GEREJA KITA

Membumikan Pastoral Kontekstual di Tanah Borneo

Pagi ini (17/8)  berlangsung seminar Refleksi Pastoral di aula STT Pastor Bonus. Seminar disampaikan oleh P. Iosephus Erwin, OFM Cap. Tema seminar adalah “Membumikan Pastoral Kontekstual yang Kreatif, Partisipatif, Transformatif, dan Pro Lingkungan Hidup”.

Dalam seminar ini, Pastor Erwin menjelaskan beberapa hal berkaitan dengan kegiatan tugas pastoral bagi para imam. Yang pertama, menurutnya, Pastoral Kontekstual selalu menyangkut 5 tugas Gereja. Kelima tugas tersebut meliputi Koinonia, Diakonia, Kerygma, Liturgia, dan Martyria. Koinonia menyangkut persekutuan hidup.

Sedangkan Diakonia menyangkut pelayanan. Menurut Pastor Erwin, entah imam , biarawan/wati, maupun umat semua saling melayani. Adapun Kerygma itu sendiri menyangkut pewartaan. Seorang imam diharapkan mampu memperkenalkan Kristus kepada semua umat. Pengenalan ini antara lain dapat melalui pendalaman Kitab Suci, retret, dan rekoleksi.

Sedangkan Liturgia sendiri menyangkut kebaktian. Pada bagian tugas ini, seorang imam perlu memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan perayaan Ekaristi, doa pribadi, maupun doa lingkungan. Apabila hal-hal semacam ini telah dilaksanakan maka unsur liturgia telah terpenuhi di suatu Paroki. Adapun martyria itu menyangkut kesaksian hidup. Semua kita dipanggil untuk ikut menjadi saksi Kristus bagi semua orang. Melalui martyria menurutnya, kita dapat menjadi ragi, garam, dan terang di tengah kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Pastor Erwin menjelaskan bahwa imam itu perlu memperhatikan beberapa hal berkaitan dengan pelaksanaan pastoral kontekstual tersebut. Hal-hal itu meliputi pastoral yang kreatif, pastoral partisipatif, pastoral yang transformatif, dan pastoral yang pro lingkungan hidup.

Hal ini menuntut adanya metode pastoral yang kreatif. Metode ini dimaksudkan adanya kepekaan dalam membaca tanda-tanda jaman. Tenaga pastoral haruslah mampu melihat situasi saat ini. Misalnya wilayah yang luas maupun juga pembangunan yang tidak merata. Setelah melihat situasi ini, ia harus hadir dan berkolaborasi dengan siapa saja sehingga dapat keluar dari situasi tersebut. Dengan kata lain adanya sebuah solusi yang tepat.

Seorang imam juga perlu menerapkan metode pastoral partisipatif. Metode ini dimaksudkan dengan melibatkan orang sebanyak mungkin. Bentuknya adalah mewujudkan visi dan misi Keuskupan. Metode berikutnya yang perlu menjadi perhatian adalah gaya pastoral transformatif. Pastoral hendaknya membawa perubahan. Karya pastoral dari seorang imam hendaknya membawa perubahan baik bagi umat maupun bagi masyarakat.

Jika sebuah pastoral kehilangan transformasi maka Gereja tidak bisa berkembang dengan baik dan bisa jadi hanya jalan di tempat. Selain itu transformasi ini juga haruslah berangkat dari diri sang pelaku pastoral itu sendiri. Demikian juga dengan  pastoral yang pro lingkungan hidup. Seorang imam dalam kesatuan dengan umat bahu membahu dalam menjaga dan merawat alam sekitar.

Setelah pemaparan dari Pastor Erwin, seminar ini dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada sesi tanya jawab ini juga para imam diberikan kesempatan untuk mensharingkan pengalaman pastoral mereka di masing-masing Keuskupan.

Kontributor: RD. Ignatius F. Thomas (Imam Diosesan Keuskupan Sanggau)

Tags

RD. Kamilus Pantus

Imam diosesan (praja) Keuskupan Weetebula (Pulau Sumba, NTT); misiolog, lulusan Universitas Urbaniana Roma; sekarang berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI.

Related Articles

Close