KWI

Curiosity Gap, Trik Genjot Jumlah Pembaca Konten Kita

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

MIRIFICA.NEWS, MEDAN – Dua hari satu malam untuk Forum Dialog dan Literasi Media OMK Keuskupan Agung Medan dipadati dengan sesi lain setelah “Memviralkan Konten Positif” oleh Hendarsmo. Kini giliran Margareta Astaman untuk mendiskusikan bersama 102 peserta forum tentang pembentukan opini publik.

“Konten yang berhasil menjadi viral di internet hanya 0.01%. Artinya, seberapa bagus dan hebat konten kita, kesempatan untuk jadi viral hanya 0.01%. Namun ini bukan membuat teman-teman lesu, justru supaya teman-teman membuat konten sebanyak-banyaknya supaya 0.01% ini jadi berarti,” kata aktivis sosmed tersebut.

Meskipun kita tidak bisa mengontrol konten untuk jadi viral, ada beberapa faktor yang bisa kita matangkan: kontennya baik, framingnya baik, dan usaha sharing-nya yang luas.

“Bila kontennya sangat menarik, tapi penyajiannya kurang menarik, pembaca tidak akan mengklik untuk membacanya,” ujar Margareta.

“Cenderung ketika kita mengonsumsi konten dari media sosial, kita mau memberikan feedback. Begitu kuat sisi interaktif dari media sosial, sehingga judul konten akan dianggap menarik bila ada isinya yang ‘disembunyikan’, sehingga pembaca akan mengklik karena mau tahu lebih lanjut. Ini disebut curiosity gap,” lanjutnya.

Perlu diperhatikan, supaya judul yang menarik itu jangan menjadi opini. “Misalnya, “10 wanita paling cantik. Yang nomor 3 bikin pingsan”. Pembaca belum tentu pingsan, kan? Bisa diganti “10 wanita paling cantik. 3 di antaranya di atas 60 tahun”. Judul itu pintar tapi tetap bisa ditebak,” tukas Margareta.

Sesi disusun efektif oleh Margareta dengan langsung mengizinkan para peserta untuk praktik menulis 25 headline menarik per kelompok.

 

Share.

About Author

Kevin Sanly Putera

Jurnalis lepas, videografer, trainer, Tim Komsos KWI

Comments are closed.