GEREJA KITAUrbi

Altar Bercita Rasa Natular

Fosil Kayu Ulin Ditempatkan di Altar Gereja Maria Assumpta Tanjung Selor

SEBATANG kayu ulin dengan akar yang menjulur keluar dan berukuran besar, kira-kira dua pelukan tangan manusia,diletakkan persis di tengah altar Gereja Katedral Maria Assumpta, Tanjung Selor. Sepintas, apabila dilihat dari kejauhan batang kayu ulin itu  menyerupai kaki gajah raksasa. Cita rasa natural altar pun tak bisa dipungkiri.

Pastor Alex Malino, MSC, ketika ditemui pagi tadi, mengatakan bahwa sejak tahun 2012 kayu ulin itu diletakkan di altar Gereja, tepatnya ketika katedral Maria Assumpta dikonsekrasi.

Fosil kayu ulin dilihat dari sisi kanan altar/Foto: John Laba Wujon

“Fungsingnya untuk mengingatkan umat bahwa kayu ulin itu khas Kalimantan yang perlu dijaga kelestariannya,” ujar Pastor Alex, di sela-sela kesibukannya mempersiapkan Katedral yang akan digunakan untuk salve agung uskup baru Tanjung Selor, Mgr. Paulinus Yan Olla, MSF.

Fosil kayu ulin berukuran raksasa itu diangkat oleh satuan brigade infanteri (Brigif) Angkatan Darat yang bertugas di Kalimantan Utara saa itu.

Ulin atau juga yang disebut kayu besi merupakan pohon khas dari daerah Kalimantan. Kayu ini sering dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti konstruksi rumah, jembatan, tiang listrik, dan perkapalan.

Pohon kayu ulin berukuran besar/Foto: rumahulin.com

Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya bisa mencapai 50 m dengan diameter mencapai 120 cm. Pohon ini tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m. Kayu ini merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di daerah Kalimantan.

Pohon ini biasanya tumbuh diketinggian 5 – 400 m di atas permukaan laut dengan medan datar sampai miring, tumbuh terpencar atau mengelompok dalam hutan campuran namun sangat jarang dijumpai di habitat rawa-rawa.

Tags

John L. Wujon

Staf Sekjen KWI. Mantan staf Komisi KOMSOS KWI (2015-1 Mei 2019?

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close