OPINI

MENGENAL SOSOK  USKUP  MAUMERE   TERPILIH : MGR.  EDWALDUS  MARTINUS SEDU DI  BALIK   INSPIRASI   MOTO

Oleh: Romo Aloysius Ndate

GEREJA lokal  Keuskupan Maumere memiliki kembali gembalanya, setelah pasca pengunduran diri Mgr. Gerulfus Kherubim Parera SVD. yang mengalami masa “sede vacante “  (takhta lowong) yang relatif dua tahun lamanya. Dengan merujuk pada (Kan. 401 §1), di mana menyebutkan bahwa Uskup wajib mengajukan pengunduran diri kepada Paus ketika menginjak usia 75 tahun. Ternyata  pada  hari sabtu 14 juli 2018,  waktu puku 18.00   (Roma –  Vatikan pukul 12.00 ), di saat yang paling tidak terduga Paus  Fransiskus melalui radio Vatican   mengumumkan  nama  RD. Edwaldus Martinus Sedu,  menjadi Uskup Maumere.  Peristiwa pengangkatan uskup  ini  sebagai prioritas karya keselamatan  Allah bagi manusia.   Di waktu yang sama pula Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira SVD mengumumkan berita ini kepada umat Katolik Keuskupan Maumere. Tentu saja, pengangkatan Mgr. Ewaldus menjadi inspirasi dan  sebuah amanat surgawi  yang memberi kesempatan kepada manusia untuk memulai lembaran baru dalam menabur  kegembiraan dan harapan bagi umat.

Jika ingin masuk dalam rana publik, berita yang penuh cemerlang ini,  diyakini sebagai   anugerah Allah yang luar biasa dan dengan kesadaran  penuh akan membuka babak baru wajah Keuskupan. Begitu diumumkan sebagai uskup Maumere, berbagai reaksi spontan yang muncul, tepuk tangan ,teriakan histeris, berjabatan tangan, tertawa  dan menangis.  Karena  uskup yang dinantikan telah hadir dan memberi rasa sukacita melimpah  bagi umat setelah penantian panjang dalam kesabaran dan doa. Di sini, umat merindukan seorang Uskup   “eklesiastik – orang publik Gereja  yang partisipatip lewat bekerja sama dalam pelayanan, siap mendengar keprihatinan dan keluhan – keluhan umatnya. Kesadaran yang demikian, tentunya dapat kita katakan bahwa seorang Uskup itu telah siap dan sanggup melibatkan diri serta  tercatat sebagai pemenang sejarah dalam keselamatan umatnya.  Termasuk  kepekaan membaca situasi  sosial dengan sikap fair dalam semangat solidaritas dan kekeluargaan.

Selang  waktu beberapa  menit, ada desiran dari kejauhan, RD. Yohanes Soro, Pastor  Paroki Mundemi – Keuskupan Agung Ende, yang baru se- bulan lalu mengunjugi Mgr. Edwaldus Martinus Sedu,  di rumah Kuria,  juga tak ketinggalan menyampaikan sukacita mendalam  melalui handphone,  ia melembutkan nada suaranya dua kali berseru;  “ E- le,   Ja’o  Mata  Si “ ( bahasa Bajawa – Flores ) artinya  “Biarlah sudah sekarang  saya mati”.  Mungkin juga karena kedekatannya, sehingga spontan    mengulang kalimat seperti di dalam Kidung Simeon:  “Ya Tuhan sekarang juga biarkanlah aku hamba-Mu ini berpulang karena aku telah melihat keselamatan”. Banyak orang secara bebas mulai menafsir ikhwal mendengar dan mendapat berita tersebut, termasuk RD. Richard Muga Buku, Direktur Politeknik  Cristo  Re, milik Keuskupan Maumere. Romo Richard mengungkapkan perasaan hatinya mengenai berita terpiihnya Romo Ewaldus itu bagaikan  letupan nurani (scintilla conscientiae ). “Inilah waktu dan saat yang tepat sesuai janji Allah untuk “ka’e (Kakak) Edwal. Terus terang tadi pagi setelah perayaan misa  di Kapela Perumnas, langsung secara spontan mengangkat doa untuk terpilihnya Uskup baru”. Kendati sisi penghayatan rohani dalam doa tersebut,  memungkinkan  proses panggilan yang tak pernah berhenti dan kita terbuka kepada kehendak Allah,  “supaya kehidupan di atas bumi ini sama seperti di dalam surga”.

Kesan spontan dari teman lain yang seangkatan beliau juga punya kesan tersendiri.  Pertama, RD. John Eo Towa, Direktur Puspas Keuskupan Maumere dengan menitik air mata ia pun secara spontan berseru, “adegan ini  hanya bisa menjadi kenyataan jika ada kuasa kehadiran Allah dan ada iman”.  Kedua,  RD. Syilvester  Oba, Pastor Paroki Sikka, dengan rasa penuh haru, juga menitik air mata sambil berkata, “Ia  orangnya berkarakter kalem, bersahaja, tenang, tidak menonjol, baik terhadap semua orang,  gaya bicara dengan pernyataan pendek yang berakhir senyum  dan percaya secara penuh pada orang yang diberi tugas. Ketiga, RD. Deodatus Duu, Praeses Seminari Menengah Bunda Segala Bangsa Maumere, mengatakan bahwa  di tengah kabut  gelombang milenial  “manusia yang semakin abunawas” termasuk komunikasi teknologi yang sulit dibendung, ternyata ia harus mengambi alih sebagai juru mudik. Maka marilah kita teman sekalian berdoa, agar cakrawala  pikiran dan kharismanya selalu diberkati Tuhan.  Kini ia mulai siap hijrah tempat tinggalnya  di “Lepo Bispu” rumah Keuskupan Maumere. Dengan demikian perlahan namun pasti,  ia  mulai siap  bertolak dan berjuang dengan strategi baru untuk menyelamtkan umat manusia, agar tidak hanyut oleh penderitaan karena ketidakpastian kehidupan dunia.

Tentu saja menjadi  sebuah refleksi yang lebih dalam atas kuasa penyelenggaraan Ilahi yang tak pernah keliru. Sesui sabda-Nya; “ Tetapi Aku datang, agar mereka mendapat hidup, yang penuh dan melimpah ”  (bdk, Yoh,10;10 ).Gejala lain yang tampak adalah  semua yang hadir di pendopo Lepo Bispu terpancang wajah senyum yang sungguh menikmati suatu persekutuan istimewa dan  bersedia untuk   menanggungkan beban bersama dengan  uskup yang baru. Dengan kerelaan hati umat untuk membaktikan diri, menjadi tanda Gereja sebagai suara yang hidup  ( viva vox ) sesuai rencana Tuhan yang tanpa batasan ruang dan menjawab peluang.

Dalam audeinsi pendek di senja itu, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu Uskup yang baru terpilih, menyampaikan kata – kata bermakna agar kita  harus secara  bersama – sama memberi teladan dalam doa dan perbuatan nyata dalam setiap karya perutusan  di Keuskupan ini. Sebagai uskup  terpilih, tentu ia pun menyadari dirinya hanya sebagai pejuang Allah yang  selalu  siap mengikuti  Yesus dan mewartakan kabar gembira. Ini adalah sebuah idealisme transendental yang mempunyai nilai nyata bahwa kesejahteraan dan kebahagian yang dicapai manusia merupakan anugerah Allah.

Di tengarai  situasi dan pengalaman  sesuai dengan judul di atas untuk kembali bernostalgia, tulisan ini tidak lebih sebuah sketsa yang mau menampilkan sosok Uskup terpilih Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, yang saya kenal berdasarkan perjumpaan, kerja sama dan pembicaraan pribadi.  Selama kurun waktu tahun 1983 hingga tahun 2018,  saya mengenal  beliau mulai sejak  sebagai teman frater, rekan imam dan Uskup. Yang situasi hidupnya  sebagai  seseorang dengan   sosok pribadi yang tidak mencari identitas dan individualitas.  Kesan lahiriah yang  diperoleh  dari teman seangkatan  sekolahnya   secara saksama, melihat beliau sebagai  pribadi yang konsisten, ada kesesuaian antara bicara dan bertindak, antara karya dan hakikat sekaligus merefleksikan hal  penting dalan tugasnya.

Demikian pula  di tengah  orang – orang yang sudah maju secara material, intelektual dan nalar, beliau tetap mengunggulkan  gaya khasnya yang sedehana seperti bahasa, irama dan gerak tubuh.  Menjadi sebuah kehendak untuk bersedia menerima berbagai kemungkinan  hasil perubahan dan kemajuan yang telah dibayang –bayangi oleh sikap rasionalisa dari pada kepekaan hati. Dalam hal ini sebagai seorang Uskup terpilih melalui pengalaman dengan  tanpa gembar – gembor untuk di masa mendatang ia akan memperbaiki kehidupan umatnya dengan “kehendak bebas” ( free will ) yang dibenarkan lewat  isyarat  “sabda Allah”.   Pemikiran ini merupakan cermin sekaligus perbaikan masalah kesenjangan yang sedang  terpampang di hadapan kita dan siap  menggapainya lewat semangat  gerakan jalan bersama.

Di barengi pula dengan riwayat imamatnya,  setelah ditahbisakan menjadi Imam ia mendapat penempatan pertama di Paroki St. Yosef Maumere, kala itu masih dalam naungan Keuskupan Agung Ende.   Lalu dipindahkan ke Paroki St. Maria dari Gunung Karmel Wolofeo – Lio Mego, sebuah wilayah yang masih sangat terisolasi dengan rupa – rupa kekurangan. Kemudian ia kembali lagi menjadi Pastor Paroki St. Yosep ,  yang pada kala itu terjadi musibah gempa bumi   dahsyat, 12 Desember 1992.   Kembali ia ditunjuk oleh para  Uskup  SENUSRA  untuk menjadi ketua KORWIL  ( koordinator wilayah ) bencana alam  gempa untuk di Kevikepan Maumer ( Kabupaten Sikka ) dimana  telah meluluh – lantakan  bangunan di kota dan desa.  Kemudian diputuskan   oleh Uskup Mgr. Donatus Jagom, SVD. untuk melanjutkan studi di Roma dan sekembalinya beliau bertugas di Seminari tinggi St. Petrus Ritapiret.  Lalu ia pun diangkat mejadi Praeses, dan berselang  waktu yang tak lama  ia  pun kembali dipercaya  menjadi  Vikjen Keuskupan Maumere dengan tugas rangkap, hingga  pada akhirnya  terpilih menjadi Uskup,  Keuskupan  Maumere.

Dengan  nada bicara yang beraksen Bajawa asal kampung  kelahirannya,  ia pun suka humor,  sangat tekun  memecah keruwetan jika  ada persoalan dan semangat untuk mendengar  sambil sesewaktu memberikan argumentasi pembelaan yang penuh bernada kasih. Saya kira setiap  orang yang pernah berbicara dengan Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, akan secara spontan merasa tertarik dengan ketertiban pikiran dan juga ketenangan jiwanya. Pindai – batin ini menunjukkan  hakekat terdalam doa pribadinya  yang merupakan daya dorong untuk mengasihi dan  merangkul sesamanya,  terutama bagi  yang berkekurangan diterima sebagai satu keluarga. Konsep ini diyakini  beliau sebagai implementasi “Gaudium et Spes, yang menunjukkan Gereja yang inklusif dan mau terlibat dalam masalah  – masalah dunia.

Semua itu mengandung makna, bahwa menjadi  Uskup Diosesan pertama – tama bukanlah sebagai penguasa wilayah, tetapi  memiliki kewenangan khusus untuk mempersatukan komunitas umat beriman dan presbiterium.  Sebagai sahabat, saya ingin bertolak dalam sebuah perjalanan waktu,  bahwa beliau sendiri seperti batiniahnya tidak pernah membayangkan bahwa ( 27 tahun )  usia ziarah  imamatnya  akan  diangkat menjadi uskup Diosesan atau dalam tradisi kepemimpinan Gereja perdana disebut suksesi Apostolik.  Kita pun menyadari bahwa orang  sukses Apostolik merupakan buah dari pengabdian kepada sabda Allah sebagai harta yang berharga. Sabda dalam Gereja adalah panggilan  kepada  ibadat  dan penyembahan, manakala  tampil sebagai gembala yang tidak tegah meninggalkan umat-Nya, tapi menjaga kebaikan bersama (bonum commune).

Ia harus memegang tongkat estafet pengembalaan di belakang 2 (dua)  uskup pendahunya, Mgr. Vincentius Poto Kota Pr.  dan Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira SVD. Kedua uskup ini punya reputasi  alam pikiran dan kharisma perintis arah dasar pastoral. Dalam gelombang gerakan inilah,  ia sudah merasa terpanggil untuk  bertindak bijak  sebagai, “gembala umat yang akan menghantar domba – domba kepada hidup dalam kelimpahan”  (bdk. Yoh, 10; 10b). Konteks ini amat mendasar, maka ia akan hadir sebagai sosok yang memegang teguh dokrin Gereja dan menolak kekuatan arkais atau terjerumus dalam adat yang membelenggu. Tentu saja  alam pikiran dan kharisma  menjadi kriteria  yang   mengesankan, menjadi pemandu menemukan jalan, kebenaran dan hidup bagi keselamatan umatnya. Dengan kembali melirik pada apa yang umum dikenal sebagai “local wisdom”  (kearifan lokal), suatu modal sosial – kultural dalam koridor  refleksi pastoral pasca alih tugas, kita masih menimbah harta batin beliau yang  dengan penuh kesadaran religius  membuat ia pun bebas berpartisipasi dalam diskusi dan mampu menyesuaikan diri dengan pendapat bersama.  Dalam arti ini, tongkat estafet karya besar Keuskupan telah ditaruh ke atas pundaknya, ketika bersamaan dengan kehidupan iman umat yang telah dibelokan oleh arus globalisasi.  Karena dunia telah dikuasai  oleh pergulatan kehidupan keluarga yang semakin tercabik – cabik,  termuat  dengan rencana  yang  muluk – muluk, generasi milenial  yang cepat  merasa lelah di setiap pekerjaan dan rasa putus asa di tengah perubahan era globalisasi.  Anggapan ini sudah semestinya dilawan dengan memberi  “sosok pribadi” yang berorientasi untuk menciptakan semangat berdialog dan perlahan – lahan  secara realistis menghindari doktrin yang bersifat kekuasaan.

Menjadi  seorang uskup memang bukan wujud impian, tapi panggilan yang harus dijawab “ya” tanpa  tahu ke manapun  dan bagaimana nantinya. Hal yang pertama tidak lain merupakan ungkapan  dari penglaman konkrit sejak Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, mulai  berniat untuk masuk seminari hingga di tahbiskan menjadi imam dan terpilih menjadi uskup.   Sekarang kita perlu  memahami dan memperdalam  tiga tahap dalam pengangkatan seorang uskup:  pertama, pengangkatan ( Kan.377 § 1 ); kedua,  konsekrasi atau  pentahbisan (Kan.375   § 2 );ketiga,    pengambil – alihan jabatan secara kanonik (Kan.382). Karenanya, untuk saat ini Uskup terpilih tidak dapat mencampuri pelaksanaan jabatan yang diserahkan kepadanya sebelum  mengambil – alih jabatan secara kanonik.

Dengan tidak memandang enteng untuk  tugas  yang tidak ringan ini,  Mgr.Edwaldus Martinus Sedu,  sadar bahwa panggilan ini bukanlah  kehendak manusia, melainkan  berasal dari Allah sendiri yang memungkinkan semuanya.  Kita belum tahu apa yang kemudian akan terjadi, serta bagaimana arah dan warna kebijakan pengembalaan selanjutnya. Tapi  akan kita lihat bersama apa kiranya yang akan dilanjutkan, sebagai seorang yang  sudah  punya otoritas Ilahi   dalam  menetapkan norma – norma  dan mengambil keputusan dalam kasus khusus Gereja lokal. Dalam Gereja Kristus ada tiga fungsi yang dipercayakan oleh Kristus sendiri yaitu  menguduskan, mengajar dan memimpin. Melalui  kuasa tahbisan (potesta ordinis).  Kepemimpinan itu memiliki tiga makna tugas yakni legislatif, eksekutif dan yudikatif (Kan. 135 ).  Dan inilah yang menjadi pegangan seorang Uskup dalam reksa pastoral kegembalaannya ke depan hingga memasuki masa purnakarya.

Sisi tilik, perjalanan waktu yang berkenaan dengan arus zaman individualisme,  tidak mengherankan jika  Mgr. Edwaldus Martinus Sedu,  Uskup ketiga  Keuskupan Maumere  memiliki siasat dan visi  kegembalaan lewat  Motto tahbisan episkopalnya :  Duc In Altum”. Bertolaklah ke tempat yang dalam ( Injil Lk, 5,4 ). Inspirasi moto ini addalah berakar kuat pada kisah Petrus dan rekan – rekannya yang telah semalam suntuk menjala ikan, namun tidak menuai hasil apa pun. Namun karena Yesus yang menyuruhnya, mereka menebarkan jala juga dan hasilnya sungguh melimpah. Moto ini  selalu menyadarkannya bahwa karya pastoral, karya kerasulan, karya penyelamatan adalah karya Allah.  Dan kita mendapat kehormatan sekujur ziarah kehidupan boleh turut serta dalam karya, seturut perintah Yesus, ”untuk bertolak ke tempat yang dalam”.  Sungguh minus – malum (sebagai pilihan terbaik) moto   tersebut telah terinternalisasi dan menjadi praksis hidup yang sekaligus  sebagai panduan  di era post modern.  Paling tidak  terus mendambakan kesejahteraan umat  dalam  karya ciptaan Allah, sehingga tak seorang merasa dipinggirkan, seperti sebuah aktualisasi yang diungkapkan oleh St. Fransiskus dari Asisi: “Deus Meus et Omnia” ( Allah adalah segalanya bagiku ).

Begitu juga pilihan sikap para murid perdana menjadi makna hidup dan dasar tradisi teologis yang  tak ada akhirnya;  Pertama,  mereka mulai mengendam pendapatnya,  tidak melakukan apa pun  dan timbul perasaan konflik kebebasan, seperti “sudah semalam suntuk kami tidak mendapat”;  Kedua,  para murid mulai melawan keraguan dan mengikuti  perintah Yesus untuk,  “ bertolak ke tempat yang lebih dalam”. Ketiga, dengan iman para murid yang baru berkecambah, maka  secara perlahan mulai percaya bahwa akan membuahkan hasil  yang berlimpah – limpah. Kita pun merenung dan bertanya, mengapa Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, harus memilih moto   “Duc in Altum”  sebagai sebuah siasat kegembalaannya ? Mengkaji lebih dalam, sebagai gembala umat di wilayah Keuskupan  yang baru berdiri dan belum berurat – akar, maka penting semangat kepiawaian dan   kepada khalayak umat  yang letih lesu dan berbeban berat supaya mulai bertolak  lebih dalam demi memperoleh  hidup berkelimpahan.

Untuk itu,  apa pun usaha dan niat kita sangatlah tidak penting atau jatuh nihil  apa bila inovasi  dan karya hidup yang dilakukan manusia,  mengabaikan  perintah Tuhan. Manusia bisa tergeletak dalam ketidak pastian dan dalam upaya apa pun manusia tak pernah sanggup  meraih kelimpahan. Itulah sebabnya, Mgr. Edwaldus Maritinus Sedu, ingin berpartisipasi secara simbolis dengan umat di Keuskupan yang sedang berziarah di era milenium ke tiga ini menuju kebebasan. Paling tidak umat merasa bersatu dan kuat, seperti  nubuat Habakuk;  “Engkau menjadikan manusia seperti ikan di laut, mereka semua ditariknya dengan kail, ditangkap dengan jalanya dan mengumpulkan mereka di dalam pukatnya” ( bdk. Hab, 1; 15 – 15 )  Kehadiran moto yang lebih simbolis  ini menurut: RD. Yosef Liwu Pr. Pastor Paroki Boawae – Keuskupan Agung Ende,  langsung menyapa teman kelasnya dengan kata – kata gamblang dalam bahasa  Nagekeo, ” Ndoe, too sewengi kai na dheko  nangu ?  ( “ Hei, sejak kapan dia belajar berenang” ). Lalu Ia pun  memastikan bahwa inilah percikan  terdalam hati “beliau”  yang menaklukan kekecewaan umat Gereja lokal yang telah larut bekerja,  supaya kembali bertolak ke tempat yang lebih dalam.

Maka, yang perlu diperhatikan dalam reksa pastoral, agar usaha penggaraman  itu sudah seharusnya semakin berkualitas dan terus  mengedepankan strategi pelayanan  kasih serta subsidiaritas yang saling melengakapi. Seiring waktu corak dan gaya kepemimpinan pada initinya “ jangan takut”  karena Yesus telah mengisyaratkan  untuk “bertolaklah  ke tempat yang  dalam”.  Di sini, konsistensi Uskup kembali mengangkat kehendak manusiawi dan memaklumkan dalam terang  sabda Allah demi mengatasi   masalah  pastoral.  Kita semua  berharap  “di awal dari seruan  gembala” ini, menjadi sebuah perihal penting  agar konsisten  terhadap  kehendak Allah  demi   memperoleh hasil yang  gemerlap dan berlimpah. Aktualisasi situasi yang demikian bukan tanpa dipicu keraguan  dalam melaksanakan misi Yesus Kristus, tetapi yang  dibutuhkan  adalah  kesetian dan ketekunan sehingga terwujudnya habitus baru terutama dalam semangat “jalan bersama”  ( Sinode ).

Dengan lahirnya  motto “Bertolaklah ke tempat yang dalam “, sedikit mengintip  niat luhur   Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, yang mempunyai andil tersendiri supaya  setiap tindakan  selalu menempatkan  Yesus sebagai tokoh inspirasi  pembaharuan  iman, harapan dan kasih.  Dengan  bertolak dalam mengemban misi  pengembalaannya, maka untuk melawan  kekhawatiran menuntut komitmen hati dan pikiran, iman yang mendalam serta semangat rasional dan metodologis. Juga sampai kepada  interpretasi, di mana beliau  sadar bahwa Gereja lokal Keuskupan Maumere baru mulai berkecambah  dan berkembang, maka butuh pola integritas  berpastoral dengan  logika terdalam dari kehendak Allah. Sebagai sesuatu yang sah hal tersebut menjadi sebuah refleksi tentang eksistensi Allah dengan pengakuan  kekosongan historisitas ( tradisi ) di waktu lampau dan berpeluang jika mengikuti perintah.  Itu berarti menghidupkan kembali  kearifan berpastoral  dan interpretasi atas kerepotan – kerepotan pelayanan  yang harus berlandaskan  pada terang  sabda Yesus.  Mungkin kesan inilah yang ditawarkan oleh moto, supaya memahami  perintah Yesus  dalam terang  penjelmaan yang menjadi satu paket  undangan untuk mulai  bertolak  menuju  realitas .

Perlu dicatat di sini bahwa dalam konteks Sikka, sesungguhnya sebuah wilayah yang dihuni oleh masyarakat plural yang amat rentan dengan konflik, karena keanekaragaman pulau, agama, suku dan bahasa.  Di mana terurai tafsiran sosial masih termaktub permasalah  kemiskinan, pengangguran,  kebobrokan gaya hidup  seperti  mabuk, judi, pesta pora dan lain – lain, yang juga menjadi tanggungjawab Gereja.  Maka harus diwaspadai  sungguh oleh seorang pemimpin Gereja bahwa perjumpaan iman dengan banyak kebudayaan turut memberi panduan perubahan. Pembahasan ini menjadi relevan, ketika diperlihatkan sikap manusia yang masih terbuka kepada tradisi yang terbungkus dalam mitos –mitos.  Namun, yang patut kita bersimpuh  ialah membawa kebenaran Allah dalam  memperjuangkan keutamaan manusiawi, termasuk realitas  kebijaksanaan, ugahari, dan keadilan.  Kita akhirnya mengetahui pikiran dan kehendaknya untuk memilih  motto yang sebenarnya bertolak  dari  inspirasi sepak terjang yang pernah beliau sendiri mengalami, mengingat  beliau bukanlah orang asing  yang berada nun jauh di sana.

Paling tidak  isu   kunci di sekitar pemilihan moto yang tidak dapat kita hindari terutama memahami nilai – nilai spiritual  terkait makna  perikop Injil Lukas  5; 1 – 11;  Pertama,   nilai tradisi  ( historisitas ),  telah kami bekerja sepanjang malam;  Kedua, nilai  emosional ( kharisma ) atas kehendak-Mu   dan  Ketiga, nilai  memberdayakan ( empower ) kamu jangan takut.  Dengan  nilai – nilai utama sebagai fundasi  pelayanan, maka menghasilkan momentum pewartaan yang solid dan stabil atau menjadi pemimpin yang sungguh efektif.  Demikian pula para rasul perdana  yang dipilih  untuk  mendengar perintah Yesus  bukanlah  berasal dari  tempat  metropolitan, tapi  mereka yang tinggal di bibir  pantai Genezaret.  Sebuah komunitas  masyarakat madani yang penuh optimis dan selalu percaya kepada kehendak Tuhan pencipta dengan memberi jawaban  atas perintah  Putera-Nya. Saya  menduga bahwa inspirasi  moto ini,  sesungguhnya  beliau telah menemukan kebenaran hakiki,  tentang  kehidupan generasi milenial yang penuh dengan  perdebatan panjang dan  ibaratnya di zaman now manusia lebih suka;  “menghitung berapa banyak jumlah ikan yang ia makan, dari pada  menghitung berapa banyak  jumlah  ikan yang ia tangkap” .

Dengan meneropong  perjalanan imamat Mgr. Edwaldus  Martinus Sedu,  yang mencengangkan kini  menjadi puncak  refleksi kritis atas kebesaran Tuhan, yang telah membuahkan semangat baru, lewat    inspirasi   moto “ bertolaklah ketempat yang lebih dalam“.  Inilah  spirit yang penuh  makna dalam rasa  kepedulian  demi suksesnya reksa pastoral kekinian dan   tak henti  berjuang untuk menghadiri ziarah bersama demi menuju perubahan yang berkualitas di tengah umat.  Termasuk   ikhlas memberi  jawaban atas pertanyaan  tragis  yang datang dari  umat zaman ini dan tetap memegang teguh pada ciri khas  jati diri. Sekaligus adanya kesesuai locus dan fokus yang akan mempengarui kehidupan umat, sehingga  tiba pada pelestarian hak asasi  Gereja Kristus yang menagjubkan.

Akhirnya, sisi tilik 27 tahun hidup imamatnya  terkadang seperti  “garam yang larut” ,  tetapi tidak hanyut. Di tengah kehidupan yang penuh kontroversi  ia tetap setia mencari kebenaran pada kehendak Allah dengan penuh  kejujuran melalui misi kerendahan hati yang berani.  Selaras dengan perjalanan waktu yang telah menguras hidupnya, ia adalah sosok yang  tetap merekonstruksi keyakinan yang tak sanggup dijelaskan namun terbukti.  Dengan sikap kritis dan terbuka  dalam khisaran, semoga ia pun dengan setia  menjaga tugas Ilahi yang telah  mulai diembannya sebagai warisan tradisi Gereja  hingga pada  keabadian  “ Inilah  pekerjaan yang dikehendaki  Allah, hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah dipilih Allah” ( bdk. Yoh.6,29 ).

………………………………

Editor: John Laba Wujon

Tags

John L. Wujon

Staf Komisi KOMSOS KWI

Related Articles

Check Also

Close
Close