OPINI

PMKRI: Harapan Yang Tetap Bersemi untuk NKRI

Catatan Ringan untuk PMKRI yang berulang tahun ke-71

ESUNGGUHNYA saya tidak sempat menjadi anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Memang, saat menjadi mahasiswa STFK Ledalero-Maumere, Flores, saya tergerak untuk menggagas dan mendirikan PMKRI Cabang Maumere St. Thomas Morus. Namun, saya tak sempat pakai baret merah jambul kuning, karena setelah menyiapkan fondasi pembentukan PMKRI Maumere, saya hijrah ke Jakarta. Di megapolitan yang sesak dan hiruk-pikuk ini waktu saya larut untuk cari kerja dan bertahan hidup saat itu.

Namun, saya sungguh mencintai PMKRI. Saya merasa “dekat” dengan organisasi ini. Saya merasa — sungguh merasa — sebagai bagian dari PMKRI.

Oleh karenanya, ketika Angelo Wake Kako (Ketua PP PMKRI saat itu) melaporkan Habib Rizieq ke Polda Metro Jaya, saya terpanggil untuk “melindungi” anak muda ini. Apalagi tatkala dia infokan saya bahwa ada telepon dan SMS bernada “ancaman”, saya responsif dan mendatangi Margasiswa I PMKRI di Jl. Sam Ratulangi, Menteng. Ini markas besar PMKRI yang bersejarah dan menyejarah dalam dinamika perjuangan bangsa ini.

Sambil mengajak Angelo main catur sampai dini hari di Marga (ini pertama kalinya saya lakukan di Marga), saya sebenarnya tidak sekadar bermain. Mengingat HR itu pimpinan sebuah ormas yang berpotensi bergerak secara fisik, seusai menerima info dari Angelo bahwa dia mendapat ancaman, saya langsung melaporkan ini ke seorang senior (jenderal, pendiri Densus 88/Antiteror Polri), dan dengan arahan beliau saya pun mengontak Direktur Intel Densus Kombes Ibnu Suhendar.

Maka malam itu kami main catur, dengan beberapa personel Densus “membayangi” Marga. Angelo sama sekali tidak tahu karena saya tidak beritahu.

Oh ya, kami dua main catur dengan lagak profesional. Saya bilang ini pertarungan catur antara Nangaroro (kampung saya, ibukota kecamatan) versus Kota Ende (ibukota kabupaten). Dan, saya sombong sedikit, bisa menang lawan “anak Ende” yang biasanya bikin anak-anak kampung macam kami minder. Hehehe……

Di atas itu cuma kisah ilustratif untuk melukiskan betapa saya mengandalkan PMKRI sebenarnya. Dalam konteks apa pengandalan dan keterandalan PMKRI?

Dalam proses kaderisasi anak muda Katolik yang bisa menempa mereka jadi patriot sejati Ibu Pertiwi — saya jawab sendiri pertanyaan retoris di atas.

Ketika saya dalam proses mendirikan PMKRI Maumere, diajaklah 4 pastor untuk ikut mendukung kami saat itu. Pater Dr. Hubert Muda, SVD selaku Rektor Seminari Tinggi Ledalero, Pater Dr. Philipus Tule, SVD selaku Ketua STFK Ledalero, Pater Dr. Georg Kircberger, SVD (dosen dan teolog kondang STFK Ledalero), dan Pater Drs. Laurens da Costa, SVD, MA yang belajar Ilmu Politik di UGM lalu di Washington, AS.

Mengapa “merekrut” 4 pastor “jagoan” Ledalero di bidang masing-masing itu? Karena saya ingin PMKRI Maumere mendapat basis dukungan intelektual dan moral yang memadai. Kami sempat menggelar acara bulanan: Kursus Politik, Kursus Bahasa Jerman, Diskusi Tematik.

Oleh karena saya menganggap kader harus kuat fisik-mental, militan, siap bertarung secara intelektual maupun fisik-mental, saya menginisiasi latihan kungfu dengan mencari dan mengajak empat pelatih dari Maumere. Profesi mereka guru dan pegawai di kantor dinas pemerintahan. Mereka terlatih sangat baik karena saat kuliah di Undana Kupang mereka berguru pada Suhu Riberu, mantan anggota RPKAD (kini Kopassus) yang dikenal sebagai salah satu guru besar kungfu di Indonesia, meski berbasis di Bakunase, Kupang.
Kelak, ketika saya ke Jakarta dan mengikuti lanjutan latihan kungfu di Perguruan Kungfu “Gerak Langit” asuhan Suhu Lukito Konagamana (pelatih Wushu nasional waktu itu), saya sendiri mendengar Suhu Lukito mengakui kehebatan Suhu Riberu.

***

Kembali ke topik. Hingga saat ini masih sangat besar harapan saya — mungkin juga banyak orang Katolik — agar PMKRI semakin hidup dengan terus-menerus melakukan “rejuvenasi”, peremajaan semangat dan daya juangnya. Membentuk diri, menempa kepribadian agar menjadi kader-kader bangsa yang dapat diandalkan adalah panggilan dan tugas setiap anggota PMKRI.

Memang tidak selalu mudah berproses menempa diri di kawah candradimuka ini. Barangkali juga tidak sedikit orang yang memilih sikap pesimis, skeptis bahkan apatis terhadap PMKRI. Tidak masalah. Itu bagian wajar dari proses tumbuh-kembang dan dinamika organisasi. Namun serentak itu mesti jadi tantangan dan alarm pengingat bagi setiap kader PMKRI untuk kembali lebih mawas diri, tidak mudah berpuas diri, tidak sampai kehilangan jatidiri.

Pada suatu masa PMKRI pernah berjaya. Perannya yang pernah mengedepan sudah tercatat dalam sejarah.

Kini, para kader muda perlu dijitak dengan pertanyaan ini: mampukah saya ikut memberi pendaran cahaya agar PMKRI lebih bersinar sebagai harapan Gereja (ecclesia) dan Tanah Air (patria)?

Dirgahayu PMKRI.
Pro Ecclesia et Patria!

Valens Daki-Soo

Catatan: Publikasi tulisan ini sudah seizin penulis

Tags

John L. Wujon

Staf Komisi KOMSOS KWI

Related Articles

Close