KWI

Di Homili Salve Agung, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin Kagumi Ketaatan Uskup Baru Tanjung Selor

ZAMAN now, ketaatan tak jarang jadi sebuah momok dalam kehidupan setiap orang, tidak terkecuali di kalangan kaum berjubah. Para imam yang seharusnya menjadi teladan ketaatan, malah bertindak sebaliknya. Pilihan untuk lebih mengutamakan kesenangan badan dan kenyamanan naluriah, inilah sebab sesungguhnya dari ketidaktaatan.

Namun, menurut Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, Romo Yan Olla, MSF yang kini telah diangkat menjadi uskup baru Tanjung Selor telah menunjukkan ketaatannya sebagai seorang hamba kebenaran yang siap mengurbankan dirinya bagi Allah dan sesama.

“Syukur kepada Allah, kita dianugerahi seorang imam seperti Romo Paulinus Yan Olla,MSF yang tidak memperhitungkan kenikmatan jasmani dan kenyamanan manusiawi karena pengoyakan imannya sebagai hamba kebenaran, taat kepada Allah seperti Yesus taat pada kehendak Bapa-Nya sampai wafat di salib,” kata Mgr. Antonius, sebagaimana dalam homili singkatnya saat salve agung menyongsong tahbisan Mgr. Yan Olla, MSF, Sabtu (5/5).

Dengan penuh semangat, Uskup Bandung itu mengatakan Romo Yan Olla taat dan loyal ketika ia diminta untuk berganti nama menjadi Mgr. Yan, uskup baru Tanjung Selor. Romo Yan tentu tau  dengan konsekuensi yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya. Hal ini dikarenakan Mgr. Yan Olla belum secara nyata berkarya di keuskupan Tanjung Selor. Ia telah belajar taat dalam Kongregasi Keluarga Kudus.

Mgr. Antonius pun memberi testimoninya.

“Saya kenal beliau itu sudah berewokan.Orang bilang sejak muda Mgr. Yan sudah berewokan, bahkan sejak bayi. Maka ketika saya melihat foto terbaru beliau tanpa berewokan, saya kaget. Saya tanya, Ini siapa? Waktu penyambutan di bandara siang tadi, saya lihat beliau tampak muda. Bahkan uskup-uskup lain juga  ikut berkomentar. Dulu waktu masih Romo jadi dosen, sekarang jadi uskup malah kelihatan seperti novis.”

Mgr. Antonius Subianto Bunjamin memberkati peralatan yang akan dikenakan uskup Yan Olla, Msf selama karya kegembalaannya di Tanjung Selor/Foto: John Laba Wujon

Ada juga komentar dari orang lain. Di Kalimantan ini, penebangan hutan sudah menjadi moratorium. Tapi kenapa sekarang masih terjadi penebangan hutan?

“Tidak apa-apa!  Ini bukan penebangan hutan orang lain, tapi hutan sendiri,” kata Mgr. Antonius, menyoal Mgr. Yan yang telah mencukur berewokannya.

Mgr. Antonius juga sempat bertanya kepada Mgr. Yan, kenapa kumis dan jenggot dipotong?

“Supaya tidak ada saingan. Karena ketika Vatikan mengumumkan saya sebagai Uskup Tanjung Selor, Mgr. Rubiyatmoko yang juga berewokan itu bersorak gembira. Katanya, sekarang beliau punya teman. Bukan hanya berkumis tapi berjenggot lebat,” Sekretaris Jenderal KWI mengulang pernyataan Mgr. Yan Olla, MSF.

Di akhir homilinya, Mgr. Antonius menegaskan bahwa bagian dari penghayatan hidup Mgr. Yan digungkapkan dalam sikap penyerahan diri seutuhnya demi kehidupan spiritual, yakni sebagai hamba kebenaran.

Dihadiri Duta Besar Vatikan

Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo menyaksikan ikrar setia uskup Yan Olla kepada Bapa Suci di Vatikan/Foto: John Laba Wujon.

Selain para uskup dari berbagai keuskupan di Indonesia, salve agung yang dilaksanakan di Gereja Katedral Maria Assumpta, Tanjung Selor, juga dihadiri Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo. Duta besar asal Italia ini hadir sebagai saksi dalam upacara pengikraran kesetiaan uskup baru kepada Bapa Suci di Vatikan dan pengakuan iman uskup baru Tanjung Selor.

Saat uskup Yan berlutut untuk mengikrarkan kesetiaanya di altar Tuhan, Mgr. Piero setia berdiri di sisi kanan uskup Yan Olla, MSF. Dengan sabar, Ia mendengarkan ikrar setia dari sang gembala baru Keuskupan Tanjung Selor.

Selain upacara ikrar setia dan pengakuan iman uskup baru, salve agung juga ditandai dengan prosesi pemberkatan atribut penanda uskup (insignia) yang akan dikenakan oleh uskup Yan Olla, MSF dalam tugas penggembalaannya di keuskupan Tanjung Selor.

Para uskup yang mengikuti salve agung di Gereja Katedral Maria Assumpta Tanjung Selor/Foto: John Laba Wujon

Salve agung yang dimulai pada pukul 17.30 itu diikuti oleh ribuan umat Katolik Keuskupan Tanjung Selor. Gereja Katedral Maria Assumpta yang luas itu pun tak mampu menampung jumlah umat yang hadir. Sebagian umat terpaksa harus menempati tenda-tenda yang telah disiapkan panitia di halaman gereja katedral.

 

 

Tags

John L. Wujon

Staf Komisi KOMSOS KWI

Related Articles

Check Also

Close
Close