Renungan Harian, Jumat, 17 November 2017, Luk.17:26-37

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

AUS Fransiskus sering mengingatkan supaya kita tidak terjebak dalam “kesementaraan”. Pada level pertama, kesementaraan menunjuk pada gaya hidup yang berpusat pada mataeri dan kesenangan duniawi. Paus mengingatkan kita untuk menghindari materialisme, konsumerisme, hedonisme, dan keterikatan pada uang. Pada level kedua, kesementaraan juga menunjuk pada keyakinan bahwa semua yang ada di dunia, ada dalam kuasa manusia.

Hal ini yang dikritik oleh Kitab Kebijaksanaan, bahwa manusia menganggap diri sebagai allah penguasa jagat raya. Kitab Kebijaksanaan menyampaikan pesan yang sebenarnya sederhana, tetapi dalam: Barang fana hanya ciptaan yang menggambarkan sepotong gambaran kuasa Allah yang maha dahsyat. Tetapi, barang ciptaan itu memang sedemikian menggoda, sehingga tidak sedikit manusia yang berhenti terpaku di hadapan kefanaan sehingga seakan hal  material menjadi nyawa mereka. Injil Lukas mengingatkan kita akan kisah istri Lot yang kehilangan nyawa karena ingin mempertahankan “nyawanya”. Karena terikat pada dunia yang ada di belakangnya, istri Lot mengalami kebinasaan.

Maka, mari kita bertanya kepada diri sendiri; Di manya nyawa hidup kita letakkan? Kepada siapa hidup kita sandarkan? Pada gambarnya atau pelukisnya?

Allah Bapa pencipta semesta, bantulah aku dengan tuntunan Roh-Mu untuk melepaskan diri dari keterikatan akan segala yang fana dan mengarahkan diri kepada kebahagiaan sejari bersama-Mu. Amin.

 

Renungan Harian ini diambil dari Buku “Ziarah Batin 2017”, Diterbitkan oleh Penerbit OBOR, Jakarta

Kredit Foto     : Ilustrasi (Ist)

 

 

Share.

About Author

Comments are closed.