BERITAKWI

Wawancara Eksklusif Komsos KWI Bersama Mgr. Edwaldus Martinus Sedu

BERKENAAN dengan perayaan tahbisan uskup baru Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Tim Komsos KWI menyambangi Bapa Uskup di Lepo Bispu (Kediaman Uskup) di Wairklau, Maumere, dan berbincang dengan Bapa Uskup, Senin (24/9/2018). Dalam suasana santai, akrab, dan dengan tone positip Bapa Uskup membagikan pengalamannya seputar peristiwa pengangkatnya sebagai uskup baru Maumere dan kehidupan menggereja di Keuskupan Maumere. Semuanya ia letakan dalam terang Sabda Allah.

Berikut petikan wawancara lengkap tim komsos KWI dengan Mgr. Edwaldus:

Selamat malam, Bapa Uskup… 

Selamat malam juga. Selamat datang di Keuskupan Maumere.

Kami ingin mendengar cerita sedikit ketika pertama kali Bapa Uskup mendapat berita dipilih menjadi uskup Maumere?

Waktu saya mendengar telpon dari kedutaan Vatikan, waktu itu disampaikan oleh seorang staf kedutaan, kemudian langsung disusul oleh Duta Vatikan, itu mengejutkan saya karena selama ini saya hampir tidak pernah ditelpon kedutaan, kecuali pada saat saya sebagai Praeses Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Maumere, saya seringkali ditanya soal formasi di Seminari Tinggi. Tetapi setelah saya meninggalkan Seminari sejak itu saya tak pernah menerima telpon lagi. Maka, pada saat saya mendapat telpon dari kedutaan dan meminta saya untuk segera ke Jakarta dan bertemu Duta Vatikan.

Apa perasaan Bapa Uskup saat diminta untuk segera ke Jakarta?

Pada saat itu saya merasa cemas, dan juga takut. Dalam benak saya muncul pertanyaan, untuk apa saya dipanggil Duta supaya segera ke Jakarta? Waktu itu, ada pembicaraan lanjutan di mana Duta mengatakan bahwa Ia akan meminta saya untuk bertemu dan berbicara secara pribadi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Kapan akhirnya Bapa Uskup bertemu dengan Duta Vatikan di Jakarta?

Dalam pembicaraan melalui telpon itu, pada waktu itu tanggal 3 Juli 20018, Duta meminta saya untuk bertemu dengannya, juga pada tanggal ini. Padahal, saat itu saya berada di Flores. Agaknya tidak mungkin saya bertemu dengan Duta di Jakarta pada hari itu. Kemudian dalam pembicaraan lanjutan bersama Duta diputuskan saya akan bertemu dengan Duta tanggal 5 Juli 2018, pukul 09.00 WIB. Tanggal 4 saya berangkat dari Maumere menuju Jakarta. Di Jakarta, saya menginap di Wisma Unio Keramat 7. Tanggal 5 pagi, sebelum jam 09.00, saya kebetulan sudah tahu jarak tempuh dari Keramat ke Kedutaan Vatikan tidak terlalu jauh. Sehingga saya berangkat ke sana dengan naik bajai biar lebih cepat tiba di sana.

Seperti apa situasi di Kedutaan, ketika Bapa Uskup tiba di sana?

Tidak sampai 20 menit lama perjalanan, saya tiba di Kedutaan sebelum pukul 09.00. Pada saat itu Duta sedang sarapan pagi. Satpam lalu meminta saya untuk menunggu sejenak. Tidak lama juga. Duta sendiri yang datang, dan ya, saya memang baru pertama kali bertemu dengan Duta. Nyatanya, Duta sendiri juga orang baru. Tapi, sebagaimana orang Italia, kali ini saya merasakan Duta begitu ramah. Malah Duta lebih banyak berbicara untuk saya. Kemudian Duta mengajak saya dari pendopo menuju ruang kerjanya.

Tapi untuk saya, ada satu pertanyaan besar yang tersimpan di benak saya. Karena saat bincang dengan Duta di pendopo, Duta begitu ramah dengan saya. Apa maksud semua ini? Duta ajak saya ke ruang kerjanya, di sana rupanya beliau memperhatikan raut muka saya yang tampak cemas dan penuh tanda tanya. Makanya, saat berbicara dengan saya, Duta tidak mengambil posisi duduk berhadapan seperti kepala kantor dengan stafnya, tapi langsung mengambil tempat di sisi kiri saya. Duta lalu menepuk bahu saya dan mengatakan bahwa Ia baru saja kembali dari Italia dan mendengar langsung dari Bapa Paus Fransiskus bahwa saya telah diangkat menjadi uskup Maumere.

Bagaimana reaksi pertama Bapa Uskup mendengar penyampaian dari Duta?

Hahaha…Terus terang saja, saat itu reaksi fisik saya langsung berkeringat. Padahal, saya ada di ruangan ber-ac.  Reaksinya seperti itu. Tapi kemudian, rupanya Duta tangkap perasaan cemas saya. Lalu Duta menepuk bahu saya dan mengajak saya, “Mari kita pergi berdoa.” Sama sekali Duta tidak bertanya kepada saya, bagaimana tanggapan saya atas berita itu. Tidak. Lalu kami pergi ke Kapel dan di sana saya diberi waktu untuk hening sejenak dan berdoa. Duta sendiri yang memimpin doa, mengajak saya untuk mendaraskan doa “Turunnya Alla Roh Kudus”dalam bahasa Latin, dan kemudian membiarkan saya berdoa sendirian.

Di menit-menit awal doa, saya merasa tidak fokus karena masih cemas. Tapi setelahnya saya berupaya untuk berdiam diri dan memasrahkan diri saya pada kehendak Allah. Bertepatan dengan moment pertemuan ini, dua hari lagi, yakni tanggal 7 Juli saya merayakan ulang tahun imamat saya yang ke-27, dan pada saat saya berdoa, terbersit moto imamat saya, “Ini Aku, Utusalah Aku”. Saat itu juga saya berpikir bahwa semua ini merupakan kehendak Allah. Sehingga ketika waktu saya ditanya Duta bagaimana pendapat saya, saya katakan, “Ya, saya terima.”

Waktu dipanggil ke Jakarta, memang tidak ada kecurigaan dari Bapa Uskup (Saat itu masih Romo) bahwa sepertinya nanti Romo akan diangkat jadi Uskup?

Tidak, tidak ada kecurigaan sama sekali. Bahwa untuk menjadi uskup, itu tidak ada dalam benak saya.

Adakah reaksi penolakan dari Bapa Uskup waktu itu?

Tadi sudah sempat saya katakan, bahwa awalnya memang muncul perasan cemas. Tapi juga ada pertanyaan seperti ini, “sayakah yang dipilih?” Sebagai seorang imam yang selalu menjalankan tugas sebagaimana yang dipercayakan oleh Bapa Uskup, setelah ditahbiskan menjadi imam ditugaskan di Paroki Santo Yoseph, Maumere. Setelah itu, saya dipindahkan ke sebuah paroki pedalaman. Akses ke paroki ini cukup sulit. Tapi, saya menjalaninya karena keyakinan saya sebagai seorang imam. Apapun yang terjadi, sesuai dengan moto imamat saya, “Ini Aku, Utuslah Aku”, saya menjalani tugas panggilan dalam situasi apapun.

Bapa Uskup, hari-hari ini umat juga ingin tahu sebenarnya seperti apa ya proses pengangkatan seorang Uskup?  Ada kecenderungan warga Gereja untuk berpikir dalam alam demokrasi di mana seorang pemimpin dipilih secara demokratis, dan bukan oleh karena karya Roh Kudus?

Prosesnya ya itu, kita mendengar setelah semuanya terjadi. Bahwa sebelumnya oleh Bapa Uskup setempat dalam hal ini Uskup Maumere Mgr, Kherubim, mengajukan beberapa nama sebagai calon uskup dan nama-nama itu kemudian dikirim ke Roma. Setelah itu, kita tahu ada proses yang terjadi di sana dan selanjutnya nama-nama tadi dikembalikan untuk dilihat lagi. Dan memilih orang-orang tertentu, entah itu imam apakah itu imam Projo atau imam Religius atau juga umat beriman. Ini yang kemudian diceritakan oleh rekan-rekan imam. Sementara saya sendiri tidah tahu. Memang beberapa kali saya juga pernah diminta untuk memberikan penilaian terhadap rekan-rekan imam lain yang namanya disebut-sebut akan menjadi uskup. Tapi bahwa saat ini terkait pengangkatan saya sebagai uskup, saya sendiri tidak tahu persis.

Setelah merenung dan berdoa, akhirnya Bapa Uskup menemukan sebuah moto, “Duc in Altum”. Apa arti moto ini bagi Bapa Uskup dan juga Gereja Keuskupan Maumere?

Moto itu muncul berdasarkan pengalaman hidup keseharian saya dalam komunita-komunitas, di Keuskupan Maumere ini, bersama dengan Bapa Uskup Kherubim yakni ketika saya diangkat menjadi Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Maumere sekaligus sebagai Praese Seminari Tinggi dari tahun 20014. Kemudian saya pindah dari Ritapiret ke Keuskupan ini tahun 2016. Hidup bersama itu sungguh memberi inspirasi bahwa apa yang telah kami mulai bersama dengan Bapa Uskup, terutama berkaitan denan Sinode I Gereja Keuskupan Maumere, dan berbagai program keuskupan, saya lihat itu sebagai sesuatu hal yang baik karena saya juga terlibat langsung dalam proses itu. Saya pun memutuskan untuk meneruskan apa yang sudah kami mulai dan lakukan secara bersama-sama yang nantinya akan berakhir pada tahun 2018 ini. Pada tahun 2019 kami akan evaluasi semua program kerja dari Sinode ke-1, dan selanjutnya kami akan tetapkan dalam Sinode ke-2. Pengalaman hidup bersama dengan Bapa Uskup dan pelaksanaan program kerja sinode ke-1 inilah yang menjadi dasar bagi saya untuk diteruskan dan dikembangkan selanjutnya.

Bisa ceritakan sedikit poin-poin penting dari Sinode Pertama lalu, Bapa Uskup?

Sinode pertama itu berproses bersama umat, dimulai dari komunitas basis gerejawi. Di sana berbagai masalah dalam kehidupan menggereja dikumpulkan, dianalisis, dicarikan akar masalahnya, lalu dicarikan solusinya. Dari sana, kami lalu merumuskan beberapa program strategis. Pertama, berkaitan dengan pemberdayaan petugas pastoral. Dari berbagai pertemuan di komunitas basis, ditemukan persoalan belum memadainya pengetahuan dan kinerja para petugas pastoral. Sehingga kami berupaya mencari solusi atas persoalan itu dengan melakukan pemberdayaan petugas pastoral. Contoh sederhananya berkaitan dengan seorang fasilitator di kelompok-kelompok kategorial, lalu menjadi penggerak di komunitas basis. Seringkali mereka tidak dibekali dengan pengetahuan praktis secukupnya sehingga kami jadikan sebagai salah satu program strategis. Kedua, pemberdayaan keluarga-keluarga Kristiani, di mana kami mencermati berbagai permasalahan dalam hidup berkeluarga yang membutuhkan pendampingan langsung dari Gereja. Ketiga, pengembangan sosial-ekonomi umat, di mana seperti kita ketahui bersama bahwa umat kami di wilayah keuskupan Maumere ini termasuk masyarakat yang hidupnya sederhana saja, yang membutuhkan pendampingan agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dan juga, Gereja terus melakukan pendampingan terutama dalam membangun ketahanan umat berkaitan dengan budaya (pesta). Ketahanan dalam arti Gereja berupaya agar bersama umat bisa mengatasi budaya pesta ini.Beberapa program itu harus diakui dalam pelaksanaannya dinilai belum sempurna dilakukan. Karena itu, kami perlu meriview lagi, dan ditetapkan lagi pada periode berikutnya.

Apa keprihatinan utama dari Bapa Uskup berkenaan dengan kehidupan menggereja di Keuskupan Maumere ini?

Berdasarkan pengalaman saya sendiri, ya itu tadi. Kita perlu memperhatikan secara lebih nyata kehidupan keluarga Kristiani. Sebagai sel terkecil dari Gereja, keluarga punya peran yang penting. Jika keluarga itu hidup baik dan benar, itu akan sangat membantu hidup menggereja. Bukan hanya gereja saja, tapi juga hidup bernegara.

Lalu ke depan ini, apa prioritas kerja Bapa Uskup terutama berkaitan dengan sejumlah persoalan dan program strategis tadi?

Saya kira apa yang sudah kami temukan dalam sinode, kami akan tingkatkan lagi kinerja kami, menjadikan keuskupan Maumere yang lebih beriman, sejahtera, solider, saling membantu dan berbagai dalam terang Sabda Allah.

Solider in apa karena kehidupan umat belum sampai pada taraf sejahtera?

Di satu pihak, bisa seperti itu. Tetapi, di pihak lain, itu menjadi kekuatan kami untuk bergerak lebih maju. Inilah makna sesungguhnya dari moto saya, Duc in Altum tadi. Bahwa hidup di dunia ini, kita tidak hanya membangun kehidupan rohani saja tetapi juga kehidupan jasmani. Keduanya saling terintegrasi satu sama lain. Berjuang dari waktu ke waktu, bersama dengan seluruh umat, agar menjadi lebih baik lagi.

Terakhir, Bapa Uskup mungkin mau katakan sesuatu, pesan, untuk umat Keuskupan Maumere?

Kalau saya bisa menjadi uskup yang baik, maka saya punya keyakinan hidup iman umat di Keuskupan Maumere pasti akan lebih baik.

 

 

 

 

Tags

John L. Wujon

Staf Komisi KOMSOS KWI

Related Articles

Close