskupan Ruteng

Comments are closed.