Harian

Renungan Harian, Minggu: 10 Juni 2018, Mrk. 3:20-35

EBUTAN ‘saudara’ dapat ditafsirkan berbeda-beda, dan bisa sangat beragam maknanya kalau dituturkan dengan maksud tertentu. Makna kata yang seharusnya akrab, layaknya dalam sebuah keluarga itu, mudah pudar lantaran intensi orang yang mengucapkannya. Ketika mendengar bahwa Yesus dikatakan tidak waras dan kerasukan Beelzebul, keluarga-Nya datang hendak mengambil Dia. Akan tetapi, Yesus menggunakan kesempatan itu untuk mengajarkan bagaimana kuasa Roh Kudus bekerja dalam diri-Nya. Ia menegur mereka yang mempertanyakan Allah. “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku” (Mrk.3:35). Relasi manusia dengan Allah rusak oleh karena dosa (bdk. Kej. 3:10). Manusia seharusnya berhati-hati dengan kemerosotan lahiriahnya supaya batiniahnya dapat dibarui dari hari ke hari (bdk. 2Kor. 4:16). Kualitas relasi kita menunjukkan kemanusiaan kita di hadapan Allah, dan iman akan diuyjuji dalam hal relasi dengan Allah maupun sesama.

Kita semua tentunya diikat dalam satu persaudaraan karena iman akan Yesus Kristus. Dan, karena Allah menyebut kita sebagai anak-Nya, Yesus pun menjadi saudara kita dalam iman. Namun bagi Yesus, ukuran mutlak menjadi saudara-Nya dalam iman ialah kesetiaan untuk melakukan kehendak Allah.

Yesus, Engkau juga menyebut diriku saudara-Mu. Semoga hidupku menunjukkan kesetiaan setiap hari untuk melakukan kehendak Bapa, seperti Engkau sendiri telah melakukannya. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2018

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × four =

Close