KWI

Sebarkan Pancasila dan Kebhinekaan Tangkal Radikalisme

DIREKTUR Intelejen (Dir Intel) Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, Kombes Pol Ibnu Suhendra mengajak orang muda katolik (OMK) untuk melakukan kounter narasi di media sosial. Ajakan ini semata untuk melawan propaganda paham-paham radikal yang sangat marak dilakukan oleh para teroris melalui media sosial.

“Propaganda teroris harus dilawan dengan cara yang smart” kata Kombes Pol Ibnu Suhendra dalam Forum Dialog dan Literasi Media yang digagas Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dan Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KOMSOS KWI) di Lembang, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (14/10/2017).

Ibnu menjelaskan terorisme yang marak terjadi di Indonesia tidak lepas dari pengaruh tokoh-tokoh ISIS Suriah yang melakukan propaganda dan perekrutan melalui media sosial. Dampaknya para pelaku teror di Tanah Air yang tertangkap mengaku melakukan aksinya didorong para tokoh ISIS, salah satunya Bahrun Naim.

“Yang sangat memprihatinkan adalah serangan bom bunuh diri dan pelaku teror yang kini banyak dilakukan oleh anak-anak dan wanita.,”terang Ibnu yang namanya masuk dalam incaran ISIS.

Ibnu juga menyebutkan beberapa pelaku teror masih berusia belia, yakni 14 tahun bahkan mereka berasal dari lingkungan yang baik dan terpelajar. Salah satunya anak seorang dosen dari salah satu universitas ternama di Indonesia, yang rela mati syahid setelah termotivasi oleh Bahrun Naim. Juga seorang pelajar SMP dari Pelabuhan Ratu yang selalu ranking 1 disekolahnya. Ia berhasil membuat bom kimia hanya dengan belajar melalui Youtube.

“Semua tindakan mereka berhasil kami gagalkan, sebelum mereka beraksi” jelas pria kelahiran Bondowoso, 46 tahun lalu ini.

Banyaknya kasus teror yang melibatkan anak-anak muda ini menjadi perhatian khusus polisi. Untuk itu, Kombes Pol Ibnu Suhendra kembali mengajak OMK berperan aktif melawan radikalisme dan terorisme.

“Mohon kepada adik-adik orang muda katolik untuk menyebarluaskan ideologi kita Pancasila, kebhinekaan, dan kerukunan umat beragama. Dengan menyampaikan satu dua kalimat saja di media sosial akan sangat berarti bagi kita untuk bisa menangkal propanganda teroris di media sosial,”ujar Ibnu.

Usai mendapat pemahaman tentang perkembangan terorisme dari Dir Intel Densus 88, para peserta dengan lantang menyerukan yel-yel ‘Saya Indonesia, Saya Pancasila’ yang dipandu oleh moderator Agung Nugroho.

Tags

Retno Wulandari

Praktisi di bidang Public Relation, Tim Komsos KWI

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close