Jendela AlkitabMingguan
Trending

Ulasan Eksegetis InjlMgBiasa XXV/B tgl. 23 Sept 2018 (Mrk 9:30-37)

MENGIKUTI DIA PADA JALANNYA

Rekan-rekan,
Injil bagi hari Minggu Biasa XXV tahun B kali ini (Mrk 9:30-37) memuat
pernyataan Yesus yang kedua kalinya kepada murid-muridnya mengenai
kesengsaraan, salib, serta kebangkitannya. Sesudah itu, ia juga
memberi pengajaran agar dalam mengikutinya para murid tidak berpamrih
bakal mendapat kedudukan. Sebelum mendalami pengajaran ini, marilah
ditengok sejenak maksud serta makna pemberitahuan mengenai sengsara
tadi bagi komunitas para murid waktu itu.

PERNYATAAN TENTANG KESENGSARAANNYA
Walaupun diakui sebagai Mesias oleh orang-orang yang paling dekat
dengannya, Yesus lebih memahami dirinya sebagai Anak Manusia. Ia
bahkan menegaskan bahwa dirinya akan ditolak, disalibkan, tetapi akan
dibangkitkan. (Lihat ulasan Injil Minggu lalu, Mrk 8:27-35).
Pernyataan ini muncul sampai tiga kali dalam Injil Markus, Matius dan
Lukas. Yang pertama, Mrk 8:31-33//Mat 16:21-23//Luk 9:22, yang kedua
Mrk 9:30-32//Mat 17:22//Luk 9:43b-45 dan yang ketiga, Mrk
10:32-34//Mat 20:17-19//Luk 18:31-34. Pernyataan pertama diikuti
pengajaran khusus bagi siapa saja yang mau mengikutinya, yakni agar
mereka sedia “menyerahkan nyawa”, maksudnya berdedikasi penuh Mrk
8:34-38//Mat 16:24-28//Luk 9:23-27. Pernyataan yang kedua dilanjutkan
dengan pengajaran untuk tidak mencari kedudukan tinggi, melainkan
bersikap seperti anak kecil Mrk 9:34-37//Mat 18:1-5//Luk 9:46-48.
Pernyataan ketiga ditegaskan dengan pengajaran mengenai kesediaan
melayani satu sama lain Mrk 10:35-45 Mat 20:20-28 (Lukas tidak
menyertakan padanannya). Dari ikhtisar ini kelihatan bahwa arah ke
salib dan kebangkitan itu memang sulit dipahami, bahkan oleh
murid-murid terdekat yang sudah lama mengikutinya sekalipun. Jalan
untuk memahami kenyataan salib dan kebangkitan itu ialah kesediaan
untuk menerima tanpa mementingkan diri ataupun mencari kedudukan yang
tinggi. Inilah yang diberikan dalam pengajaran yang mengikuti setiap
pernyataan tadi.

Semakin dekat ke Yerusalem, Yesus semakin berusaha agar para murid
terdekatnya memahami arah ke salib dan kebangkitan tadi dengan ikhlas.
Murid-murid sulit memahami mengapa ia perlu mengalami penderitaan
hingga kematian di salib. Mengapa Yang Maha Kuasa tidak menyertainya
dengan bala tentara surga dan dunia untuk membangun kejayaan umat di
hadapan para penentang-penentangnya. Pertanyaan seperti ini ada dalam
lubuk hati mereka. Juga dalam hati kecil kita. Mengapa perlu sampai
sejauh itu. Mengapa dia, dan juga kita, seolah-olah dibiarkan
sendirian di hadapan kekuatan-kekuatan yang kini semakin mengancam
kita.

MENGHADAPI KEKUATAN JAHAT DENGAN SALIB
Kekuatan jahat perlu ditekuni dengan salib, seperti yang dilakukan
Yesus. Baru dengan demikian daya gelap akan dapat dikuasai dan diubah
menjadi kekuatan terang. Namun demikian, perlu disadari bahwa salib
tidak identik dengan apa saja yang dirasa sebagai penderitaan. Ada
banyak kesusahan yang bukan salib dan mestinya bisa dihindari dan
diatasi dengan kebijaksanaan hidup dan ikhtiar. Pelbagai ketimpangan
ekonomi dan ketakadilan di masyarakat bukan salib, melainkan musibah
sosial yang mesti ditangani dengan serius. Menyebutnya sebagai salib
tidak membawa manfaat apapun kecuali menutup mata pada kenyataan. Dan
mengurangi makna salib yang sesungguhnya. Yang perlu diterima sebagai
salib ialah yang dihadapi oleh Yesus sendiri, yakni penolakan manusia
terhadap kebaikan ilahi. Inilah realitas yang jahat yang hanya dapat
dihadapi dengan salib.

Penderitaan serta kematian Yesus itu akan berakhir dengan kebangkitan.
Unsur yang paling membedakan salib dengan penderitaan biasa ialah ada
tidaknya kaitan dengan kebangkitan. Bahkan salib dan kebangkitan ialah
satu realitas dengan dua muka yang tak dapat saling dipisahkan. Bila
tidak ada kebangkitan, maka tak dapat dikatakan penderitaannya
mengalahkan yang jahat. Juga tidak dapat ditegaskan bahwa ada
kebangkitan tanpa salib. Seperti dalam peristiwa pemberitahuan
pertama, para murid juga kurang menangkap maksud pemberitahuan kedua.

SIAPAKAH YANG TERBESAR?
Adegan beralih dari sebuah tempat di Galilea yang namanya tidak
disebut ke sebuah rumah di Kapernaum, juga di wilayah Galilea. Di
rumah inilah Yesus menanyai para murid tentang apa yang mereka
bicarakan di perjalanan. Mereka diam tak berani menjawab, karena
mereka tadi bertengkar mengenai siapa di antara mereka yang terbesar.
Mereka cukup tahu, tidak sepatutnyalah mereka berpikir demikian.
Tetapi Yesus tidak memarahi, melainkan mengajak mereka untuk mengenal
diri dengan lebih baik. Mereka kini bukan lagi orang luar dan pengikut
baru. Mereka telah berjalan bersama dia dari tempat ke tempat, sudah
melihat yang diperbuatnya bagi orang banyak dan ikut serta melayani
mereka. Murid-murid ini ialah Yang Duabelas, kalangan paling dekat
dengannya sendiri. Mereka inti umat yang baru yang akan memperkenalkan
Yang Ilahi kepada segala bangsa. Inilah orang-orang yang memang
mempunyai niat mengikuti Yesus. Kok malah kini memperebutkan kedudukan
siapa yang lebih penting. Memang mereka masih butuh belajar membuat
diri searah dengan dia yang mereka ikuti.

Yesus pun memberi mereka pengajaran khusus mengenai apa itu menjadi
yang pertama. Ia tahu tiap orang mempunyai hasrat menjadi orang
penting. Orang yang tidak memiliki dorongan ke arah itu juga sulit
menemukan makna hidup. Tetapi yang membuat penting ada bermacam-macam.
Dan tidak selalu benar dan cocok dengan pilihan hidup yang sudah mulai
ditempuh. Inilah keadaan para murid waktu itu. Kini sang Guru membantu
mereka untuk semakin menemukan diri.

Diajarkan bahwa yang ingin menjadi yang pertama, hendaklah menjadi
yang berdiri paling belakang dan melayani semuanya. Jelas hendak
ditunjukkannya bahwa mementingkan orang lain bakal membuat pengikut
Yesus menjadi besar. Dia sendiri menjalankannya. Seluruh hidupnya
ditujukan untuk mengusahakan kebahagiaan orang lain, memperoleh
keselamatan bagi umat manusia. Perjalanannya ke salib dan kebangkitan
itu sebuah ziarah yang bakal menyelamatkan umat manusia dari
kungkungan kuasa yang jahat yang tak dapat dipecahkan kecuali dengan
pengorbanan dan keikhlasan untuk itu.

Para murid diajar untuk menerima anak kecil, artinya menerimanya
sebagai yang penting meski ia tak dapat menonjolkan diri pernah
berbuat banyak dan berjasa, dst. Ia diterima bukan karena yang
diperbuatnya melainkan karena berharga tanpa jasa sendiri. Itulah
spiritualitas yang sepantasnya berkembang dalam diri para murid dalam
mengikuti guru mereka.

SEBUAH PERBANDINGAN
Ada manfaatnya bila hal di atas dipahami bersama dengan pengajaran
yang diberikan setelah pemberitahuan kesengsaraan yang pertama dan
yang ketiga. Titik berat dalam pengajaran yang disampaikan setelah
pemberitahuan sengsara yang pertama ialah kesediaan berdedikasi utuh
dalam mengikuti Yesus (Mrk 8:34-38). Injil mengungkapkannya dengan
“merelakan nyawa”. Tetapi yang ditekankan bukan sisi pengorbanan
melulu, melainkan sisi keuntungannya. Dikatakan, siapa yang kehilangan
nyawanya “karena aku dan karena Injil” malah akan mendapatkan
keselamatan bagi dirinya (Mrk 8:35). Jadi tekanan bukan pada
kemartiran atau berani mati demi agama dan iman. Tafsiran ke arah itu
kurang membantu dan malah bisa disebut meleset. Yang dituju ialah
keberanian untuk menanggalkan serta meninggalkan pikiran-pikiran
sendiri mengenai apa itu mengikut Yesus dan membiarkan diri dituntun
olehnya dan dengan demikian dapat mengalami sendiri apa itu berjalan
bersama dia. Jadi “kehilangan nyawa” di situ ialah membuka diri untuk
menerima kekayaan batin yang sejati. Spiritualitas ini memberi arti
pada “menyangkal diri dan memikul salib dan mengikuti dia” yang
dikatakan sebelumnya (ay. 34). Bukan memikul salib apa saja, melainkan
ikut ambil bagian dalam meringankan salib yang dipanggul Yesus. Itulah
salib yang bermuara pada kebangkitan.

Nanti sesudah pemberitahuan kesengsaraan yang ketiga kalinya,
diceritakan bagaimana Yakobus dan Yohanes meminta Yesus agar mereka
dapat duduk di kanan dan kirinya dalam kemuliaannya kelak. Yesus
menanyai mereka apa mereka bersedia minum dari cawan yang diminumnya
dan dibaptis dengan baptisan yang diterimanya. Maksudnya, menjadi
senasib sepenanggungan. Mereka menyatakan sanggup. Sekalipun demikian,
Yesus menukas, ia tak berhak memberikan kedudukan yang mereka inginkan
itu karena hanya diberikan kepada yang pantas menerimanya, siapa pun
orang itu (Mrk 10:35-40). Kemudian Yesus menambahkan, siapa ingin
menjadi besar hendaknya menjadi orang yang mau melayani, yang mau
menjadi yang pertama hendaknya ada di bawah, sebagai hamba, seperti ia
sendiri (Mrk 10:43-45).

Dari ketiga pengajaran tadi dapat dilihat apa artinya mengikuti Yesus.
Pertama-tama, tentu bukan meniru-niru dia, melainkan membiarkan diri
dibentuk olehnya sendiri. Kedua, alih-alih beragenda mau jadi orang
besar, ada ajakan bersedia datang kepadanya tanpa apa-apa yang dapat
diperhitungkan sebagai jasa yang patut mendapat ganjaran. Akhirnya,
mengikuti dia itu berarti membiarkan diri dituntun oleh Yang Maha
Kuasa sendiri ke tempat dan kedudukan yang sudah disediakan oleh-Nya.
Memang kini belum dapat diduga macamnya namun Bapa yang Maha Baik
tentunya akan memberikan yang terbaik Inilah iman yang ditumbuhkan
Yesus dalam diri murid-muridnya.

Salam hangat,
A. Gianto

 

gambar: lds.org

A. Gianto

Pastor Yesuit, anggota Serikat Yesus Provinsi Indonesia; profesor Filologi Semit dan Linguistik di Pontificum Institutum Biblicum, Roma.

Related Articles

Close