KOMSOS KWI

INSPIRASI – Perkara Terbatasnya Ide Para Pendamping SEKAMI

i pojok baca aula wisma Keuskupan, tempat berlangsungnya pelatihan “Story Telling“bagi Pendamping SEKAMI Keuskupan Denpasar, digantung sejumlah potongan kertas bertuliskan perkara di komunitas SEKAMI.  Sejak kemarin potongan kertas itu sengaja digantung. Banyak hal tertulis di dalamnya, mengingatkan betapa proses pendampingan adik-adik SEKAMI bukan perkara gampang.

Irma, pendamping SEKAMI dari Paroki Santa Maria Immaculata Tabanan, misalnya, menulis jika ia kesulitan memilih dan menggunakan diksi yang tepat, terutama diksi itu harus selaras dengan kutipan teks Injil. “Saya kesulitan mengungkapkan kata-kata dalam kegiatan SEKAMI, termasuk gaya bahasa saya,” sebagaimana ditulis Irma.

Perkara berbeda dialami oleh Suster Fransiska Hoar Taek. Sejak 3 tahun lalu mennjadi pendamping SEKAMI di Paroki St. Theresia Tangeb,  ia menemukan kesulitan utama pada bagaimana membangun kepercayaan diri.  “Ketika sedang bercerita, saya sering gugup, kata-kata saya terputus di tengah proses bercerita. Saya juga sering mengulang kata yang sama,” tulis Suster Fransiska.

Perkara umum lainnya sebagaimana ditulis para pendamping antara lain sulitnya menggali dan menemukan ide utama cerita, menemukan alat peraga khas anak SEKAMI, vokal kurang mendukung, kurang fokus, sering terjadi bias saat bercerita, kesulitan preview cerita yang sama, dan lain-lain.

Remaja dengan punck rock style/Foto: John Laba Wujon

Membuka Sudut Pandang

Perhatikan ilustrasi di atas. Apa yang terlihat di sana adalah sepasang remaja dengan potongan rambut punk rock. Alis mata keduanya dipoles dengan warna hitam tebal. Remaja pria mengenakan kalung rantai dengan gantungan slot. Sementara itu, telinga remaja putri ada gantungan dengan gambar tengkorak manusia. Terlihat pula ekspresi senyum berbeda dari kedua remaja itu. Yang satu senyumnya terbuka lebar, sedangkan yang lainnya dengan senyum tertutup.

Beragam warna cat juga menghiasi rambut kedua remaja itu. Ada warna hitam, warna kuning, dan warna biru. Sering disebut juga dengan gaya rambut emo, di mana istilah ini berasal dari kata emotional, dipandang sebagai sebuah perpaduan antara musik punk rock dan aliran musik alternatif yang lagi trending. Maka, orang tidak perlu heran di mana ada pentas musik beraliran punk rock dan sejenisnya, muncul di sana orang dengan potongan rambuk punk rock.

Muncul juga persepsi negatif di tengah masyarakat, ketika melihat orang dengan potongan rambut punk rock. Hal ini dikarenakan oleh banyaknya tindakan kriminal telah melibatkan pelaku dari orang dengan punc rock style. Ini juga salah satu sudut pandang di tengah perkara terbatasnya ide.

Satu objek sejatinya bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Dan, menurut Errol Jonathans, hal itu bisa dilakukan jika orang mempunyai banyak referensi. “Satu objek tidak melulu dilihat secara putih semata atau hitam, atau merah, atau kuning, dan sebagainya. Banyaknya referensi seseorang diperoleh karena  banyak membaca.”

Terkait bagaimana membuka sudut pandang, para pendamping SEKAMI Keuskupan Denpasar diperkaya dengan sebuah pendekatan karya intelektual Edward De Bono. “Six Thingking Hats”, sebuah pendekatan De Bono yang menekankan 5 (lima) aspek penting dari manusia. Ke-lima aspek itu antara lain mencakup emosi, logika, informasi, harapan, dan kreativitas.

Paparan pendekatan De Bono,  itu oleh Errol Jonathans diharapkan dapat membuka sudut pandang peserta dengan perspektif berbeda, sekalipun yang diamati hanyalah satu objek. Walaupun demikian, para pendamping pun diwanti-wanti bahwa sudut pandang berbeda itu terkadang semuanya sangat lazim. Tetapi, ada juga sudut pandang terkadang keluar dari kelaziman.

 

Tags

John L. Wujon

Staf Komisi KOMSOS KWI

Related Articles

Close