EditorialOPINI

Paus Fransiskus Menjawab Chile

SEMINGGU sebelum Paus Fransiskus melakukan lawatannya ke dua negara di Amerika Latin, Chile dan Peru, tiga gereja Katolik di Santiago diserang bom beruntun. Sementara itu, di satu gereja lain pelaku meninggalkan grafiti dengan pesan akan meledakan bom langsung dari dalam jubah Paus.

Tidak jelas apa sesungguhnya motif pelaku.  Apalagi, seperti diungkapkan oleh Presiden Chile, Michelle Bachelet, serangan itu aneh karena pelakunya sulit diidentifikasi keterkaitannya dengan kelompok masyarakat tertentu di Chile. Namun, dari peristiwa serangan bom dan sejumlah grafiti yang ditinggalkan di gereja kita bisa melihat bahwa hubungan Gereja Katolik Chile dengan kelompok masyarakat tertentu di sana masih meninggalkan sejumlah persoalan.

Saya mencatat paling tidak ada 3 persoalan utama yang sedang dihadapi oleh Gereja Katolik di Chile. Pertama, bangkitnya kesadaran masyarakat asli (indiginous people) akan indentitas lokal mereka. Hal ini terungkap dari berbagai pesan yang disebarkan, di mana mereka menghendaki otonomi seluas-luasnya dari pengaruh serta hegemoni Gereja Katolik di Chile. Tentang hal ini, media online Katolik yang berbasis di Inggris, catholicherald.co.uk, menulis, “We will never submit to the dominion you want to exercise over our bodies, our ideas and actions, because we were born free to chose the path we want to take. Against every monk and nun and against every preacher. Bodies free, impure and wild.”

BACA JUGA: three-churches-bombed-ahead-of-papal-visit-to-chile

Seperti masyarakat di belahan dunia lainnya, saat ini Chile juga sedang bergumul dengan persoalan pengungsi dan imigran. Pergumulan ini tentu tidak lepas dari sejarah panjang Chile yang ditandai dengan pergolakan antara rezim sosialis dan kaum kapitalis lokal yang bersekutu dengan Amerika Serikat. Pernah terjadi di Chile, sebuah rezim Sosialis tumbang melalui kudeta berdarah. Presiden Salvador Allende yang juga didukung oleh Partai Kristen Demokrat (terpilih melalui Pemilu demokratis) tewas dengan patriotik, oleh pemberontakan militer, kaum kapitalis lokal, dan sekutu Amerika Serikat.

Tetapi kematiannya berbekas panjang hingga sekarang.  Demi sebuah tema tunggal: cita-cita sosialis melalui jalan demokratis. Kudeta Chile kini menjadi causa celebrare, sebuah contoh yang selalu disebut ketika orang membincangkan cara-cara menuju negara sosialis tanpa melalui revolusi model Marx-Lenin. Inilah persoalan kedua, yakni pertentangan ideologis dalam masyarakat Chile hingga menimbulkan pengungsi dan imigran. Karena pertentangan ideologi ini, banyak tokoh dan warga Chile telah menjadi tahanan politik. Tokoh politik dan warga lainnya berupaya menyelamatkan diri dengan mencari suaka di negara lain.

Persoalan ketiga adalah penyimpangan seksual yang dilakukan oleh kaum klerus (clerical sexual abuse) di Chile. Hingga menjelang kedatangan Paus di Chile, sejumlah orang bahkan melakukan protes. Mereka menuntut agar Paus dapat menyelesaikan kasus-kasus penyimpangan seksual oleh kaum klerus yang telah mencoreng wajah Gereja Katolik.

Jawaban Paus

Sesuai dengan misi perjalanan apostoliknya, kehadiran Paus Fransiskus di Chile sudah pasti membawa serta pesan “harapan dan kasih”. Hari ini, Selasa (16/1), setelah bertemu dengan Presiden Bachelet,  Paus dijadwalkan akan memimpin misa di O’Higgins Park. Selesai misa Paus akan berkunjung ke penjara wanita di Santiago. Kunjungan ini bisa diartikan sebagai sebuah tindaklanjut dari pesan “harapan dan kasih” yang dibawa Paus sekaligus menjadi jawaban atas kegelisahan masyarakat Chile. Paus Fransiskus pergi dan bertemu langsung dengan para tahanan. Kehadirannya tidak lain adalah untuk meneguhkan para tahanan, membebaskan rasa yang dibelenggu oleh tembok-tembok penjara.

Kemudian setelah berkunjung ke penjara, sore nanti Paus akan bertemu secara khusus dengan para imam, biarawan dan biarawati, para seminaris dan para novis di Katedral Santiago. Di Katedral ini, Paus akan berbicara dari hati ke hati dengan mereka. Apakah Paus juga akan menyinggung soal kasus penyimpangan seksual oleh kaum klerus di lingkungan Gereja Katolik Chile? Hal ini menarik ditunggu, mengingat dalam beberapa kasus yang terjadi di negara lainnya Paus Fransiskus memiliki perhatian yang luar biasa. Ia bahkan pernah mengatakan akan memberikan toleransi nol bagi siapapun di lingkungan Gereja Katolik, tak terkecuali para uskup dan menyebut para imam yang melakukan penyimpangan seksual sebagai “satanic mass“. Poinnya adalah Paus ingin memulihkan kembali wajah Gereja yang sempat tercoreng karena perilaku penyimpangan seksual oleh segelintir klerus. Dan, Gereja Katolik Indonesia dapat mengambil hikmah dari perjalanan apostolik Paus Fransiskus ke Chile dan Peru.

 

 

 

 

 

 

 

Tags

John L. Wujon

Staf Komisi KOMSOS KWI

Related Articles

Check Also

Close
Close