OPINI

Dua Tokoh

Dua Tokoh

Dua Tokoh

*Trias Kuncahyono

Menyaksikan di layar kaca televisi, dua tokoh besar—pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Syeh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyed—berpelukan seperti melihat dunia baru dengan matahari baru. Semua serba terang benderang.

Memang, bukan kali ini kedua pemimpin itu bertemu. Ini pertemuan yang kelima kali. Tetapi, pertemuan kali ini sangat penting: pertemuan berlangsung saat Paus mengunjungi Jazirah Arab—ini untuk kali pertama seorang Paus mengunjungi negara di Jazirah Arab–, dan terjadi saat Uni Emirat Arab mencanangkan tahun 2019 ini sebagai Tahun Toleransi.

Bulan Mei 2016, mereka bertemu di Vatikan. Mereka bertemu, berpelukan, diskusi dan berdialog. Ketika itu, Paus mengatakan kepada Imam Besar Al-Azhar, “Pertemuan ini adalah sebuah pesan.” Pertemuan keduanya di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, juga “sebuah pesan.” Pesan seperti yang dahulu kala, hampir lima abad silam pernah dikemukakan oleh  oleh John Donne (1572-1631).

Penyair besar dan salah seorang penulis prosa terbesar Inggris itu menyatakan, “Tidak seorang pun sepenuhnya berdiri sendiri laksana sebuah pulau yang terpisah.” Dalam bahasa lain, dramawan dan produser film asal Inggris, John James Osborne (1929-1994) dalam puisinya Flowers In God’s Garden menulis, “We all are florwers in God’s Garden,” kita semua adalah bunga di kebun Tuhan.

Ungkapan-ungkapan tersebut secara jelas mengingatkan kepada kita semua, bahwa umat manusia—apa pun agamanya—harus hidup berdampingan secara damai, bagaikan bunga yang aneka rupa warnanya bermekaran di taman Tuhan. Begitu indah.

Dalam bahasa lain, Andrea Angel Bocelli dan Celine Maria Claudette Dion meneriakkan begini dalam lagu “The Prayer”: “Sognamo un mondo senza piu violenza/Un mondo di giustizia e di speranza/Ognuno dia la mano al suo vicino, simbolo di pace e di fraternita (Kita memimpikan suatu dunia yang bebas dari kekerasan. Dunia dengan keadilan dan harapan. Setiap orang hendaknya mengeluarkan tangan kepada sesamanya, tanda perdamaian dan persaudaraan).”

Persaudaraan yang indah itu ditunjukkan oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Syeh Ath-Thayyed di Abu Dhabi. Keduanya menandatangani dokumen bersejarah, yakni “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama.”

Dokumen itu mendorong seluruh pemimpin dunia untuk bekerja sama dalam menyebarkan budaya toleransi, mencegah pertumpahan darah, dan menghentikan peperangan. Dalam dokumen itu juga dicantumkan kecaman terhadap pihak-pihak yang menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan aksi-aksi kekerasan, radikalisme, atau terrorisme.

Benar, tidak ada kelangsungan hidup tanpa etika dunia. Tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian di antara agama-agama. Tidak ada kedamaian di antara agama-agama tanpa dialog di antara agama-agama (Hans Kung).

Sebab, perdamaian, seperti dikatakan Augustinus dari Hippo (354-430) adalah situasi ketika pada akhirnya kebenaran akan kemanusiaan sejati dihargai. Perdamaian dengan demikian adalah hadirnya kehidupan bersama yang harmonis di tengah masyarakat yang dikelola berdasarkan prinsip keadilan sehingga tiap pribadi dapat mewujudkan dambaannya akan kebaikan, baik pribadi maupun bersama.

Alangkah indahnya kalau kita semua mengubah kebencian menjadi cinta, balas dendam menjadi pengampunan, perang menjadi damai. Dan, pada akhirnya, kita semua akan melihat serigala tinggal bersama dombadan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.

Apakah semua itu hanyalah mimpi? Tentu tidak. Sulit diwujudkan? Memang. Apalagi kalau, misalnya, dicampuradukkan antara urusan agama dan urusan politik; urusan yang berdimensi agama dan berdimensi politik. Banyak tersedia contoh pada masa lalu, dan juga masa kini di sini, pencapuradukan antara urusan agama dan politi. Hasilnya, ketidakharmonisan dalam masyarakat, bahkan di banyak negara menimbulkan peperangan.

Akan tetapi, manusia seperti tidak pernah belajar dari sejarah. Kini, bahkan menggunakan agama untuk kepentingan politik. Ibarat kata, agama digunakan sebagai “tangga” untuk menaik ke kursi kekuasaan, untuk mewujudkan impian  politik meraih kekuasaan.

Kalau agama atau sekurang-kurangnya perkara yang berdimensi agama ditanggungkan pada ranah politik, yang terjadi adalah rusaknya toleransi antaragama. Toleransi, sebuah kata yang sangat akrab di telinga kita. Tetapi, yang dari waktu ke waktu terasa makin mengalami “deficit” makna. Mengapa? Sebab, tidak jarang atas nama toleransi dimainkan dan ditanggungkan untuk kepentingan politik.

Bila sudah demikian, maka anyaman keindahan toleransi akan robek-robek, rusak. Tidak ada lagi keindahan. Ibarat kata, pelangi tampak indah, karena merupakan perpaduan aneka warna. Akankah pelangi indah kalau hanya satu warna? Tidak! Ia indah karena banyak warna berpadu menjadi satu. Bahkan, tidak ada satu warna pun yang berusaha untuk menjadi dominan, mendominasi, mengalahkan yang lain. Itulah, sebenarnya, bhinneka tunggal ika. Itulah, keragaman yang merupakan anugerah tak kira dari Hyang Kuasa.

Pada ketika itu, ketika anyaman toleransi sudah robek-robek, maka wajah agama yang semestinya memberikan kesejukan, ketentraman, kedamaian, memberikan harapan hidup, tempat berlindung yang memberikan kenyamanan, tempat di mana senyum bisa mengambang, berubah menjadi garang, menakutkan, bahkan menebarkan ketidaktentraman serta kematian.

Banyak negara sudah mengalami seperti itu. Tentu, kita tidak ingin terjerumus ke dalam lembah kekelaman. Semestinya, perbedaan di antara kita—entah itu suku, agama, rasa, budaya, etnik, bahasa, dan sebagainya termasuk perbedakan ideologi dan politik–sesama anak bangsa, dirayakan sebagai sebuah kekayaan yang tidak dimiliki bangsa lain. Kecuali memang, ingin mencari keuntungan diri dan kelompoknya lewat perbedaan.

Tetapi,  lihatnya di Abu Dhabi, dua tokoh besar berpelukan untuk menegaskan bahwa “kita bersaudara.” Bukankah misi suci agama adalah “membuat umat manusia bahagia di mana-mana” laksana melihat Matahari pagi muncul di ufuk timur. ***

Tags

Trias

Trias Kuncahyono adalah mantan wartawan Kompas, kelahiran Yogyakarta, 11 Juni 1958. Ia menyelesaikan studinya di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada tahun 1983.

Related Articles

Check Also

Close
error: Silakan share link berita ini
Close