HarianJendela Alkitab

Renungan Harian Advent I, Selasa: 4 Desember 2018 (Lukas 10:21-24)

“Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat "

Seberapa sering anda bersyukur dalam satu hari, dalam seminggu, sebulan, setahun dan dalam seumur hidup anda? Apa saja yang anda syukuri? Pastinya selalu kesuksesan dan keberhasilan. Apakah anda pernah mendengar ada intensi khusus atau ucapan syukur karena menderita sakit? Belum pernah bukan? Yang ada adalah ucapan syukur karena sembuh dari penyakit. Pernah mendengar ucapan syukur karena gagal dalam pekerjaan atau tidak lulus studi? Belum pernah juga bukan? Yang ada ucapan syukur karena berhasil mendapat pekerjaan atau lulus studi. Pada umumnya hampir semua ucapan syukur yang kita dengar selalu hal yang membahagiakan.

Dalam bacaan Injil kemarin, Yesus memuji iman perwira yang mengasihi dan peduli pada bawahannya, dan hari ini Yesus bergembira dalam Roh Kudus dalam ucapan syukur dan bahagia. Yesus bergembira! Ya Yesus bergembira, tetapi di dalam Roh Kudus.

Hari ini Yesus bersyukur bukan karena memiliki murid-murid yang bijak dan pandai tetapi karena Yesus memiliki murid-murid dari orang-orang kecil dan sederhana. Di dalam kesederhanaannya, mereka hanya mengandalkan Tuhan, maka mereka berhasil dalam perutusannya. Para murid ini tidak dipilih Yesus dari antara para orang bijak dan pandai tetapi orang-orang kecil, yakni para nelayan, pemungut cukai, orang-orang berdosa yang menurut mata dunia tidak layak. Mengapa? Orang pandai biasanya sudah penuh dengan pemikiran-pemikirian mereka sendiri, mereka merasa lebih tahu segalanya, dan orang bijak terlalu banyak pertimbangan, menghadapi orang seperti ini Tuhan bisa buat apa? Berbeda dengan orang kecil, mereka adalah orang-orang sederhana yang percaya pada penyelenggaraan Ilahi, memasrahkan seluruh hidup dan pekerjaannya pada Tuhan. Menghadapi orang-orang sederhana seperti ini, Tuhan akan memberkati mereka dengan rahmat yang melimpah. Hingga pada akhirnya orang-orang yang kecil dan sederhana inilah yang mampu melihat, mengenal dan memahami Yesus beserta semua kehendak-Nya.

Hari ini kita mau belajar dari Yesus bagaimana memberi apresiasi dan dukungan bagi orang-orang di sekitar kita, dan bersyukur bukan hanya atas kesuksesan tetapi juga kesulitan. Karena justru dalam kesulitanlah kita semakin bertumbuh dan berkembang. Hanya orang-orang yang pernah sakit yang mampu memahami apa itu kesehatan. Hanya orang-orang yang merasa sendirian dan tak dianggap yang mampu memahami apa itu kebersamaan dan pengakuan. Sehingga dari pengalaman dan perjumpaan dengan orang-orang kita mampu membuat litani syukur dengan sangat banyak.

Mari melihat segala pengalaman pahit dan tidak menyenangkan sebagai berkat yang meneguhkan dan mendewasakan dengan melanjutkan litani syukur ini selama masa adven, agar kita semakin melihat betapa melimpah kasih Allah dalam hidup kita.

  1. Aku bersyukur ya Tuhan kau membuat aku kecewa, dengan demikian aku mampu memberi pengharapan pada orang-orang yang kujumpai.
  2. Aku bersyukur ya Tuhan hari ini aku cekcok dengan suami/istriku, dengan demikian aku semakin memahami pribadinya.
  3. Aku bersyukur ya Tuhan karena aku dibenci, dengan demikian aku belajar untuk mengampuni.
  4. Aku bersyukur ya Tuhan hari ini aku di kritik orang, dengan demikian aku bisa lebih baik lagi dari hari kemarin.
  5. Aku bersyukur ya Tuhan nilai ulanganku jelek, dengan demikian aku akan berusaha untuk belajar dengan lebih giat lagi.
  6. Aku bersyukur ya Tuhan……

Tuhan, beri aku kerendahan hati untuk bisa mengapresiasi keberhasilan orang lain dan juga akan hal-hal baik yang mereka lakukan.

Kredit Foto: https://www.google.co.id/

Tags

Sr. Erlisda Tamba, FdCC

Berkarya di Bintaro-Tangerang Selatan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 3 =

Close