KELUARGA

Bijak Bermedia untuk Keutuhan Keluarga

Acara Bincang-Bincang Pastoral Keluarga di Ruteng

Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga KWI RP Hibertus Hartono, MSF membawakan materi pada acara “Bincang-Bincang Pastoral Keluarga: Mari Membangun Keluarga”  di Ruteng, Sabtu (24/03/2018)

 

Media komunikasi dengan teknologi yang semakin canggih dewasa ini telah menjangkau ruang-ruang keluarga dan bahkan sampai pada hidup pribadi. Banyak manfaatnya. Akan tetapi tidak sedikit juga akibat buruk yang bisa terjadi. Keluarga-keluarga kristiani mesti bijaksana dalam memanfaatkan perangkat-perangkat itu agar tidak mengalami akibat-akibat buruknya.

Komisi Keluarga Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) membahas hal-hal itu dalam acara “Bincang-Bincang Pastoral Keluarga: Mari Membangun Keluarga” di Ruteng, Sabtu (24/03/2018). Sebanyak 80 peserta hadir pada acara sore hingga malam itu; terdiri atas pasangan orangtua, keluarga muda, utusan kelompok-kelompok rohani, pengurus komisi dan aktivis pastoral keluarga Keuskupan Ruteng dan paroki-paroki di Kota Ruteng.

Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga KWI RP Hibertus Hartono, MSF mengawali uraiannya dengan menampilkan contoh-contoh tentang kehadiran media yang mengubah pola komunikasi antaranggota dalam keluarga. Dahulu, kata dia, media komunikasi hanya menjangkau ruang keluarga sehingga komunikasi antaranggota lebih banyak secara langsung atau tatap muka. Namun, Perkembangan teknologi dewasa ini membuat media komunikasi bahkan menjangkau kehidupan pribadi-pribadi. Akibatnya, kebersamaan dan perjumpaan langsung dalam keluarga terus berkurang karena banyak pesan disampaikan melalui perangkat-perangkat komunikasi.

“Dulu, banyak waktu bersama seperti Saat makan, piknik, dan sebagainya. Sekarang ini, banyak hal tersampaikan melalui gadget. Ajak makan pun melalui pesan singkat,” kata Pastor Hibertus.

Ia menekankan, pemanfaatan media komunikasi secara salah dalam hidup berkeluarga dapat berakibat fatal karena komunikasi merupakan faktor kunci bagi keutuhan keluarga. Kualitas komunikasi yang berkurang menyebabkan krisis. Dan itu bisa berujung pada perpecahan.

“Ini sudah banyak terjadi. Media itu mestinya mendekatkan yang jauh. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, menjauhkan yang dekat. Sehingga, dalam keluarga sekarang, sering terjadi ada bersama tetapi sendiri-sendiri. Di meja makan, contohnya, duduk bersama tapi semua asyik dengan diri dan gadgetnya,” jelas Pastor Hibertus MSF

Lebih lanjut, ketua Komisi Keluarga itu menguraikan pandangan dan sikap gereja terhadap perkembangan teknologi media komunikasi. Mengutip dokumen Konsili Vatikan II, ia menyatakan, Gereja melihat perkembangan teknologi media komunikasi sebagai bagian dari campur tangan Tuhan.

“Itu adalah rahmat untuk kita. Karena kemajuan teknologi itu adalah hasil dari kreativitas manusia. itu baik. Yang tidak baik adalah sikap dan cara kita memanfaatkannya,” kata Pastor Hibertus, MSF.

Prinsip Praktis “Empat C”

Pastor Hibertus mengemukakan empat prinsip praktis yang ia sebut sebagai “Empat C”, yaitu cara pandang dan sikap bijak yang perlu untuk keluarga-keluarga pertimbangkan ketika memakai media komunikasi.

Prinsip pertama adalah terhubung atau “connected“. Media komunikasi membuat setiap orang yang memakainya terhubung, bukan sebaliknya menggiring orang pada kesendirian.

“Jadilah orang-orang yang terhubung satu dengan yang lain dalam keluarga. Sebagai orang beriman, kita terhubung dengan sesama dan terutama dengan Tuhan,” kata pastor Hibertus.

Prinsip praktis kedua dalam menggunakan media komunikasi yaitu “converted“, artinya diubah. Pemanfaatan media mengubah para pemakai dari hal-hal yang kurang baik atau salah kepada hal-hal yang lebih baik dan benar.

“Mari kita bersama sama berubah dan bertobat. Segala sesuatu yang dalam hidup kita tidak berjalan, yuk, mari kita ubah dan jalankan. Jika memecah belah, mengapa diteruskan. Kalau keluarga tidak rukun karena masalah Gadget, baiklah kita benahi,” ungkap dia.

Penggunaan media komunikasi, lanjut pastor Hibertus, mesti didasari dengan sikap belas kasih. Ini adalah prinsip praktis ketiga yang disebut “compasionate“. Kasih merupakan hukum utama dalam dalam hidup kekristenan juga perlu diterapkan ketika berkomunikasi dengan menggunakan media.

Hal terakhir yaitu “commited“. Perlu adanya komitment agar komunikasi melalui media senantiasa tertuju pada bangunan relasi yang baik. Termasuk di sini, komitmen untuk tidak menggunakan media pada kesempatan-kesempatan tertentu agar kualitas komunikasi tetap terjaga.

“Misalnya ketika makan bersama, keluarga sepakat untuk tidak memegang “gadget”. Pegang komitmen itu untuk kebaikan keluarga,” tutup pastor Hibertus.

Keluarga Perlu Mendampingi anak

Masih pada kesempatan seminar yang sama, Catherine Martosudarmo yang menjadi narasumber kedua menyoroti perilaku anak dalam bermedia dan peran keluarga untuk mendampingi mereka. Anak-anak dewasa ini lahir di tengah kemajuan teknologi komunikasi yang pesat. Mereka lalu dijadikan sasaran utama sebagai pemakai teknologi komunikasi, seperti dihasilkan dari beberapa penelitian tentang itu.

Catherine Martosudarmo membawakan materi pada acara “Bincang-Bincang Pastoral Keluarga: Mari Membangun Keluarga” di Ruteng, Sabtu (24/03/2018)

Penggunaan media yang tidak terkontrol, lanjut salah satu pengurus harian Komisi Keluarga KWI itu, menyebabkan proses pengembangan diri anak-anak bergerak ke arah yang salah. Antara lain, mereka menjadi sangat bergantung media sehingga kurang mampu membangun relasi dalam pergaulan tatap muka langsung. Kemudian, seperti banyak diberitakan akhir-akhir ini, anak-anak banyak yang menjadi korban kejahatan yang berawal dari pergaulan melalui media sosial.

“Ini bukan khayalan lagi. Tetapi sungguh terjadi,” tegas Catherine.

Oleh karena itu ia mengajak keluarga-keluarga, khususnya orangtua, mendampingi anak-anak dalam berkomunikasi dengan memakai sarana-sarana teknologi. Untuk itu, baik anak-anak maupun orangtua perlu memiliki pengetahuan tentang media. Kemudian orangtua juga dapat mengatur apa saja yang boleh dan tidak anak-anak lakukan saat menggunakan media komunikasi.

“Meski ‘lelet’ (lamban), kita orangtua juga perlu juga belajar. Pergi ke toko handphone supaya bisa mengatur apa yang boleh dan tidak untuk anak-anak,” cerita Catherine tentang pengalamannya sendiri sebagai orangtua.

Ia menekankan kehadiran orangtua dalam pendampingan itu. Orangtua perlu ada bersama anak-anak dan berkomunikasi langsung dengan mereka. Tidak hanya berbicara kepada anak-anak, orangtua juga perlu mendengarkan mereka.

“Saya tertarik dengan Poster Hari Panggilan Sedunia. Bapa Paus seolah-olah berbicara, kapan kita mendengarkan anak-anak kita dan secara fisik hadir bersama mereka,” cerita Catherine mengakhiri materinya, sambil menampilkan poster bergambar Paus Fransiskus dengan wajah tersenyum dan sedikit menoleh ke samping sambil salah satu tangannya menyentuh telinga.

Romo Heribertus (Erick) Ratu

Pastor Diosesan di Keuskupan Ruteng, Wakil Ketua Komisi Komsos Keuskupan Ruteng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + eighteen =

Close